Suara.com - Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mochtar Pabottingi menyebut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah dibunuh dengan adanya revisi UU KPK yang kekinian telah disahkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Disahkannya UU KPK hasil revisi itu pun dikatakan Mochtar telah melahirkan persekutuan tak suci antara pendukung dan pembenci Jokowi.
Hal itu dikatakan Mochtar lewat akun Twitter pribadinya @MPabottingi. Mulanya, Mochtar berkicau bahwasanya tanpa adanya KPK reformasi hanya akan menjadi bagian dari kebablasan Orde Baru.
"Inti Reformasi adalah KPK. Tanpa KPK, Reformasi sungguh hanya akan menjadi bagian telak dari bablasan Orde Baru!," kicau Mochtar seperti dikutip Suara.com pada Minggu (29/9/2019).
Mochtar lantas berkicau, bahwasanya KPK kekinian telah dibunuh dengan adanya revisi UU KPK yang telah disahkan oleh Jokowi menjadi undang-undang baru. Hal itu, kata Mochtar secara tidak langsung turut melahirkan persekutuan tak suci antara pembenci dan pendukung Jokowi dalam pembunuhan KPK.
"Pembunuhan KPK lewat revisi fatal atas UU-nya telah melahirkan persekutuan tak suci (“unholy alliance”) antara para pendukung setia Presiden @jokowi dengan para pembencinya. Jumlahnya bisa ratusan juta! Hanya Perppu yang bisa membubarkan persekutuan tak suci itu." cuitnya.
Mochtar menilai dengan disahkannya UU KPK sejumlah prestasi yang ditorehkan Jokowi kekinian dan kedepan akan sia-sia. Padahal, Jokowi memiliki peluang tercatat sebagai pemimpin dengan segala prestasinya.
"Belasan prestasi besar Orde Baru muspra karena masifnya kanker korupsi di tubuhnya. Aneka prestasi besar Presiden @jokowi hingga kini dan ke depan juga akan muspra dengan pembunuhan KPK. Padahal kedua Presiden ini sama-sama berpeluang besar untuk terekam dalam tinta emas!"
Meski begitu, Mochtar menilai Jokowi sebaliknya bisa saja tercatat sebagai pemimpin yang paling terpuji. Jika, Jokowi dapat membatalkan upaya pembunuhan KPK.
"Dengan segala kelebihan yang dimilikinya, Presiden @jokowi bisa tercatat sebagai tonggak kepresidenan paling terpuji. Syaratnya hanya dua: teruskan bakti gigih tanpa pamrih untuk negara bangsa kita dan batalkan pembunuhan KPK lewat muslihat paling busuk dari revisi atas UU-nya!," kata dia.
Baca Juga: Nasdem Dukung, Termasuk Jika Jokowi Tak Keluarkan Perppu KPK
Berita Terkait
-
Nasdem Dukung, Termasuk Jika Jokowi Tak Keluarkan Perppu KPK
-
Rencana Presiden Jokowi Terbitkan Perppu KPK, Pengamat: Salah Kaprah
-
Jokowi Berencana Terbitkan Perppu KPK, PDIP: Sikap yang Kurang Tepat
-
Soal UU KPK, Sekjen PDIP Sebut akan Bela Jokowi Karena Mayoritas Mendukung
-
Pengamat Politik: Gerakan Aksi Mahasiswa Harus Dilakukan Kontinyu
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
Terkini
-
Kantor Imigrasi Denpasar Digeledah KPK, Buntut Skandal Eks Wamen Silmy Karim
-
Ribuan Jemaah Serbu Monas untuk Haul Akbar Ulama dan Habaib Betawi
-
Perwakilan Massa Mahasiswa Akhirnya Diterima Pimpinan DPR, Audiensi Digelar Tertutup
-
Alasan KPK Minta Tambahan Anggaran ke DPR Rp898 Miliar
-
Mahasiswa Trisakti Sampaikan Tiga Tuntutan di DPR, Soroti Ekonomi hingga Supremasi Sipil
-
Mahasiswa Trisakti Melawan! Tuntut MBG Dihentikan Sementara dan Evaluasi Total
-
Polda Metro Jaya Ungkap Alasan Jemput Paksa Roy Suryo dan dr Tifa
-
Pro Kontra MBG: Mahasiswa Jakarta Demo Minta Setop, Warga Jambi Minta Lanjut
-
Jejak Frans Antony 'Bendahara' Fredy Pratama: Pernah Bersembunyi di Kawasan Elite Phatthanakan
-
Dua Direktur PT Simba Jaya Utama Ditahan Terkait Sindikat Emas Ilegal & TPPU