News / Internasional
Senin, 01 Januari 2018 | 14:55 WIB
Seorang mahiswi mengepalkan tangan kirinya di tengah gas air mata di universitas Teheran, Sabtu (30/12/2017). [AFP]

Suara.com - Gelombang aksi anti-Presiden Iran Hassan Rouhani yang semakin membesar sejak Kamis (28/12/2017) pekan lalu, berbuah korban nyawa.

Sedikitnya dua demonstran anti-pemerintah tewas dalam aksi yang digelar di kota Dorud, Sabtu (30/12) malam pekan lalu.

Wakil Gubernur Provinsi Lorestan Habibollah Khojastepour mengatakan, sejumlah "agitator" tampil dalam aksi damai itu sehingga menyebabkan kerusuhan.

"Tapi perlu ditegaskan, penyebab tewasnya dua demonstran itu bukan disebabkan polisi maupun petugas keamanan melepaskan tembakan," tegas Khojastepour seperti dilansir Al Ajazeera.

Namun, Khojastepour tak bisa memberi penjelasan detail penyebab kematian dua orang demonstran tersebut.

Berita tentang kematian dua demonstran tersebut tersebar saat Menteri Dalam Negeri Abdolrahman Rahmani Fazli memperingatkan massa tidak melakukan aksi anarkistis.

"Siapa pun yang menghancurkan fasilitas publik, melanggar peraturan hukum harus mempertanggungjawabkan perbuatannya," tegas Abdolrahman dalam pidatonya yang disiarkan stasiun televisi nasional.

Baca Juga: Iran Dilanda Aksi Anti-Pemerintah, KBRI Teheran Imbau WNI Waspada

Sabtu akhir pekan lalu adalah hari ketiga demonstrasi besar-besaran digelar rakyat miskin Iran di berbagai daerah. Aksi itu menjadi yang terbesar dalam jumlah massa untuk satu dekade terakhir.

Aksi itu sendiri bermula dari protes-protes sporadis massa terhadap kondisi perekonomian yang anjlok akibat "perang harga" antara Iran dengan negara-negara Barat.

Demonstrasi lantas meluas dan tak terelakkan turut masuk ke ranah politik. Dua sayap politik dominan Iran, kubu konservatif maupun reformis, menjadi sasaran kemarahan massa.

Load More