Di ruang kelas lain, seorang pembuat bom berusia 16 tahun dan seorang pembom bunuh diri yang juga berusia 16 tahun, belajar bercampur dengan petarung jalanan, pencuri, dan pelacur anak-anak.
Anak-anak pelaku terorisme dianggap sebagai korban di sekolah tersebut. Identitas mereka dirahasiakan, bahkan dari teman sekelas mereka.
"Mereka akan dilihat oleh anak-anak lain sebagai anak yang bermasalah," kata kepala fasilitas tersebut, Neneng Haryani.
"Ini untuk memastikan keselamatan mereka ... anak-anak ini harus tumbuh seperti anak-anak lain, tidak berbeda."
Bangun Kepercayaan
Lokasi sekolah tersebut tetap dirahasiakan. Sejauh ini, 102 anak-anak teroris telah mengenyam pendidikan di sekolah rahasia tersebut. Sebagian besar dari mereka kekinian telah kembali ke lingkungannya masing-masing, setelah menjalani rehabilitasi.
"Yang paling penting di sini adalah proses membangun kepercayaan dengan mereka," kata Neneng.
"Dengan kepercayaan ini, mereka mulai membuka diri, menuangkan isi hati mereka dan mengungkapkan masalah mereka kepada pekerja sosial."
Setelah kepercayaan terbentuk, anak-anak didorong untuk mendengarkan musik, bermain gim dan berteman, kegiatan yang dulu ditolak oleh keluarga mereka.
Baca Juga: Kencan, Wanita Ini Jatuh dari Tebing Lalu Ditinggal Kekasihnya!
"Kami mengajarkan mereka fakta tentang Indonesia, yang terdiri dari banyak suku, banyak agama ... [dan itu] kami mengajarkan bahwa mereka harus bersikap toleran kepada orang lain, meskipun berbeda agama," kata Sri.
Neneng menjelaskan, mayoritas guru di sekolah rahasia itu adalah permepuan, sehingga anak-anak tersebut melihat mereka sebagai figur keibuan.
"Kita harus menciptakan suasana yang hidup. [Ajarkan mereka] untuk mencintai kehidupan dan pergi ke surga tidak berarti Anda harus bunuh diri," katanya.
Hanya dalam waktu dua bulan, program ini tampaknya berhasil diterapkan untuk Ayu.
"Ketika dia ditanya [apa yang diinginkannya] pertama kalinya, dia bilang dia ingin menjadi seorang martir," kata Sri.
"[Sekarang] dia ingin menjadi seorang guru."
Berita Terkait
Terpopuler
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Polisi Ungkap Kronologi-Motif Wanita Bunuh Diri Pakai Senpi di Medan
-
Korset dari Kuala Lumpur: Siasat Gagal WNA Malaysia Selundupkan Sabu Rp2,7 Miliar
-
OJK Blokir 36.735 Rekening, Mayoritas Terindikasi Judi Online
-
7 Ide Lomba 17 Agustus Lucu untuk Bapak-bapak dan Ibu-ibu
-
Narasi 'Antek Asing' Disebut Warisan Hendropriyono, Dipakai Untuk Delegitimasi Kritik Publik
-
Wamendagri Wiyagus Dorong Percepatan Desa dan Kelurahan Siaga TBC di Provinsi Riau
-
Momen Akrab Prabowo dan PM Anutin, Antar Sampai Tangga Pesawat
-
Menyaksikan Lahirnya Sebuah Peradaban dari Buku Bara di Atas Demak Bintara
-
War Tiket Upacara 17 Agustus di Istana Daftar di Mana? Ini Link dan Syarat yang Dibutuhkan
-
Bukan Akar Masalah! Pencopotan 137 Kepala Dapur SPPG Tak Perbaiki Program MBG