Suara.com - Wakil Ketua DPR Fadli Zon hadir dalam acara Reuni 212 di Lapangan Monas, Jakarta, Sabtu (2/12/2017). Dia pun diberikan kesempatan untuk memberikan sambutannya.
Dalam kesempatan itu, Fadli menegaskan bahwa aksi yang digelar hari ini dilindungi undang-undang. Sebab, dalam undang-undang dasar 1945, ada pasal yang mengatur bahwa setiap warga negara berhak untuk berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat.
"Saudara-saudara, kegiatan ini adalah kegiatan konstitusional, kegiatan yang dijamin oleh konstitusi kita, pasal 28 UUD 1945 bahwa setiap orang berhak untuk berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat," kata Fadli dalam sambutannya.
Apalagi, tambah dia, acara ini juga dilakukan untuk mempringati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, pemimpin umat Islam yang diakui di seluruh dunia, dan mempunyai pengaruh ke seluruh dunia, serta keteladanan yang tiada duanya.
Dalam kesempatan ini pula, Fadli menyinggung soal adanya ketakutan terhadap umat Islam ketika berkumpul. Menurutnya, ketakutan itu tidaklah berdasar. Kata Fadli, orang-orang yang menuding seperti itu tidak mengerti sejarah.
"Kalau ada yang selalu berprasangka buruk kepada Umat Islam di Indonesia, berarti orang itu tidak mengerti sejarah," kata dia.
"Kalau ada yang melarang ceramah, berarti orang itu tidak mengerti sejarah. Kalau ada yang melarang pengajian berarti orang itu tidak mengerti sejarah," ujarnya.
Fadli menerangkan, orang yang mengusulkan istilah Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Perdana Menteri Muhammad Nasir. Dia mengusulkan ide ini pada 1950, bukan 1945. Muhammad Nasir ini adalah tokoh umat Islam sekaligus pendiri Partai Mahsyumi.
"Jadi kalau masih curiga terhadap upaya-upaya menjatuhkan NKRI, pasti tidak ngerti sejarah. Betul? Karena itu belajarlah sejarah para pemimpin, para tokoh-tokoh, belajar sejarah bahwa umat islam punya saham yang besar untuk mendirikan NKRI," tuturnya.
Baca Juga: Dari Arab Saudi, Rizieq Singgung NKRI Bersyariah di Reuni 212
Kemudian, dia menambahkan, kalau umat islam juga tidak perlu dipertentangkan dengan Pancasila. Karena, umat Islam selalu membuktikan kebhinekaan, toleransi, teposeliro dan lainnya.
"Karena itu kegiatan-kegiatan yang menyangkut umat islam pasti damai. Dan tahun lalu sudah dibuktikan, di tempat ini, 212 dengan jumlah 7 juta manusia berjalan dengan tertib sepanjang Republik Indonesia tidak pernah berkumpul sampai 7 juta manusia di satu tempat. Itu menunjukan bahwa umat Islam bisa tertib, bisa damai dan tidak perlu ditakut-takutin, tidak perlu diancam, tidak perlu dikriminalisasi," ujarnya menuturkan.
Itu pula, yang kata Fadli bahwa umat Islam tidak bisa dikriminalisasi. Kalau pun terjadi, hal itu akan berbalik kepada yang melakukan kriminalisasi.
"Karena itu kita imbau hukum jangan mengabdi kepada kepentingan politikk apalagi penguasa. Kekuasaan pasti berganti, tidak ada kekuasaan yang permanen. Kalau keadilan tidak bisa ditegakan hari ini, pasti bisa ditegakan pada saat pergantian kekuasan itu," kata Politikus Gerindra ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
Ivar Jenner Gabung Dewa United! Sudah Terbang ke Indonesia
-
3 Emiten Lolos Pemotongan Kuota Batu Bara, Analis Prediksi Peluang Untung
-
CV Joint Lepas L8 Patah saat Pengujian: 'Definisi Nama Adalah Doa'
-
Ustaz JM Diduga Cabuli 4 Santriwati, Modus Setor Hafalan
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
Terkini
-
Respons Cepat Kemensos, Bantuan dan Dapur Umum Disiapkan untuk Korban Bencana di Tegal
-
Untar Hormati Keputusan Keluarga Lexi Valleno Havlenda, Tegaskan Komitmen Penyelesaian
-
Polisi Ungkap Pola Pelaku Tawuran di Jakarta: Saling Tantang di Medsos hingga Konsumsi Obat Keras
-
Fakta Baru! Siswa SMP Pelaku Molotov di Kalbar Satu Komunitas dengan Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta
-
Berkaca dari Ledakan SMAN 72 dan Molotov Kalbar, Pengamat: Monster Sesungguhnya Bukan Siswa
-
Di Balik Polemik: Mengapa Reformasi Polri di Bawah Presiden Dipilih Komisi III DPR?
-
Kemenag Pastikan Tunjangan Guru Lulusan PPG 2025 Cair Maret 2026 Jelang Lebaran
-
Bukan Sekadar Rusak! Misteri Galian Kabel Jadi Biang Kerok Jalan Margasatwa Raya Bolong Terus
-
Feri Amsari Curiga Banyak Kasus Korupsi Dimunculkan oleh Kekuasaan
-
Program Makan Bergizi Gratis Tuai Pujian UNICEF: Jangkau 60 Juta Orang, Sasar Masa Depan Papua