Suara.com - Anggota Dewan Pengarah Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo - Sandiaga, Fadli Zon menilai sejumlah pejabat tengah melancarkan modusnya di setiap forum untuk mengkampanyekan Capres dan Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) - Maruf Amin.
Hal itu disinggung Fadli Zon terkait dengan pernytaan Menristekdikti Mohamad Nasir yang sempat menyarankan mahasiswa untuk mencoblos satu dan tidak mencoblos dua.
Fadli mengatakan beberapa pejabat di era kepemimpinan Presiden Jokowi kini silih berganti melakukan kampanye terselubung di setiap forum. Meskipun tidak menyebut nama paslon secara gamblang, akan tetapi kebanyakan dari pejabat tersebut, kata Fadli, berpidato dengan mengarahkan untuk memilih salah satu paslon.
"Jelas itu adalah kampanye terselubung. Saya kira ini modus ya, modus dari sejumlah pejabat menggunakan forum-forum yang tidak seharusnya untuk kampanye terselubung," kata Fadli di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Kamis (21/2/2019).
Menurutnya fenomena itu tidak hanya dilakukan di setingkat menteri, namun sudah merajalela ke level pejabat hingga perangkat desa. Fadli menyebut hal tersebut dapat dibuktikan dengan beredarnya sejumlah video viral yang menunjukkan para pejabat terang-terangan mendukung Jokowi - Maruf Amin.
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra menyayangkan tidak adanya penindakan khusus dari pengawas pemilu ataupun aparat penegak hukum kepada orang-orang berstatus sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terang-terangan melakukan kampanye.
Fadli kemudian membandingkan dengan Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif yang ditetapkan sebagai tersangka pelanggaran pemilu. Ia yakin kalau Slamet tidak berkampanye dengan menyebutkan nama paslon.
"Kita ingin ada penegakan hukum dong kenapa kok kaya pak Slamet Maarif yang jelas-jelas bahkan tidak menyebut nama dan lain-lain itu, itu dikriminalisasi seperti ini," pungkasnya.
Sebelumnya Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengajak mahasiswa untuk tidak golput. Mahasiswa diminta gunakan hak pilih dalam Pemilu 17 April 2019 mendatang.
Baca Juga: Alasan Pakai VW Merah di Bali, Ahok: Warnanya Sesuai Partai Pilihan
Menristekdikti menjelaskan bahwa 2019 merupakan tahun politik dan diharapkan tidak membuat gaduh di lingkungan kampus.
Mahasiswa diminta jangan mudah terjebak dengan hoaks atau berita bohong dan harus bisa bedakan mana berita yang benar dan tidak benar. Kaum muda, kata dia, harus bisa merawat dan menjaga kebhinekaan dan mencegah jangan sampai hoaks menghancurkan kebangsaan.
"Karena itu, silakan Anda memilih dengan nurani saudara. Oleh karena itu, dalam hal ini jangan sampai dicoblos dua. Dicoblos dua, batal itu namanya nanti ya. Dicoblos hanya satu saja. Satu saja, jangan coblos dua. Satu saja supaya benar," katanya sedikit berkampanye.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Imigrasi Bakal Perluas Autogate hingga Perbatasan RI
-
Posisi Fleksibel PDIP Bikin Parpol Koalisi Pemerintah Gelisah
-
AMMSI Dukung BGN Sesuaian Operasional SPPG: Tak Ada Ruang Bagi Dapur Bermasalah
-
Konvoi Berubah Maut, Tiga Remaja Diciduk dalam Kasus Pengeroyokan di Depan Terminal Grogol
-
KPK Dalami Asal-Usul Aset Silmy Karim yang Disita dalam Kasus Izin Tinggal WNA
-
GKR Hemas Ajak Generasi Muda Bangun Kepemimpinan Berbasis Nilai Budaya
-
GERD Kambuh, Dokter Tifa Pakai Kursi Roda usai Pemeriksaan di RS Polri
-
Maraton Geledah Tiga Lokasi di Bali, KPK Amankan Barang Bukti Kasus Pemerasan WNA
-
Penyakit Bawaan Ditemukan Saat Pemeriksaan, Roy Suryo dan Dokter Tifa Dirawat di RS Polri
-
KPK Dalami Dugaan Penerimaan Uang Hasil Pemerasan WNA dalam Kasus Silmy Karim