Suara.com - Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi tengah mendapat sorotan negatif dari dunia internasional, lantaran bersikap bungkam dan cenderung membiarkan genosida terhadap etnis Rohingya di negerinya.
Bahkan, Sydney Morning Herald (SMH), media massa berpengaruh di Australia, menurunkan artikel pada laman daringnya, Sabtu (2/9/2017), bahwa terkuncinya mulut Suu Kyi adalah pengkhianatan terhadap penghargaan Nobel Perdamaian. Suu Kyi pernah mendapat medali Nobel Perdamaian tahun 1991.
Ratusan warga sipil dibunuh, termasuk anak-anak. Desa-desa dibakar hingga rata dengan tanah. Puluhan ribu warga yang putus asa mencoba melarikan diri bersama anak-anak, di tengah kabar pembunuhan massal etnis Rohingya yang terus bergema.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Gutteres sebenarnya sudah memperingat adanya "humanitarian catastrophe", malapetaka kemanusiaan di wilayah Rakhine, Myanmar.
"Semua itu tidak terjadi di negeri yang dikuasai diktator. Ini terjadi di Myanmar, anggota ASEAN, yang pemimpin de factonya adalah Aung San Suu Kyi, peraih Nobel Perdamaian 1991 untuk perjuangan tanpa kekerasan demi demokrasi dan HAM," tulis jurnalis SMH, Lindsay Murdoch, dalam artikel berjudul "Myanmar crisis a 'human catastrophe' that betrays Suu Kyi's Nobel prize."
Selain Nobel Perdamaian, Suu Kyi juga pernah mendapat penghargaan yang sama atas perjuangannya dari Australian National University (ANU) tahun 2013.
Bahkan, dalam penganugerahan gelarnya, Rektor ANU Gareth Evans menyebut Suu Kyi sebagai "contoh keberanian dan tekad yang tenang dalam menghadapi penindasan serta pioner jalan damai menuju dunia yang lebih baik dan adil."
"Tapi, pemerintahan Suu Kyi sejak pekan kemarin, menolak masuk pekerja-pekerja kemanusiaan internasional, dan menolak petugas PBB untuk menolong Rohingya. Dia justru menuduh semuanya membantu teroris Islam yang menyerang 30 polisi Myanmar pada 27 Agustus," demikian dalam artikel SMH.
Petugas tinggi untuk HAM PBB, Zeid Raad al-Hussein, sudah membantah pernyataan Suu Kyi mengenai keberadaan teroris Islam di antara wara Rohingya.
Baca Juga: Tekad Melanie Subono saat Hadiri Sidang PBB tentang Buruh Migran
Murdoch dalam artikelnya lantas mengkritik secara tajam sikap Suu Kyi mengenai persoalan Rohingya.
"Suu Kyi menolak mengomentari bahwa ada 1,1 juta jiwa Rohingya yang tak diakui sebagai warga negara Myanmar. Dia mungkin tak mengontrol militer, tapi sebagai pemimpin, ia bisa melindungi Rohingya dari pembunuhan."
Sebaliknya, Suu Kyi justru menunjukkan sikap yang memusuhi etnis Rohingya, dengan menolak campur tangan PBB serta negara-negara ASEAN lain untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
"Mungkin, ini adalah waktu yang terbaik bagi Suu Kyi untuk mengembalikan medali Nobel Perdamaiannya," simpul Murdoch dalam artikelnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Bank Sumsel Babel Tebar Promo HUT RI, Jajan Cukup Bayar Rp1.945 dengan QRIS BSB Mobile
-
Cashback Jadi Andalan Luna Maya Saat Belanja, Sudah Kumpulkan Hingga Rp 1,6 Juta
-
Bank Sumsel Babel Perluas Layanan, 624 Prajurit Yonif TP 893 Kini Punya Akses Perbankan
-
Dari Sekolah hingga UMKM, Internet Mengubah Kehidupan Warga di Daerah 3T
-
Karhutla Sumsel Makin Sulit Dikendalikan, Hujan Buatan Terkendala Awan
-
Karhutla Sumsel Makin Sulit Dipadamkan, Sumber Air Mulai Jadi Masalah
-
Viral Tukang Cukur di Rancabungur Dimarahi Karena Belum Pasang Bendera, Ini Kata Camat
-
Bintang-bintang Legendaris Liga Inggris akan Saling Berhadapan di GBK, Catat Waktunya
-
Yenti Garnasih Bongkar Indikasi TPPU Febrie dan Luruskan Istilah Kriminalisasi
-
Polisi Temukan Bukti Permulaan, Kasus Kematian Sutrimo Naik ke Tahap Penyidikan Pidana