Suara.com - Seorang dokter dihadirkan di Catatan Demokrasi Kita, Selasa (7/5/2019) kemarin, untuk membahas peristiwa kematian ratusan petugas KPPS. Ani Hasibuan, nama dokter tersebut, meragukan bahwa kelelahan menjadi penyebab kematian para petugas KPPS.
Dirinya tampak tak percaya akan banyaknya korban jiwa dari Pemilu 2019.
"Saya sebagai dokter dari awal itu sudah merasa lucu. Ini bencana pembantaian atau pemilu? Kok banyak amat yang meninggal? Pemilu kan happy-happy, mau dapat pemimpin barukah atau bagaimanya? Nyatanya meninggal," kata Ani Hasibuan.
Ia kemudian menjelaskan bahwa kondisi lelah tidak menyebabkan kematian, melainkan paling parah adalah pingsan.
Dia juga mengatakan, beban kerja petugas KPPS tidak menyebabkan kelelahan yang berlebihan. Menurutnya, bahkan para dokter yang sangat sibuk bekerja tidak ada yang meninggal.
"Kalau kita bicara fisiologi, kelelahan itu kan kaitannya dengan fisik. Kalau orang beraktivitas, dia pakai gula, metabolisme. Kalau habis, capek, dia hipoglekimia, dia lapar. Kalau enggak, oksigennya dipakai, dia hipoksia, dia ngantuk. Jadi orang capek itu, dia ngantuk, dia lapar. Kalau dipaksa, dia pingsan. Enggak mati dong," kata Ani Hasibuan.
"Dan saya melihat beban kerjanya. Ada di laporan saya. Saya sengaja tulis beban kerja KPPS itu apa aja sih. Ada tujuh orang satu TPS. Itu beban kerjanya saya enggak melihat ada fisik yang sangat capek. Yang saya tahu, yang paling capek tuh dokter yang lagi ambil spesialis, kerja tiga hari tiga malam, enggak ada yang mati, yang ada makin gendut," tambah Ani Hasibuan.
Kemudian dokter spesialis syaraf itu menjelaskan, kematian bisa saja terjadi jika korban sebelumnya telah mengidap penyakit, misalnya jantung.
"Kematian karena kelelahan, saya belum pernah ketemu, saya ini sudah 22 tahun jadi dokter. Belum pernah saya ketemu ada COD, cause of death, karena kelelahan. Kalau dia ada gangguan jantung di awal, okay, kemudian dia bekerja, fisiknya diforsir, kemudian sakit jantungnya terpicu, dia meninggal karena jantungnya dong, bukan karena kelelahannya," terangnya.
Baca Juga: Bantah Fahri Hamzah, KPU: 144 Petugas KPPS Meninggal Dunia di Pemilu 2014
Ani Hasibuan juga mengaku telah mengunjungi korban tewas dengan keluhan serupa. Mulanya kondisi ketiga korban sehat-sehat saja, tetapi kemudian meninggal setelah pelaksanaan pemungutan suara pada 17 April lalu.
"Saya kemarin di Jogja sempat mendatangi tiga korban yang meninggal, kurang lebih keluhannya sama. Awalnya sehat-sehat saja, enggak kenapa-kenapa. Satu hari setelah pemilu, ada yang sakit kepala, mual-mual, muntah-muntah, dua hari kemudian meninggal, katanya kecapekan," tutur Ani Hasibuan.
"Kemudian ada lagi satu, habis malamnya menempel-nempel sesuatu, paginya pulang, terus di rumah mengatakan sakit perut, masuk kamar mandi, setelah itu masuk kamar tidur, meninggal. Enggak sempat dibawa ke Rumah sakit," lanjutnya.
Berdasarkan penjelasan Ani Hasibuan, kelelahan akibat beban kerja yang berdampak ke psikis juga tidak bisa menyebabkan kematian, tetapi kemungkinan bisa menjadi pemicu kambuhnya atau makin parahnya penyakit yang sudah diderita korban sebelumnya.
"Pemicu mungkin, kalau dia punya penyakit. Katakanlah ada orang dengan tumor otak, tumornya kalem-kalem aja kan di situ, tapi beban kerjanya besar. Yah, mikir, psikis, ya sudah, jadi ada masalah dengan neurotransmitter, kita bilangnya, sehingga tumornya bertingkah. Dia meninggal karena itu, bukan karena capeknya," kata Ani Hasibuan.
Andromeda Mercury, sang presenter, lalu memberi pertanyaan untuk meminta klarifikasi yang lebih jelas dari Ani Hasibuan. Ia bertanya, "Jadi kesimpulan dr Ani, jika kalimat seperti ini, 'kelelahan bisa mengakibatkan orang meninggal dunia', sepakat akan hal itu?"
Berita Terkait
-
Pascapemilu, Kapolda Metro Ingatkan Masjid Tak Dipakai untuk Memprovokasi
-
Bawaslu DKI Kantongi Identitas Pemesan Grab yang Bawa Ribuan Formulir C1
-
Tuding Dokter Sebut Kerja KPPS 'Nyatet-nyatet', Adian Napitupulu Naik Pitam
-
Real Count KPU Rabu Pagi: Prabowo Tertinggal 14 Juta Suara dari Jokowi
-
Keok di Surabaya, Saksi Prabowo Enggan Tandatangani Hasil Rekapitulasi KPU
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
Siapa Sebenarnya Pelapor Pandji? Polisi Usut Klaim Atas Nama NU-Muhammadiyah yang Dibantah Pusat
-
Langit Jakarta 'Bocor', Mengapa Modifikasi Cuaca Tak Digunakan Saat Banjir Melanda?
-
Debit Air Berpotensi Naik, Ditpolairud Polda Metro Jaya Sisir Permukiman Warga di Pluit
-
Bus TransJakarta Hantam Tiang PJU di Kolong Tol Tanjung Barat, Satu Penumpang Terluka!
-
El Clasico Legenda Bakal Hadir di GBK, Pramono Anung: Persembahan Spesial 500 Tahun Jakarta
-
Jakarta Dikepung Banjir, Ini 5 Cara Pantau Kondisi Jalan dan Genangan Secara Real-Time
-
Superflu vs Flu Biasa: Perlu Panik atau Cukup Waspada?
-
BNI Pertegas Dukungan Sekolah Rakyat untuk Perluas Pemerataan Pendidikan Nasional
-
Tutup Rakernas I 2026, PDIP Umumkan 21 Rekomendasi Eksternal
-
Banjir Rendam Jakarta, Lebih dari Seribu Warga Terpaksa Mengungsi