Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menjadi Panglima TNI disambut gembira oleh rekan-rekannya sesama angkata AKABRI 86. (suara.com/Bagus Santosa)
Wakil Ketua DPR dari Partai Gerindra Fadli Zon mengungkapkan tantangan besar yang bakal dihadapi Marsekal Hadi Tjahjanto setelah dilantik menjadi Panglima TNI.
"Kita lihat di Laut Cina Selatan, kemudian sparatisme dan berbagai isu-isu lain yang mungkin dilihat sebagai suatu ancaman konvensional, dan sekarang ini semakin banyak di era globalisasi, asimetris war, dan lain-lain," kata Fadli Zon di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (7/12/2017).
Tinggal selangkah lagi, Hadi dilantik menjadi Panglima TNI oleh Presiden Joko Widodo. Komisi I DPR telah menyetujui Hadi setelah fit and proper test, kemarin. Hari ini, akan dibahas dalam rapat paripurna.
"Kawan-kawan di Komisi I sudah menyetujui usulan (Presiden Joko Widodo) tersebut. Panglima TNI adalah orang teruji karena persyaratannya sudah banyak. Pernah menjadi kepala staf atau sedang menjabat. Proses yang dialami ketiga kepala staf sudah panjang, salah satu dari ketiga itu sudah baik," katanya.
Ketika ditanya kapan Hadi dilantik, Fadli mengatakan itu kewenangan Presiden Joko Widodo.
"Saya pikir itu hak dari pemerintah, tapi sebagaimana yang disampaikan oleh Pak Gatot (Nurmantyo), juga ingin ada proses yang cepat. Itu tidak ada masalah, artinya kalau dilakukan setelah ada persetujuan dari DPR itu tidak ada masalah," kata Fadli.
Dalam uji kelayakan dan kepatutan, Hadi mengatakan TNI harus bertransformasi menjadi institusi pertahanan yang profesional, modern, dan tangguh supaya bisa menjalankan tugas pertahanan-keamanan dengan baik.
"TNI perlu transformasi diri menjadi organisasi pertahanan negara yang profesional, modern, dan tangguh. Dan untuk menjadikan institusi tersebut sesuai semangat transformasi maka diperlukan payung hukum yang kuat," kata Hadi.
Transformasi itu, ia menjelaskan, perlu dilakukan karena perkembangan signifikan dalam teknologi informasi, komunikasi dan transportasi telah mengubah model interaksi paling hakiki antarmanusia dan antar-negara, yang telah menyebabkan perubahan besar yang memunculkan bentuk friksi dan konflik baru yang berbeda dari sebelumnya.
"Dari hal itu akan muncul fenomena baru yang dengan sendirinya mengubah perspektif ancaman pertahanan negara," ujarnya.
Hadi juga menyebut perlunya penyesuaian doktrin yang integratif; pembangunan sumber daya manusia berjiwa satria, militan dan profesional; serta dukungan kelengkapan alat utama sistem senjata (alutsista) yang modern untuk melaksanakan tugas dengan baik sesuai amanat konstitusi.
Dalam uji kelayakan yang diselenggarakan oleh DPR itu, dia juga memaparkan potensi-potensi ancaman terhadap pertahanan dan keamanan nasional serta kebutuhan untuk mengantisipasinya.
"Kita lihat di Laut Cina Selatan, kemudian sparatisme dan berbagai isu-isu lain yang mungkin dilihat sebagai suatu ancaman konvensional, dan sekarang ini semakin banyak di era globalisasi, asimetris war, dan lain-lain," kata Fadli Zon di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (7/12/2017).
Tinggal selangkah lagi, Hadi dilantik menjadi Panglima TNI oleh Presiden Joko Widodo. Komisi I DPR telah menyetujui Hadi setelah fit and proper test, kemarin. Hari ini, akan dibahas dalam rapat paripurna.
"Kawan-kawan di Komisi I sudah menyetujui usulan (Presiden Joko Widodo) tersebut. Panglima TNI adalah orang teruji karena persyaratannya sudah banyak. Pernah menjadi kepala staf atau sedang menjabat. Proses yang dialami ketiga kepala staf sudah panjang, salah satu dari ketiga itu sudah baik," katanya.
