News / Nasional
Kamis, 12 September 2019 | 13:45 WIB
Presiden ke-3 RI B.J. Habibie ketika berziarah ke makam istrinya, Hasri Ainun Habibie, di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. [Antara Foto/Rivan Awal Lingga]

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja

Lalu rasanya mampu membuatku nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang

Pada air mata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir

Pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau di sini.

Mereka mengira akulah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia

Kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini

Selamat jalan, kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku dan sekarang kembali tiada

Baca Juga: 5 Nama Ini Dipanggil BJ Habibie Sebelum Meninggal

Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan calon bidadari surgaku

Bacharuddin Jusuf Habibie

Menyusul Cinta Sejati

Sembilan tahun kemudian, keinginan Habibie untuk dimakamkan di samping si Gula Jawa, panggilannya untuk Ainun akhirnya terwujud.

Habibie meninggal setelah menjalani perawatan selama 11 hari sejak 1 September 2019 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta.

Habibie akhirnya menyusul Ainun, sang cinta sejatinya pada Rabu, 11 September 2019 pukul 18.05 WIB karena usia yang sudah tua, 83 tahun dan gagal jantung.

Kepergian pria kelahiran Parepare Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 itu menyentakkan Bangsa Indonesia. Ucapan duka cita terus mengalir ke rumah duka.

Pemerintah menetapkan tiga hari sebagai hari berkabung nasional dan memberikan penghormatan dengan mengibarkan bendera setengah tiang.

Teringat kembali jasa-jasanya kepada nusa dan bangsa, Habibie telah membawa angin reformasi setelah runtuhnya Orde Baru, ia juga disebut sebagai Bapak Teknologi dan Bapak Dirgantara karena membidani lahirnya industri pesawat terbang Tanah Air.

Ia memimpin proyek pesawat terbang pertama buatan Indonesia yang dinamai N250 Gatot Kaca. Kejeniusannya di bidang kedirgantaraan bukan hanya diakui Indonesia tapi juga dunia. Habibie telah mematenkan sejumlah temuannya di bidang kedirgantaraan.

Banyak lagi jasanya selama ia menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi sampai jabatan Wakil Presiden dan Presiden ketiga RI pada 21 Mei 1998 hingga 20 Oktober 1999.

Habibie juga disebut sebagai sosok negarawan dan teknokrat. Di masa pemerintahannya, ia bahkan mampu menguatkan nilai tukar rupiah dari Rp17.000 menjadi Rp6.500 per dolar Amerika Serikat.

Tapi kini Habibie telah kembali bertemu dengan Ainun, bersatu lagi dengan cinta sejati di keabadian.

Simaklah lagi penggalan lirik lagu Bunga Cintra Lestari untuk melatari film Habibie dan Ainun ini:

Aku tak pernah pergi. Selalu ada di hatimu.

Kau tak pernah jauh. Selalu ada di dalam hatiku. Sukmaku berteriak. Menegaskan kucinta padamu....

Terima kasih pada Mahacinta. Menyatukan kita. Saat aku tak lagi di sisimu. Kutunggu kau di keabadian....

Load More