Suara.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima Perwakilan Masyarakat Perhutanan Sosial di Istana Negara, Jakarta pada Kamis (10/10/2019).
Dalam sambutannya, Jokowi meminta Perum Perhutani tidak mempersulit masyarakat yang mendapatkan pemanfaatan lahan perhutanan sosial. Sebab, kata Jokowi, masih ada keluhan dari masyarakat yang tidak bisa memanfaatkan lahan walau sudah mendapat surat keputusan (SK).
"Saya bicara apa adanya. Perhutanan sosial ini ada yang sudah banyak menerima manfaat tapi ada yang sudah dikasih SK namun di bawah belum jalan. Benar," ujar Jokowi dalam sambutannya.
Menurut Jokowi, penyebabnya karena tidak terkoordinasinya antara pelaksana teknis Kementerian Lingkungan Hidup dan Perhutanan dengan Perum Perhutani.
"Karena belum sambungnya antara KLHK dan Perhutani. Tapi yang di bawah, ada beberapa SK yang dikembalikan langsung ke tangan saya. Saya pas ke daerah, pak, ini SK-nya enggak bisa jalan di lapangan," katanya.
"Ya memang itu lah, kadang-kadang persoalan-persoalan besar negara kita yang segede ini. Perhutanan sosial yang telah diberikan kepada masyarakat bukan hanya sehektare dua hektare," sambungnya.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga menyebut dari data yang ada hingga 1 Oktober 2019, pemanfaatan perhutanan sosial di Pulau Jawa sampai 25 ribu hektare. Sedangkan untuk program perlindungan kemitraan telah diberikan yaitu sekitar 150 hektare.
"Saya mau cek saja. Program ini harus jalan terus. Karena target kita bukan angka yang kecil. Tadi disampaikan 12,7 juta (hektare), karena ini sudah dibuat peta indikatif perhutanan sosial 12,7 juta hektare, bukan angka yang kecil, angka yang gede banget. Tetapi untuk melaksanakan hal seperti ini dan peraktik di lapangannya tidak segampang itu," kata dia.
"Di bawah juga ada birokrasi kita, Perhutani, yang ada yang bisa terima, ada yang tidak bisa terima," katanya.
Baca Juga: PT Pertiwi Lestari Akan Pagari Hutan di Karawang, Perhutani Siaga
Tak hanya itu, Jokowi mengaku memahami persoalan yang terjadi terkait pemberian penguasaan lahan kepada masyarakat. Bahkan, ia menyindir pihak-pihak yang terganggu karena sudah menikmati program tersebut.
"Saya ngerti, saya tiap hari ke desa, saya tiap hari ke bawah, ya tahu. Dan merasa terganggu karena kenyamanan sudah lama dinikmati. Saya mau selesaikan nanti khusus Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertahanan, dan Perhutani, harus selesai ini, harus selesai," kata Jokowi.
Lebih lanjut, Jokowi mengingatkan kepada Direktur Utama Perum Perhutani Denaldy M Mauna bahwa zaman telah berubah. Ia tak ingin Perum Perhutani menggunakan cara lama memimpin Perhutani.
"Dirutnya mungkin tidak, tapi di bawahnya diselesaikan. Jangan sampai Perhutani masa lebih kolonial dari kolonial. Saya merasakan kok. Saya merasakan itu. Kan sudah bicara bapak ibu sekalian waktu ke bawah. Saya merasakan itu, suara itu, saya dengar, jangan dipikir enggak tahu enggak dengar, saya dengar," ucap Jokowi.
Karena itu, Jokowi akan berdialog dengan Dirut Perum Perhutani untuk menyelesaikan permasalahan tersebut
"Saya mau bicara dengan pak dirut plus jajarannya. Karena di bawah yang saya lihat berbeda dengan yang kita bicarakan," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Siasat Licin Teroris JAD di Sulteng: Jualan Buah di Siang Hari, Sebar Propaganda ISIS di Medsos
-
Waka DPR Soroti Darurat Kekerasan Seksual di Pendidikan: Harus Ada Efek Jera dan Sanksi Berat!
-
Kata Pengamat Soal Rupiah Melemah: Jangan Panik, Tak Bakal Ganggu Daya Beli
-
Kemensos Siapkan Skema Transisi Dapur Mandiri Siswa Sekolah Rakyat
-
Gus Ipul Pastikan Pengadaan Sepatu Sekolah Rakyat Transparan
-
Tutup Program Magang Kemendagri Wamendagri Bima Arya Tekankan Pentingnya Penguatan Karakter
-
Evaluasi Rekrutmen Polri: Hapus Kuota Khusus, Libatkan Multi-aktor
-
Revitalisasi 71.744 Sekolah Tahun 2026, Mendikdasmen Siapkan Dana Rp14 Triliun
-
Peneliti Temukan Cara Ubah Kulit Kayu Eukaliptus Jadi Penangkap Polusi, Seberapa Efektif?
-
Wamendagri Bima: Tantangan Perubahan Iklim Bukan Lagi Regulasi, Tetapi Eksekusi di Daerah