Ketika ditanya kapan Hadi dilantik, Fadli mengatakan itu kewenangan Presiden Joko Widodo.
"Saya pikir itu hak dari pemerintah, tapi sebagaimana yang disampaikan oleh Pak Gatot (Nurmantyo), juga ingin ada proses yang cepat. Itu tidak ada masalah, artinya kalau dilakukan setelah ada persetujuan dari DPR itu tidak ada masalah," kata Fadli.
Dalam uji kelayakan dan kepatutan, Hadi mengatakan TNI harus bertransformasi menjadi institusi pertahanan yang profesional, modern, dan tangguh supaya bisa menjalankan tugas pertahanan-keamanan dengan baik.
"TNI perlu transformasi diri menjadi organisasi pertahanan negara yang profesional, modern, dan tangguh. Dan untuk menjadikan institusi tersebut sesuai semangat transformasi maka diperlukan payung hukum yang kuat," kata Hadi.
Transformasi itu, ia menjelaskan, perlu dilakukan karena perkembangan signifikan dalam teknologi informasi, komunikasi dan transportasi telah mengubah model interaksi paling hakiki antarmanusia dan antar-negara, yang telah menyebabkan perubahan besar yang memunculkan bentuk friksi dan konflik baru yang berbeda dari sebelumnya.
"Dari hal itu akan muncul fenomena baru yang dengan sendirinya mengubah perspektif ancaman pertahanan negara," ujarnya.
Hadi juga menyebut perlunya penyesuaian doktrin yang integratif; pembangunan sumber daya manusia berjiwa satria, militan dan profesional; serta dukungan kelengkapan alat utama sistem senjata (alutsista) yang modern untuk melaksanakan tugas dengan baik sesuai amanat konstitusi.
Dalam uji kelayakan yang diselenggarakan oleh DPR itu, dia juga memaparkan potensi-potensi ancaman terhadap pertahanan dan keamanan nasional serta kebutuhan untuk mengantisipasinya.
Tag
Komentar
Berita Terkait
-
Bursa Calon Menko Polkam: Sjafrie, Hadi, Tito, hingga Dudung, Siapa Pilihan Prabowo Gantikan BG?
-
Teka-teki Calon Menko Polkam: Tiga Nama Kunci di Tangan Prabowo, Siapa Pengganti Budi Gunawan?
-
Hadi Tjahjanto Tak Percaya Marsma Fajar Adriyanto Gugur di Pesawat Latih: Jam Terbangnya Banyak
-
Pendidikan Hadi Tjahjanto dan Raja Juli Antoni, Eks Petinggi ATR/BPN Terseret Polemik Sertifikat Pagar Laut
-
Beda Jauh Selera Mobil AHY vs Hadi Tjahjanto, Eks Menteri ATR Kompak Balik Badan soal HGB Pagar Laut?
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Bisik-bisik Trump Saat Salaman Erat dengan Xi Jinping, Pakar Etika Bilang Begini
-
Hantavirus Strain Andes Bisa Menular Antar Manusia, Tapi Harus Kontak Erat dan Lama
-
Pesan Xi Jinping Saat Bertemu Donald Trump, Singgung Hubungan China dan AS
-
Dinkes DKI Ungkap Penyebab Keracunan 252 Siswa Usai Santap MBG di 3 SDN Kawasan Cakung
-
Bukan Solusi! FSGI Sebut jika Final LCC 4 Pilar MPR Diulang Berdampak Psikis dan Berpotensi Digugat
-
Penjelasan Nadiem Soal Harta Naik Rp4,87 Triliun: Itu Nilai IPO GoTo, Bukan Korupsi Chromebook
-
Asteroid Terdeteksi Mendekat Sangat Cepat ke Arah Orbit Bumi, Jaraknya Lebih Dekat dari Bulan
-
Prostitusi Berkedok Karaoke di Jakbar Terbongkar, Ada Anak di Bawah Umur
-
Dokter Stephen Kornfeld Keluar Ruang Isolasi Biokontainer Meski Hasil Tes Hantavirus Meragukan
-
Momen Haru Nadiem Makarim Peluk Pasukan Ojol Usai Dituntut 18 Tahun Bui: Tuhan Tidak Diam