Beberapa penduduk daerah kumuh mengambil air dari keran umum. Ada juga yang mengumpulkan air dalam kaleng dan ember dari kapal tanker yang mengunjungi daerah mereka beberapa kali dalam seminggu.
BACA JUGA: 5 Strategi Melawan Virus Corona, Sukses di Berbagai Negara
"Di mana mereka akan menemukan air dan sabun yang mereka butuhkan? Saya pikir hampir mustahil untuk mengimplementasikan rencana itu," ujar Prabhakar seperti yang dikutip dari CNN.
Bellur Prabhakar menambahkan, bahwa memberlakukan lockdown seperti yang dinyatakan oleh Perdana Menteri Modi akan sangat sulit. Hal ini karena rumah padat penduduk di India, per satu kilometer persegi diisi dengan 455 orang. Padahal standar Bank Dunia adalah 60 orang per 1 kilometer.
"Social distancing saja di negara seperti India akan sangat-sangat menantang," kata Prabhakar.
"Kita mungkin bisa melakukannya di daerah perkotaan, tetapi di permukiman kumuh perkotaan, saya tidak punya gambaran bagaimana itu bisa dilakukan," tambahnya.
Tantangan Lockdown
Masalah ekonomi adalah hal yang paling terdampak dalam keputusan lockdown suatu negara pun untuk India.
Menurut data statistik terbaru, ada sekitar 400 juta orang di india yang bekerja tidak teratur. Mulai dari wiraswasta, pekerja lepas, kuli, ART, dan lain sebagainya. Mereka mendapat bayaran ketika bekerja. Lalu bagaimana jika ada lockdown dan mereka tidak bisa bekerja?
Baca Juga: Wafat Sepulang dari Prancis, Warga Solo Dimakamkan seperti Pasien Corona
Kementerian Tenaga Kerja dan Ketenagakerjaan telah mengeluarkan pemberitahuan kepada perusahaan, meminta mereka untuk tidak memberhentikan karyawan atau memotong gaji saat lockdown.
"Di masa krisis seperti ini, saya meminta dunia bisnis dan segmen masyarakat berpenghasilan tinggi untuk sebanyak mungkin, menjaga kepentingan ekonomi semua orang yang menyediakan layanan kepada mereka," kata Perdana Menteri, Narendra Modi.
"Dalam beberapa hari mendatang adalah mungkin orang-orang ini tidak dapat datang ke kantor atau rumah Anda. Dalam kasus seperti itu, perlakukan mereka dengan empati dan kemanusiaan, jangan kurangi gaji mereka," ujat Modi.
"Selalu ingat bahwa mereka juga perlu berada di rumah untuk melindungi keluarga mereka dari penyakit," tambahnya.
BACA JUGA: 4 Hukuman bagi Pelanggar Lockdown, dari Denda sampai Penjara
Kepala menteri negara bagian Uttar Pradesh utara Yogi Adityanath mengatakan bahwa masing-masing dari 1,5 juta pekerja upahan harian di negaranya akan diberikan 1.000 rupee (Rp 214.500).
Bantuan itu akan dikirim melalui transfer langsung untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.
"Itu mungkin berakhir dengan menyelamatkan banyak nyawa jika pemerintah pada dasarnya memiliki program untuk mengeluarkan gaji kepada semua pekerja harian dan orang-orang yang berpenghasilan di bawah tingkat pendapatan tertentu," kata Prabhakar.
Tetapi bahkan jika pihak berwenang dapat menggelar bantuan keuangan untuk pekerja berupah harian, tidak semua orang akan mendapat fasilitas tersebut
Menurut perkiraan pemerintah, ada sekitar 102 juta orang yang tidak memiliki akses kesejahteraan lockdown dan layanan sosial.
Kesulitan lain yang dihadapi India adalah sistem kesehatan yang tidak memadai. "Sektor kesehatan publik sangat tidak memadai," kata Prabhakar pada CNN.
Seperti kata Swaminathan dari WHO, sistem kesehatan di India cukup bervariasi.
Menurut Christian Medical College Abraham, hanya ada sekitar 50 hingga 60 orang spesialis di India yang telah menerima pelatihan terstruktur formal dalam menangani penyakit menular.
Bank Dunia juga menyatakan, bahwa India hanya membelanjakan sekitar 3,66% dari PDB untuk kesehatan - jauh di bawah rata-rata dunia 10%.
Berita Terkait
Terpopuler
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
Pilihan
-
Mengejutkan! Ini Pesan Terakhir Wamen Imipas Silmy Karim Sebelum Dicari KPK Terkait OTT Imigrasi
-
Siasat Dadan Hindayana Cs Korupsi MBG: Pakai Yayasan Sendiri, Sedot Miliaran Rupiah Tiap Hari!
-
Momen Unik Penahanan Dadan Cs, Satu Tersangka Tertinggal Mobil Tahanan hingga 'Dikepung' Wartawan
-
Pakai Rompi Pink dan Diborgol, Kejagung Resmi Tahan Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Cs
-
Drama 'Penjemputan' Dadan Hindayana Cs, Ada yang Sempat Lari ke Jabar
Terkini
-
Kritik Kunjungan LN Prabowo, Mahfud MD: Terlalu Sering Itu Boros, Produknya Harus Jelas!
-
Detik-detik Wamen Imipas Silmy Karim Serahkan Diri ke KPK, Ajudan Dorong Awak Media
-
Silmy Karim Diburu KPK, Menteri Imipas Angkat Bicara
-
Megawati Bakal Terima Penghargaan dari Timor Leste, PDIP Jajaki Kerja Sama Strategis
-
Prabowo ke Petugas MBG: Tak Mau Bekerja Baik, Silakan Minggir!
-
Dadan Hindayana Ditahan, Irma Suryani Prihatin DPR Tak Punya Alat Sanksi untuk Mitra Kerja
-
Jabar Raih Penghargaan Terbaik Dalam Anugerah Kearsipan 2026, Bukti Hormati Setiap Jejak Sejarah
-
KPK Sita 7 Mobil hingga Emas dalam OTT Imigrasi Jakbar
-
KPK Ungkap Wamen Imigrasi Silmy Karim Diduga Terlibat Kasus Izin Tinggal WNA
-
Tolak Wacana Rusun, Korban Kebakaran Kemayoran Minta Pemerintah Bantu Bangun Rumah Lagi