Suara.com - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau KontraS berharap tim khusus bentukan Kapolri Jenderal Idham Azis untuk mengusut kebenaran terkait pengakuan Dede Luthfi soal penyiksaan tidak hanya sebatas wacana.
Hal itu disampaikan Deputi Koordinator KontraS Feri Kusuma. Feri meminta kepada kepolisian untuk jujur menyampaikan laporanan secara transparan. Begitupun jika tim khusus mendapat temuan dan bukti bahwa pengakuan Lutfhi yang disiksa oleh penyidik benar adanya.
"Beberapa hari yang lalu Kapolri, Pak Idham Azis bilang sedang membenuk tim untuk mengusut keterangan Luthfi bener ya, (semoga) ini bukan hanya sebatas wacana tapi bagaimana kita jujur, ksatria, berani mengakui bahwa itu benar adanya jika itu benar, bukan memanipulasi," kata Feri di Kantor KontraS, Jakarta, Jumat (31/1/2020).
Feri berujar KontraS memiliki keyakinan bahwa pengakuan adanya penyiksaan yang disampaikan Luthfi di dalam pesidangan bukan suatu kebohongan. Sebab berdasarkan pengalaman, kata Feri, tidak mungkin seorang korban berani menyampaikan apa yang tidak ia alami.
"Pengalaman KontraS, seseorang berani mengakui dia disiksa (karena berdasarkan pengalaman), kalau dia tidak pernah disika (tidak bakal mengklaim), itu pengalaman KontraS. Tidak ada korban atau orang yang datang ke KontraS atau yang pernah KontraS (tangani kasusnya) dia memberikan keterangan palsu terkait pemeriksaan. Karena penyiksaan itu punya dampak pada fisik dan psikologisnya itu bisa dibuktikan," tutur Feri.
Selain meminta pihak kepolisian untuk transparan dan tidak memanipulasi hasil temuannya, Feri juga mengharapkan pengakuan Luthfi tersebut bisa dijadikan pintu masuk Polri dalam memperbaiki cara dalam menegakan hukum.
"Keterangan Luthfi itu harus bener-bener dijadikan pintu masuk untuk memperbaiki bagaimana pendekatan pendekatan segala macamnya ke depan tidak terulang. Tidak ada lagi penyiksaan-penyiksaan dalam proses apapun, dalam proses pengamanan massa aksi, dan dalam penegakan hukum," tandasnya.
Sebelumnya, Kapolri Jenderal Idham Azis mengaku telah membentuk tim khusus untuk menyelidiki pengakuan Dede Luthfi Alfiandi (20) yang mengaku disiksa penyidik Polri dan dipaksa mengaku melakukan penyerangan kepada aparat saat demo pelajar di DPR, beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Baku Tembak Polisi vs Kurir 288 Kg Sabu di Tol Tangerang, 3 Pelaku Tewas
Idham mengatakan Polri siap bertanggungjawab jika anggotanya benar melakukan kekerasan terhadap Luthfi dengan memerintahkan Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ignatius Sigit Widiatmono membentuk tim untuk melakukan pemeriksaan.
"Ya nanti sudah dibentuk ada Kadiv Propam, tim akan kita periksa, apa benar polisi melakukan itu, kalau benar saya sudah minta ditindak tegas," kata Idham Azis saat ditemui di Kompolnas, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (24/1/2020).
Namun, dia juga meminta Luthfi untuk siap mempertanggungjawabkan pengakuannya sebab hal itu bisa memberatkan dirinya jika hasil pemeriksaan Propam tidak sesuai dengan pengakuannya.
Sebelumnya, Luthfi, demontran yang viral saat demo STM karena membawa bendera Merah Putih mengaku disiksa dan dipaksa mengakui terlibat melakukan penyerangan kepada aparat saat demo anak STM di DPR September lalu.
Di depan majelis hakim, Luthfi mengaku disetrum oleh penyidik sekitar 30 menit dan disuruh mengaku ikut menyerang aparat saat demo dengan menggunakan batu.
"Saya disuruh duduk, terus disetrum, ada setengah jam lah. Saya disuruh ngaku kalau lempar batu ke petugas, padahal saya tidak melempar," kata Luthfi di dalam sidang.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
Pilihan
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
Terkini
-
BMKG Rilis Peringatan Dini, Hujan Lebat dan Angin Kencang Berpotensi Landa Jakarta Hari Ini
-
Kerry Riza Ajak Masyarakat Lihat Perkaranya Berdasarkan Fakta Bukan Fitnah
-
Dugaan Korupsi Minyak Mentah: Saksi Bantah Ada Kontrak Sebut Tangki BBM OTM Jadi Milik Pertamina
-
Menuju JFSS 2026, Pemerintah dan Kadin Sepakat Ketahanan Pangan Jadi Prioritas Nasional
-
Aceh Tamiang Dapat 18 Rumah Rehabilitasi, Warga Bisa Tinggal Tenang
-
Usai di Komdigi, Massa Demo Datangi Polda Metro Jaya Minta Usut Kasus Mens Rea
-
Profil Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa: dari Pilot ke Pemimpin Provinsi Baru
-
Catatan Kritis Gerakan Nurani Bangsa: Demokrasi Terancam, Negara Abai Lingkungan
-
Satgas Pemulihan Bencana Sumatra Gelar Rapat Perdana, Siapkan Rencana Aksi
-
Roy Suryo Kirim Pesan Menohok ke Eggi Sudjana, Pejuang atau Sudah Pecundang?