Suara.com - Alfian Tanjung, penceramah kontroversial, akhirnya ditetapkan Polda Metro Jaya sebagai tersangka kasus penyebaran ujaran kebencian di media sosial, Selasa (30/5/2017).
Kasus ini berawal dari cuitan Alfian di akun Twitternya yang menyebut sebagian Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan merupakan kader Partai Komunis Indonesia (PKI).
“Krimsus Polda Metro Jaya sudah menetapkan Alfian Tanjung sebagai tersangka terkait kasus hate speech. Dia dilaporkan Tanda Perdamaian Nasution dari PDIP," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Selasa.
Meski telah ditetapkan tersangka, polisi belum melakukan penahanan terhadap Alfian. Polisi juga akan memanggil Alfian untuk dimintai keterangan sebagai tersangka, Rabu (3/1/5/2017) besok
Namun, di media sosial, Alfian Tanjung diduga tak hanya menuduh kader PDIP sebagai komunis, bahkan Jokowi juga tidak lepas dari tuduhannya.
Video tersebut viral di media sosial, dan mendapat kecaman dari warganet. Pasalnya, dalam video diduga Alfian tersebut, Jokowi dituduh komunis gara-gara menetapkan Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni sebagai hari libur.
Berikut transkrip pembicaraan di video yang viral tersebut, yang beberapa kalimat dipotong oleh Redaksi Suara.com. Kalimat yang dipotong itu kami anggap terlalu vulgar dan bertendensi mendiskriminasikan segolongan masyarakat Indonesia:
“…Termasuk KJP (Kartu Jakarta Pintar), segala macam, pajaknya luar biasa. Pajak ini telah membuat masyarakat pribumi tergusur. Ini sebenarnya awalnya, otaknya itu Jokowi.
Jokowi itu benih-benih ‘sepihaknya’ masih ada. Itu watak PKI yang suka aksi sepihak. Mau bukti, libur 1 Juni, itu adalah Pancasilanya PKI.
Baca Juga: Waspada! Peretas Sembunyikan Virus dalam File Subtitle Film
Kapan dibahasnya? dibahas dengan siapa? Gak boleh dong, negara ini bukan negara pribadi, bukan negara punya kamu jokowi, negara kita.
Tahu-tahu 1 juni libur. Mau tau Pancasilanya? Itu Pancasilanya ketuhanan di nomor lima, itu adalah Pancasilanya Marxis.
Tapi apa? Sudah libur, yang nentukan presiden, sepihak. Sikap aksi sepihak itu watak kader komunis. Gak mau musyawarah, seenak perutnya saja.
Negara memang bukan…semua, tapi…kan mayoritas. Masak hanya mengakomodir minoritas, mayoritas dianggap tak ada. Harus dia diberhentikan jadi presiden kalau begitu.”
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional
-
33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi
-
Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia
-
Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF
-
Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan
-
Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China
-
Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah
-
Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP
-
Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun
-
Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara