Suara.com - Ma Jianguo, 23, warga desa di kota Shitouzhai divonis hukuman mati atas pembunuhan yang dilakukannya.
Ia membunuh dua pejabat pemerintah, Zhang Guizhou dan Li Minguo yang menjaga blokade virus corona.
Dikutip dari Dailymail, Senin (2/3/2020), pengadilan di Provinsi Yunnan menyatakan Jianguo bersalah atas pembunuhan yang disengaja. Ia dijatuhi hukuman mati pada persidangan pertamanya kemarin.
Menurut sebuah pernyataan dari Pengadilan Rakyat Menengah di Prefektur Honghe, Jianguo menyerang kedua petugas pada 6 Februari di sebuah pos pemeriksaan di kota Shitouzhai.
Pemerintah setempat telah mengatur barikade untuk mengendalikan kendaraan yang melintas sehari sebelumnya. Blokade ini untuk membatasi penyebaran virus corona.
Saat itu, Jianguo bersama penumpangnya, Ma Kelong, mengendarai mobil van kecil.
Kelong turun dari kendaraan dan mencoba memindahkan penghalang jalan. Ia mengabaikan petugas yang mendesaknya untuk tidak melakukannya.
Sebagai seorang petugas, Zhang Guizhou, mencoba merekam perilaku melanggar hukum Kelong dengan ponselnya. Jianguo menjadi sangat marah.
Dia mengambil pisau lipat, yang telah dibawanya, dan berulang kali menikam perut Zhang.
Baca Juga: Range Rover Tabrak Driver Ojol Perempuan, Pengemudinya Masih SMA
Petugas lain, Li Minguo bergegas untuk turun tangan. Jianguo juga menikam Li di perut beberapa kali.
Zhang adalah seorang pejabat pengentasan kemiskinan yang dikirim ke wilayah itu oleh biro keuangan Kabupaten Honghe dan Li adalah seorang pejabat Kotapraja Shitouzhai.
Pengadilan mengatakan Jianguo harus dihukum berat karena dia mengabaikan peraturan darurat yang relevan yang diaktifkan oleh pemerintah setelah krisis kesehatan masyarakat.
Jianguo mengakui kesalahannya, namun pengadilan menganggap tindakannya sangat jahat. Rincian kejahatannya sangat mengerikan dan konsekuensi dari kasus itu 'sangat serius'.
Virus Corona di China
Virus corona baru (COVID-19) telah menewaskan sedikitnya 2.912 orang dan menginfeksi lebih dari 80.000 di China.
Berita Terkait
-
Kemenkes: Saudara dan ART Pasien Corona Covid-19 Negatif Terinfeksi
-
Penumpang di Blok M Tak Risau Virus Corona: Hidup dan Mati Sudah Diatur
-
Imbas Corona, Pedagang Sembako Yang Naikan Harga Seenaknya Bisa Ditangkap
-
Viral Video TikTok Tips Mencuci Tangan Anti Corona yang Benar ala Dokter
-
Wisata Sepi Gegara Corona Covid-19? Travel Agent Ungkap Fakta
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Terkait Reformasi Polri, Boni Hargens Apresiasi Komitmen Kapolri Listyo Sigit
-
Banyak Kasus Terlambat Ditangani, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Kanker Paru
-
Terbongkar! WNA China Sulap Apartemen Jakarta Jadi Pabrik Vape Narkoba Etomidate
-
Alih Fungsi Kali Ciputat dan Kelalaian Proyek Jadi Biang Kerok Banjir di Taman Mangu Indah?
-
Hakim Militer Minta Ahli Kimia Uji Campuran Air Keras dalam Kasus Andrie Yunus
-
Ade Armando Pamit dari PSI: Tameng untuk Jokowi atau Sekadar Strategi 'Cuci Tangan' Politik?
-
Siasat Licin Teroris JAD di Sulteng: Jualan Buah di Siang Hari, Sebar Propaganda ISIS di Medsos
-
Waka DPR Soroti Darurat Kekerasan Seksual di Pendidikan: Harus Ada Efek Jera dan Sanksi Berat!
-
Kata Pengamat Soal Rupiah Melemah: Jangan Panik, Tak Bakal Ganggu Daya Beli
-
Kemensos Siapkan Skema Transisi Dapur Mandiri Siswa Sekolah Rakyat