“Saya rasa, saya percaya, dia tidak ingin melakukannya (mati sebagai pelaku bom bunuh diri). Ini tidak benar, untuk menyeret anak-anak ke dalam ini, ”kata Hery, terdiam ketika dia menundukkan kepalanya.
"Aku merasakan kehilangan yang mengerikan," tambah Hery lirih.
Hari itu berakhir, tetapi bukan teror. Malam itu pada pukul 21.20 WIB, sebuah bom yang dirakit oleh Anton Febrianto meledak secara prematur di rumahnya di Sidoarjo, kabupaten yang terletak dekat sekali dengan kota Surabaya.
Bom itu membunuh istrinya Puspitasari dan dua anak mereka, Hilta Aulia Rahman, (17), dan Ainur Rahman (15). Dua anak lainnya, Faisa Putri dan Garida Huda Akbar, masing-masing berusia 11 dan 10 tahun, selamat.
Pada Senin (14/5/2018), sebuah keluarga beranggotakan lima orang, yang mengendarai dua sepeda motor secara terpisah, menyerang sebuah kantor polisi di Surabaya. Serangan ini menewaskan empat anggota keluarga. Seorang anak berusia delapan tahun selamat.
Ketiga keluarga saling kenal, menurut Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian. Polri kemudian menyatakan bahwa Dita adalah kepala cabang negara pro-Islam (IS) Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya.
JAD didirikan oleh Aman Abdurrahman (46), yang merupakan ideolog Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang terkemuka di Indonesia. Dia saat ini sedang diadili atas perannya dalam serangan teror bom Thamrin 2016 di Jakarta.
Kengerian dua keluarga yang sekarat sebagai pelaku bom bunuh diri menimbulkan pertanyaan. Bagaimana seorang Dita menjadi radikal sampai pada titik terpelintir bahwa ia bersedia untuk mengajak keempat anaknya untuk mati?
Seorang pejabat kontra-terorisme senior mengatakan kepada Channel NewsAsia bahwa Dita adalah pengikut setia dari Aman Abdurrahman.
"Ia mengunjungi Aman beberapa kali di penjara dan telah lama mengikuti khotbahnya," kata pejabat itu.
Ketika ditanya di mana Dita mendapatkan ide untuk mengubah anak-anaknya menjadi pelaku bom bunuh diri, pejabat itu mengatakan: "Kami belum tahu tetapi mereka (Dita dan teman-temannya) sangat sering menyaksikan pemboman bunuh diri yang dilakukan oleh anak-anak."
"Sebagai pemimpin JAD Surabaya, Dita bisa mempengaruhi dua keluarga lainnya," kata pejabat tersebut.
Sementara Kapolri Tito secara resmi mengatakan bahwa Dita dan keluarganya tidak pergi ke Suriah. Menurutnya, situasi sebenarnya jauh lebih rumit.
"Kami tidak dapat benar-benar mengatakan apakah dia (Dita) pergi ke Suriah atau tidak karena kami telah mengalami kejadian di mana seseorang pergi ke Suriah dan kembali ke rumah tanpa terdeteksi," kata sumber keamanan kepada Channel NewsAsia.
Angka resmi menunjukkan ada 1.200 orang yang kembali dari Suriah dan banyak dari mereka tidak ditahan karena kelemahan dalam hukum anti-terorisme Indonesia 15/2003 yang tidak mencakup tindakan teror yang dilakukan di luar Indonesia.
Berita Terkait
-
Terpapar Radikalisme via Medsos, Dua Anak di Langkat Terlibat Kasus Terorisme
-
Muncul Wacana TNI Mau Ikut Berantas Teroris, Kapolri Sigit: Ada Batasan yang Harus Dijaga
-
Tiga Tahun Nihil Serangan Teror, Kapolri Waspadai Perekrutan 110 Anak Lewat Ruang Digital
-
Respons Istana soal Beredar Perpres Tugas TNI Atasi Terorisme
-
Densus 88 Antiteror Polri Sebut Remaja Jakarta Paling Banyak Terpapar Paham Radikal
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
Ivar Jenner Gabung Dewa United! Sudah Terbang ke Indonesia
-
3 Emiten Lolos Pemotongan Kuota Batu Bara, Analis Prediksi Peluang Untung
-
CV Joint Lepas L8 Patah saat Pengujian: 'Definisi Nama Adalah Doa'
-
Ustaz JM Diduga Cabuli 4 Santriwati, Modus Setor Hafalan
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
Terkini
-
FPIR Desak Menhan Fokus Pada Ancaman Nyata Kedaulatan Negara: Jangan Terseret Isu di Luar Tugas
-
Pemprov DKI Siapkan 20 Armada Transjabodetabek Blok M-Badara Soetta, Tarif Mulai dari Rp2.000
-
BMKG Rilis Peringatan Dini Hujan Lebat dan Angin Kencang Jabodetabek, Cek Rinciannya di Sini
-
Siswa SD yang Bunuh Diri di NTT Diduga Sempat Dimintai Uang Sekolah, Komisi X DPR: Pelanggaran Hukum
-
Warga Keluhkan TransJakarta Sering Telat, Pramono Anung Targetkan 10 Ribu Armada di 2029
-
Tragis! 5 Fakta Kasus KDRT Suami Bakar Istri di Padang Lawas Utara, Korban Disiram 1,5 Liter Bensin
-
Wali Kota Semarang Dorong UMKM Lokal Naik Kelas Lewat Produk Craft
-
6 Fakta Penemuan Ribuan Potongan Uang di Bekasi: Dari Lahan Milik Warga hingga Penelusuran BI
-
Respons Cepat Kemensos, Bantuan dan Dapur Umum Disiapkan untuk Korban Bencana di Tegal
-
Untar Hormati Keputusan Keluarga Lexi Valleno Havlenda, Tegaskan Komitmen Penyelesaian