Suara.com - Sekretaris Dewan Kehormatan DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso mengklaim telah mendapat dukungan dari 30 persen suara sah untuk menjadi Ketua Umum Partai Golkar.
Priyo mengatakan saat ini dirinya menunggu dibukanya kesempatan bagi semua kader Golkar untuk mencalonkan diri sebagai Ketua Umum.
"30 persen (siap dukung). Sekarang saya sedang cari momentum, apa benar dibuka kemungkinan? Dibuka pintu bagi calon lain untuk di isi secara sehat," kata Priyo di Jakarta Convention Center, Jakarta Selatan, Senin (19/12/2017).
Sebesar 30 persen dari total suara sah yaitu sekitar 148 suara. Priyo mengklaim pendukungnya itu tingga menunggu aba-aba darinya.
"Iya sekitar itu (148). Insya Allah, kalau itu sah saya. Nunggu kode-kode dari saya, mereka sudah siap. Sekali lagi saya sedang melihat situasi terakhir bagaimana," ujar Priyo.
Menurut Priyo, mestinya forum Musyawarah Nasional Luar Biasa yang diselenggarakan hari ini hingga besok, membuka peluang bagi setiap kader yang berkeinginan maju sebagai Ketua Umum.
"Mestinya semua pihak akan mengedepankan itu (dibuka peluang), mestinya ya. Tapi ya saya ingin lihat suasana dulu bagaimana. Nggak mungkin juga saya membentur batu baja, kalau memang kenyatannya seperti apa nanti," tutur Priyo.
Priyo sendiri menyadari isu yang berkembang belakangan ini, semua DPD tingkat Provinsi sudah mengerut kepada calon tunggal Airlangga Hartarto. Namun, kata dia, bukan berarti kesempatan bagi kader lain ditutup rapat-rapat.
"Kita ingin membangun tradisi di Golkar. Kalah dan menang bukan segalanya bagi saya. Setidaknya saya ingin dicatat sebagai kader inti Golkar yang ingin meniupkan terompet bahwa perlu sistem dan cara yang kita bangun, cara khas Golkar yang coba kita tumbuhkan, demokratis, sehat, dan dilakukan dengan cara yang baik dalam berdemokrasi," kata Priyo.
Baca Juga: Ical Pasrahkan Struktur DPP Golkar Kepada Airlangga
Menurut Priyo, jika tidak ada yang menyuarakan perbaikan sistem di internal Golkar, maka tidak menutup kemungkinan partai berlambang pohon beringin akan runtuh.
"Dulu Golkar pernah lakukan itu, jaman baheula dulu, jaman pak Harto, apa-apa ketok palu, apa itu yang kita inginkan, apa nggak boleh orang yang punya nurani, tujuan mulia, niat menegakkan citra membangun demokrasi yang sehat diberi kesempatan, apa harus dibungkam hanya karena mungkin angin istana atau seterusnya, saya tidak tahu," kata Priyo.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Murah 3 Baris Under 1500cc tapi Jagoan Tanjakan: Irit Bensin dan Pajak Ramah Rakyat Jelata
- Promo Superindo 17 Maret 2026, Diskon sampai 50 Persen Buah, Minyak hingga Kue Lebaran
- Timur Tengah Memanas, Rencana Terbangkan Ribuan TNI ke Gaza Resmi Ditangguhkan
- 15 Tulisan Kata-kata Unik Mudik Lebaran, Lucu dan Relate untuk Anak Rantau
- Liburan Lebaran ke Luar Negeri Kini Lebih Praktis Tanpa Perlu Repot Tukar Uang
Pilihan
-
Hilal Tak Terlihat, Arab Saudi Tetapkan Idul Fitri 2026 Jatuh pada 20 Maret
-
Link Live Streaming Liverpool vs Galatasaray: Pantang Terpeleset The Reds!
-
Israel Klaim Tewaskan Menteri Intelijen Iran Esmaeil Khatib
-
Dipicu Korsleting Listrik, Kebakaran Kalideres Hanguskan 17 Bangunan
-
Bongkar Identitas dan Wajah Eksekutor Penyiram Air Keras Andrie Yunus, Polisi: Ini Bukan Hasil AI!
Terkini
-
Pemerintah Siapkan Jalan Tol Fungsional dan One Way Antisipasi Lonjakan Pemudik, Ini Rinciannya
-
Guru Besar Trisakti Nilai Penanganan Kasus Andrie Yunus Bukti Negara Tak Pandang Bulu
-
Hilal Tak Terlihat, Arab Saudi Tetapkan Idul Fitri 2026 Jatuh pada 20 Maret
-
Dugaan Operasi Mossad di Dalam Iran! Mata-mata Israel Ancam Seorang Komandan Militer
-
Diserang Rudal Iran? Kapal Induk USS Gerald Ford Kabur dari Medan Tempur, 200 Pelaut Jadi Korban
-
FSPI Apresiasi Langkah Cepat TNI Ungkap Pelaku Penyiraman Air Keras Andrie Yunus
-
Perang Besar di Depan Mata? AS Gelontorkan Rp3000 T Percepat Pembangunan Perisai Anti Rudal
-
Dentuman di Rakaat ke-16: Fakta-Fakta Ledakan Misterius yang Mengguncang Masjid Raya Pesona Jember
-
Kremlin Bantah Rusia Bantu Drone Iran Serang Pasukan Amerika Serikat
-
Beathor: Rismon Sianipar Kini 'Minta Dirangkul' dalam Polemik Ijazah Joko Widodo