Suara.com - Republik Rakyat Donetsk (RRD), organisasi sekaligus wilayah pemberontak di Ukraina, memproklamasikan pendirian negara baru yang diberi nama Malorossiya. Negara baru tersebut dideklarasikan untuk menggantikan Ukraina.
Proklamasi tersebut, seperti dilansir Sputnik, Selasa (18/7/2017), dibacakan langsung oleh pemimpin tertinggi RRD Aexander Zakharchenko. RRD sendiri adalah organisasi pemberontak yang pro-Rusia.
“Kami dengan ini menyatakan pendirian negara Malorossiya. Dengan proklamasi ini juga, Malorossiya adalah negara muda yang independen,” tegas Zakharchenko.
Ia mengatakan, proklamasi itu juga merupakan bentuk eliminisi atau tak lagi mengakui Ukraina yang kekinian dikuasai kelompok “Kanan” sebagai negara berdaulat.
Karenanya, segala urusan pemerintahan, ekonomi, sosial dan kebudayaan warga Ukraina akan ditransisikan kepada negara Malorossiya yang berarti “Rusia Kecil” selama tiga tahun ke depan.
“Pendirian Malorossiya juga merupakan solusi untuk mengakhiri konflik dan perang sipil di Ukraina. Ini juga solusi bagi negara Ukraina yang dikuasai kelompok-kelompok Neo-Fasis/Neo-Nazi gagal. Kami meminta seluruh warga internasional mendukung negara baru Malorossiya,” pintanya.
Nantinya, kata dia, ibu kota negara Malorossiya adalah kota Donetsk. Sementara Kiev, ibu kota Ukraina, akan diposisikan sebagai kota sejarah budaya.
“Kami yakin negara baru ini akan segera mendapat pengakuan dari seluruh rakyat dan warga dunia. Sebab, kami kekinian sudah didukung oleh rakyat dari 19 daerah besar Ukraina,” terangnya.
Proklamasi Malorossiya itu dikecam oleh Presiden Ukraina Petro Poroshenko. Ia juga bertekad akan kembali merebut wilayah-wilayah yang dikuasai kaum pemberontak.
Baca Juga: Pansus Angket KPK Jalan Terus Meski Ketua DPR Tersangka Korupsi
“Kami akan memulihkan keadaan seperti sedia kala. Tak ada satu pun daerah yang boleh memproklamasikan negara baru yang nanti pasti gagal,” tegasnya.
Sementara Presiden Rusia Vladimir Putin dan pejabat tinggi lainnya belum berkomentar mengenai proklamasi tersebut.
Untuk diketahui, rezim kanan Ukraina berhasil melakukan kudeta dan naik ke tampuk kekuasaan sejak 2014. Sejak itulah banyak kelompok rakyat menyatakan memberontak dan melakukan perlawanan bersenjata. Hingga kekinian, jumlah korban jiwa dalam perang sipil itu mencapai 10.000 orang.
Berita Terkait
Terpopuler
- 63 Kode Redeem FF Terbaru 21 Januari: Ada Groza Yuji Itadori, MP40, dan Item Jujutsu
- 5 Motor Bekas 6 Jutaan Cocok untuk Touring dan Kuat Nanjak, Ada Vixion!
- 36 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 22 Januari: Klaim TOTY 115-117, Voucher, dan Gems
- Toyota Vios Bekas Tahun Muda Pajaknya Berapa? Simak Juga Harga dan Spesifikasi Umumnya
- Mobil 7 Seater dengan Harga Mirip Mitsubishi Destinator, Mana yang Paling Bertenaga?
Pilihan
-
Harga Emas Bisa Tembus Rp168 Juta
-
Fit and Proper Test BI: Solikin M Juhro Ungkap Alasan Kredit Loyo Meski Purbaya Banjiri Likuiditas
-
Dompet Kelas Menengah Makin Memprihatinkan, Mengapa Kondisi Ekonomi Tak Seindah yang Diucapkan?
-
5 Rekomendasi HP Rp1 Jutaan RAM 8 GB Terbaik Januari 2026, Handal untuk Gaming dan Multitasking
-
Harda Kiswaya Jadi Saksi di Sidang Perkara Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
Aksi Mogok Pedagang Daging Sapi Tak Goyahkan Pedagang Bakso
-
Bela Istri dari Jambret, Suami di Sleman Jadi Tersangka: Pakar Ungkap Titik Kritis Pembuktiannya
-
Istana Tak Masalah Perusahaan yang Izinnya Dicabut Masih Beroperasi di Sumatra, Ini Alasannya
-
Pengakuan Dito Ariotedjo Usai Diperiksa KPK: Saya Tak Ada di Lokasi Saat Rumah Mertua Digeledah
-
KPK: Bupati Pati Sudewo Berpotensi Raup Rp 50 Miliar Jika Pemerasan Terjadi di Seluruh Kecamatan
-
KPK Geledah DPMPTSP Madiun, Uang Ratusan Juta Disita Usai OTT Wali Kota Maidi
-
Update Banjir Jakarta hingga Jumat Malam: 114 RT Masih Terendam
-
Bukan Pengganti PBB, Board of Peace Jadi Strategi Indonesia Dukung Kemerdekaan Palestina
-
Tuntaskan Kunjungan di Swiss, Prabowo Lanjut Bertemu Macron di Paris
-
Kasatgas Tito Dorong Pembukaan Akses dan Penataan Hunian Pascabencana di Aceh Timur