Mendikbud Muhadjir Effendy dalam peluncuran Program Digitalisasi Sekolah di salah satu pulau terluar Indonesia, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Rabu (18/9/2019). (Dok : Kemendikbud)

Suara.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy meminta Badan Akreditasi Nasional Sekolah dan Madrasah (BANSM) menyusun instrumen untuk mendeteksi adanya paham radikalisme di sekolah.

"Makanya tadi saya minta untuk dirumuskan badan akreditasi sekolah," ujar Muhadjir di Kemendikbud, Jakarta, Rabu (9/10/2019)..

Muhadjir menuturkan, selama ini akreditasi tersebut sudah dilakukan BANSM dan inspektorat sangat potivistik. Dan proses akreditasi selama ini kata Muhadjir, tidak menjelaskan mana yang salah atau apa ideologi sekolah itu hingga menjadi radikal.

"Selama ini memang tidak ada, sangat positivistik. Karena itu nanti jadi tanggung jawab inspektorat bagaimana nanti merumuskannya pada aspek kurikulum nonteknis yang beraspek pada pembentukan karakter, sikap, ideologi siswa. Nanti harus diukur, sehingga bisa ketahuan yang mana saja daerah-daerah yang rawan," ucap Muhadjir.

Tak hanya itu, mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu mengaku sudah mengetahui adanya sejumlah sekolah yang terindikasi radikalisme. Namun demikian, perlu ada penilaian dan tolak ukur.

Ia berharap jika instrumen yang tengah disusun bisa segera selesai, sehingga dapat memudahkan untuk mendeteksi paham radikalisme di sekolah.

"Kita tidak bisa, tidak bisa langsung memberi penilaian seperti itu karena memang tidak ada alat ukurnya kan. Karena itu kita harus hati-hati betul untuk segera (membuat instrumen). Kecuali kalau nanti sudah itu, ada instrumennya melalui jalur akreditasi maupun jalur inspektorat pengawasan nanti kan bisa ketahuan itu," ucap dia.

Ketika ditanya apakah perlu mengubah kurikulum untuk menangkal radikalisme di sekolah, Muhadjir menuturkan bahwa kurikulum akan selalu berubah dan mengukuti perkembangan zaman.

"Kurikulum itu sebetulnya kan selalu berubah ya. Namanya saja kurikulum change. Kurikulum tuh kan ada curiculum design, ada curiculum development, ada curiculum change. Jadi selalu itu," kata dia.

"Hanya kita selalu menganggap kalau kurikulum baru berubah itu kalau sudah ada dari kurikulum KTSP jadi kurikulum K13 itu berubah, nggak! kebetulnya tiap tahun mesti kita evaluasi, mesti kita kaji, kita sesuaikan. Apalagi dengan era sekarang yang percepatan perubahannya sudah luar biasa ini. Kalau kurikulum tidak berubah, ya, akan ditinggal," kata dia.