Sabu yang disita dari kapal penyelendup 1 ton Sabu di Anyer, Serang, Banten. [Antara]
Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Komisaris Besar Nico Afinta mengatakan jaringan peredaran sabu satu ton dari Guangzhou sistem sel terputus untuk membuat aparat sulit melacak pengendalinya.
"Tentunya ada pemesan, tapi itu akan kami dalami. Mereka pakai sel terputus. Antara pemilik barang dengan pengangkut dengan penerima yang mengendalikan ada di luar. Jadi satu sama lain tidak mengenal," kata Nico di Polda Metro Jaya, Kamis (20/7/2017).
Lima anak buah kapal Wanderlust yang mengantarkan sabut seberat satu ton ke Serang, Banten, sama sekali tak mengenal siapa pemilik dan pemesan.
"Jadi antara awak kapal, penerima di Serang dan yang akan menerima di Jakarta yang mengendalikan di luar negeri. Masing-masing pun tidak mengenal. Ini sel terputus, tapi dikendalikan dari luar," kata Nico.
Begitu juga empat warga Taiwan yang menerima sabu dari kapal Wanderlust. Mereka tidak mengenal kelima ABK.
"Hanya menerima barang dulu dulu, setelah itu nanti dikirimkan ke siapa menerima informasi lebih lanjut," kata dia.
Kasus penyelundupan sabu senilai sekitar Rp1,5 triliun terungkap setelah polisi menangkap empat warga Taiwan di Serang, Banten, pada Kamis (13/7/2017), dini hari, satu di antaranya mati ditembak polisi karena melawan.
Setelah itu, polisi menangkap lima ABK berinisial TCH, SCF, KCY, KCH, dan JJS.
Kedelapan tersangka yang ditangkap hidup-hidup dikenakan Pasal 113 ayat (2) subsider Pasal 114 ayat (2) subsider Pasal 112 ayat (2) Undang Undang RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman maksimal penjara seumur hidup.
"Tentunya ada pemesan, tapi itu akan kami dalami. Mereka pakai sel terputus. Antara pemilik barang dengan pengangkut dengan penerima yang mengendalikan ada di luar. Jadi satu sama lain tidak mengenal," kata Nico di Polda Metro Jaya, Kamis (20/7/2017).
Lima anak buah kapal Wanderlust yang mengantarkan sabut seberat satu ton ke Serang, Banten, sama sekali tak mengenal siapa pemilik dan pemesan.
"Jadi antara awak kapal, penerima di Serang dan yang akan menerima di Jakarta yang mengendalikan di luar negeri. Masing-masing pun tidak mengenal. Ini sel terputus, tapi dikendalikan dari luar," kata Nico.
Begitu juga empat warga Taiwan yang menerima sabu dari kapal Wanderlust. Mereka tidak mengenal kelima ABK.
"Hanya menerima barang dulu dulu, setelah itu nanti dikirimkan ke siapa menerima informasi lebih lanjut," kata dia.
Kasus penyelundupan sabu senilai sekitar Rp1,5 triliun terungkap setelah polisi menangkap empat warga Taiwan di Serang, Banten, pada Kamis (13/7/2017), dini hari, satu di antaranya mati ditembak polisi karena melawan.
Setelah itu, polisi menangkap lima ABK berinisial TCH, SCF, KCY, KCH, dan JJS.
Kedelapan tersangka yang ditangkap hidup-hidup dikenakan Pasal 113 ayat (2) subsider Pasal 114 ayat (2) subsider Pasal 112 ayat (2) Undang Undang RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman maksimal penjara seumur hidup.
Tag
Komentar
Berita Terkait
-
Kapal Tanzania MV Ocean Porter Tertangkap di Riau, Angkut 2,6 Ton Sabu Cair dan Rokok China
-
Satu Polisi Terluka Diserang Loyalis Bos Gendut saat Gerebek Narkoba di Kampung Bahari
-
Berkedok Ekspedisi Gadungan, Polisi Gagalkan Peredaran Sabu di Jakarta Pusat
-
Selain Indonesia, Singapura Jadi Sasaran Warga Malaysia Selundupkan Ganja dan Sabu
-
Kata-kata Polisi Malaysia soal Warganya Naik Batik Air Selundupkan Sabu dari KL ke Surabaya
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Api di Way Kambas Berhasil Dipadamkan, Kemenhut Pastikan Kondisi Gajah Sumatra Aman
-
Review BukuMelihat Diri Sendiri: Belajar Bercermin Sebelum Sibuk Menilai Orang Lain
-
Cara Membedakan Kalkulator Casio Asli dan Palsu, Jangan Salah Beli!
-
Tiket Solo Run Fest 2026 Diskon 20 Persen via BRImo, Cek Cara Klaimnya
-
Ongkos Sebuah Kegagalan: Mengapa Orang Dewasa Sulit Mencoba Hal Baru?
-
Lewat wondrX 2026, BNI Perkuat Kedekatan Penggemar dengan Para Bintang Bulu Tangkis
-
Apakah Tinted Sunscreen Wajib Diset Pakai Bedak Tabur? Pahami Dulu 5 Hal Ini
-
Pemadaman Karhutla di Pelalawan Terhambat Angin Kencang dan Asap Pekat
-
Pedro Acosta Tak Takut pada Marc Marquez, Persaingan di Ducati Bakal Panas?
-
Tekan Stunting di Maluku Utara, Edukasi Gizi Diperkuat hingga Tingkat Keluarga