Suara.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemerintah Kota Ambon menegaskan bunyi alat pendeteksi gempa, Earthquake Warning Alert System (EWAS) bukan merupakan peringatan tsunami karena tanpa gempa dengan kekuatan merusak. Alat tersebut sebelumnya bunyi di Desa Passo, Sabtu (16/11/2019), pukul 06.02 WIT.
"Kan guncangan gempa dengan magnitudo 4,5 terjadi pukul 06.02 WIT berlokasi pada 3,59 Lintang Selatan (LS) dan 128,27 Bujur Timur (BT) BT dan berjarak 15 km timur laut Ambon dirasakan di Ambon pada skala IV MMI sehingga masuk katagori kekuatan merusak," kata Sekretaris BPBD Pemkot Ambon, Eva Tuhumury, saat diberitakan Antara di Ambon.
Peryataan Eva sekaligus untuk menjawab kepanikan masyarakat Desa Passo yang mengira bunyi alarm tersebut tanda peringatan tsunami. Bahkan, ada warga yang berteriak-teriak "tsunami", namun kekinian aparat Desa Passo telah memberikan penjelasan.
Sebenarnya, kata dia, sudah ada sosialisasi sebelum EWAS bantuan Universitas Indonesia (UI) Peduli dipasang di Passo, Kecamatan Baguala sehingga perangkat desa setempat hendaknya intensif menyampaikan fungsi alat tersebut kepada masyarakat.
UI Peduli memberikan bantuan 24 EWAS bagi Pemkot Ambon dan telah dipasang antara lain di balai kota setempat, Desa Galala, Hatiwe Kecil, Passo, Hutumuri, Batumerah, Rumahtiga, dan Latuhalat.
"Alat EWAS dipasang bertujuan untuk membantu masyarakat sekitar waspada jika mendengar peringatan dini pada saat terjadi gempa bumi," kata Eva.
EWAS memanfaatkan sensor getaran, sirene atau alarm, dan modul komunikasi gelombang radio untuk mendeteksi getaran dalam kawasan yang luas, seperti yang biasa digunakan pada alat komunikasi "handy talky".
"Bantuan dari UI Peduli ini sesuai arahan Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy diharapkan akan ditindaklanjuti setiap lurah, kades, dan raja di Ambon untuk memafaatkan alat ini," katanya.
Data BMGK, gempa bumi tektonik yang mengguncang Kota dan Pulau Ambon pada Sabtu pagi dengan kekuatan bervariasi, dirasakan cukup kuat karena berlokasi di darat dengan kedalaman hanya 10 km.
Baca Juga: BMKG Catat Terjadi 150 Kali Gempa Susulan di Maluku Utara
Gempa magnitudo 4,5 terjadi pukul 06.02 WIT berlokasi pada 3,59 LS dan 128,27 BT, dan berjarak 15 km timur laut Ambon dan 29 km selatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, serta dirasakan masyarakat di Ambon pada skala IV MMI.
Gempa susulan kedua dengan magnitudo 3,6 terjadi pukul 07.30 WIT dengan episentrum pada 3,56 LS dan 128,28 BT berjarak 19 km timur laut Ambon dan 25 km selatan Kairatu dan dirasakan di Ambon antara II hingga III MMI.
Gempa ketiga magnitudo 3,8 SR terjadi lima menit kemudian atau pukul 07.35 WIT berlokasi di 3,55 LS-128,29 BT berjarak 20 km timur laut Ambon dan 24 km selatan Kairatu dan dirasakan di Desa Tulehu, Kecamatan Salahutu, PUlau Ambon dengan skala III MMI
Gempa magnitudo 3,3 terjadi pukul 07.42 WIT berlokasi pada 3,61 LS-128,31 BT berjarak 17 km timur laut Ambon atau 30 km selatan Kairatu dan dirasakan di Ambon dalam skala II-III MMI. Gempa magnitudo 2,9 terjadi pukul 10.57 WIT berlokasi di 3,56 LS dan 128,31 BT.
Untuk diketahui, gempa susulan tersebut mengakibatkan rumah milik Bripka Hamka Suat, anggota Babinkamtibmas Polsek Sirimau, Polres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease di RT-01/RW-20 kawasan Gunung Malintang, Kebun Cengkeh, Kecamatan Sirimau, Ambon, roboh.
Selain itu, dinding penahan tiang besi utama, penyangga atap Gedung Olah Raga (GOR) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon juga dilaporkan ambruk akibat gempa tersebut. GOR tersebut ambruk tetapi tidak menimbulkan korban jiwa, menyusul retak-retak saat gempa magnitudo 6,5 pada 26 September 2019.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
Terkini
-
Seksisme Bukan Candaan! Kemendukbangga Sentil Kasus Pelecehan di Grup Chat Mahasiswa FHUI
-
Alasan Hizbullah Boikot Pertemuan Diplomatik Lebanon-Israel di Washington
-
Kasus Wanita Linglung Dilepas Polisi, Propam Turun Tangan Periksa Anggota Polsek Pasar Minggu
-
Makassar Ubah Sampah Jadi Listrik, Bisa Jadi Solusi Krisis Sampah?
-
Asal Bapak Senang! Pete Hegseth Dituding Sesatkan Donald Trump soal Perang Iran
-
Baru Bertemu Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Perang AS Pete Hegseth Dihantam Isu Diskriminasi
-
Blokade Selat Hormuz Oleh Amerika Serikat Picu Protes China, Dinilai Memperburuk Krisis Timur Tengah
-
Italia Tangguhkan Perjanjian Pertahanan dengan Israel, Ini Penyebabnya
-
BPKP Bongkar Borok Proyek Chromebook: Negara Rugi Rp2,1 Triliun, Ini Rinciannya
-
36 Jam Blokade AS, Laksamana CENTCOM Yakin Ekonomi Iran Mulai Lumpuh Perlahan