“Ini adalah masa lalu. Namun, kami siap untuk memperkuat hubungan sekarang, dan mencoba saling mendukung kerja sama yang baik antara Bosnia dan Kroasia,” lanjut dia.
Sementara itu, Perdana Menteri Kroasia Andrej Plenkovic menyampaikan duka cita kepada keluarga Praljak melalui konferensi pers di Ibu Kota Kroasia, Zagreb.
“Atas nama Pemerintah Republik Kroasia dan saya pribadi mengucapkan duka cita kepada keluarga Slobodan Praljak. Tindakannya, yang kita saksikan hari ini, adalah bukti dari ketidakadilan moral terhadap enam warga Kroasia dari Bosnia dan Herzegovina, dan masyarakat Kroasia pada umumnya. Kami juga merasa tidak puas dan menyesal mendengar putusan pengadilan kepada enam orang tersebut,” kata Plenkovic.
Putusan dibacakan
Masih pada hari Rabu, hakim melanjutkan pembacaan putusan final.
Enam orang terdakwa diputus bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan pelanggaran hukum di masa perang yang dilakukan ketika konflik Bosnia-Herzegovina terjadi di 1990-an.
Tidak ada perubahan putusan yang diberikan kepada para pemimpin militer dan politik Kroasia sejak pengadilan di 2013. Keenamnya divonis bersalah atas tuduhan yang sama dalam Konvensi Jenewa.
Keenamnya, pada 2013 juga didakwa atas penghancuran Old Bridge di Mostar, namun pada Rabu kemarin mereka dinyatakan tak bersalah atas kejadian itu.
Dewan Pengadilan Banding memutuskan bahwa Jembatan Mostar itu adalah sebuah “target militer” dan maka penghancurannya bukanlah tindak kriminal. Tapi vonis tak bersalah ini tak mengurangi total hukuman mereka.
Baca Juga: Mengapa Din Tak Mau Ikut Kumpul dengan Alumni 212 di Monas?
Dewan juga sekali lagi menegaskan bahwa presiden Kroasia di masa itu, Franjo Tudjman, berkoalisi dengan pasukan militer Kroasia saat masa perang Bosnia dan melakukan “usaha kriminal bersama”.
Dalam putusan pertama di 2013, Prlic dijatuhi 25 tahun penjara, Stojic, Praljak, dan Petkovic dijatuhi 20 tahun masa tahanan, Coric divonis 16 tahun, dan Pusic hingga 10 tahun bui.
Dakwaan pertama atas Prlic dan yang lainnya disusun pada 2004, dan direvisi pada 2008. Keenam warga Kroasia itu, atas kesadaran sendiri, menyerahkan diri ke Pengadilan Den Haag pada 2004.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
4 Kulkas dengan Fitur Pembeku Cepat, Bikin Es Batu dan Makanan Beku Lebih Praktis
-
Rudal Iran Hancurkan Perusahaan China di Kuwait, 1 Orang Tewas
-
Detik-detik Perlawanan Sengit Korban Gagalkan Aksi Pelecehan Seksual di Kebun Karet Sukabumi
-
5 Pilihan Sunscreen untuk Motoran Sesuai Review: Tahan Keringat dan Tak Bikin Kusam
-
Selamat Tinggal BBM? Prabowo Ingin Semua Kendaraan di Indonesia Berbasis Listrik
-
Ulasan Buku Cukup Jadi Kamu, Seni Menghargai Diri Tanpa Pengakuan Orang Lain
-
61 Ribu Siswa Jakarta Belum Nikmati Sekolah Gratis
-
ASUS ExpertBook Ultra: Laptop Profesional dengan Mobilitas Tinggi dan Performa AI
-
Eks Satria Muda Gelar Liga Antar Akademi, Dorong Pembinaan Basket Usia Dini
-
Menerka Siasat Licik Vietnam Hentikan Mitchell Baker: Tekel Brutal atau Sikutan?