Suara.com - Ikhlas, menjadi salah satu pilihan bagi Ryan Dwiky (28) perantau di DKI Jakarta yang tidak bisa mudik kalau rencana karantina wilayah di ibu kota terealisasi. Namun ia agak sedikit kesal melihat rekan-rekannya yang memilih untuk pulang ke kampung halaman saat adanya kebijakan kerja dari rumah atau Work From Home (WFH) sebelum bulan puasa tiba.
Rencana awalnya, Ryan hendak mudik ke kampung halamannya di Ponorogo, Jawa Timur untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri tahun ini. Akan tetapi ia sempat mengurungkan niat lantaran adanya pandemi virus Corona (Covid-19).
"Banyak teman kampung saya seperantauan di Jakarta yang memanfaatkan libur kantor untuk pulang ke kampung halaman, saya kesal banget sama mereka," kata Ryan saat dihubungi Suara.com, Senin (30/3/2020).
Kekesalan Ryan tidak terlepas dari kekhawatiran kepada orangtuanya. Banyaknya orang dari luar Ponorogo menyebabkan ia was-was ada yang membawa Covid-19 ke kampungnya.
Ryan yang tinggal di kawasan Palmerah, Jakarta Barat memilih untuk menanti kabar baik sebelum memutuskan untuk mudik ke kampung halaman. Apabila menjelang lebaran sudah ada obat atau vaksin untuk Covid-19, ia memilih untuk mudik. Sebaliknya, kalau kondisinya masih sama seperti sekarang, Ryan pun ikhlas untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri tanpa berkumpul bersama kedua orangtuanya.
"Tapi kalau masih kayak gini ya di Jakarta ya enggak apa-apa, saya ikhlas," ujarnya.
Lain cerita dari Riska Herliafifah (29). Perantau asal Bandung ini awalnya merencanakan untuk mudik ke Yogyakarta dan Solo, Jawa Tengah. Akan tetapi rencananya terpaksa ditunda lantaran adanya larangan mudik serta wacana karantina wilayah di DKI Jakarta.
Ibu satu anak ini juga mengeluhkan pengurusan pembatalan tiket kereta api yang ruwet dan tidak bisa bertemu dengan orang tua di kampung halaman.
"Rencananya tahun ini mudik ke Jogja sama Solo, tempat suami dan keluarga bapak. Cuman pasti enggak jadi karena karantina," ujar Riska.
Baca Juga: Tak Bisa Tolak Pemudik, Karangtengah Kidul Imbau Warga Karantina Mandiri
Akan tetapi, ia memahami dengan keadaan yang ada, terlebih untuk mengurangi risiko penyebaran Covid-19 lebih meluas. Apalagi Riska yang merupakan pegawai salah satu perusahaan swasta di DKI Jakarta setuju rencana Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk menerapkan karantina wilayah di ibu kota.
"Enggak apa-apa, walau terlambat, ya masih lebih baik daripada tidak sama sekali," ujar Riska.
Berita Terkait
-
Dampak Corona, Bus AKAP yang Beroperasi di Terminal Bekasi Tersisa 30 Unit
-
Tegal Lockdown Hari Ini, Masih Bisa Keluar Masuk Lewat 4 Jalan Ini
-
Jika Covid-19 Belum Reda, Ini 3 Tuntunan Ibadah Ramadan dari Muhammadiyah
-
DPR Desak Pemerintah Tindaklanjuti Hasil Kajian FKM UI di Episentrum Covid
-
Gara-gara Salaman, Profesor Eks Rektor Unhas Positif Corona Covid-19
Terpopuler
- Bedak Tabur atau Bedak Padat Dulu? Panduan Makeup Flawless Tahan Lama
- 4 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Sesuai Review Pembeli
- Aisyah Zakkiyah, Komisaris Baru PTPP yang Viral Punya Gaji dan Tunjangan Miliaran
- Bedak Tabur Apa yang Bikin Glowing dan Tahan Lama? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review dan Harga
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
Pilihan
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
-
Polri Tetapkan Febrie Adriansyah dan DR Tersangka Kasus Dugaan Korupsi serta TPPU
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
Terkini
-
Tragedi Pantura Indramayu, Korban Tewas Kecelakaan Beruntun Bertambah Jadi 10 Orang
-
Pikap Warkidi Dihantam Truk di Pantura Indramayu: 3 Penumpang Tewas, Belasan Orang Luka-Luka
-
Prabowo Kritik Teori Neolib: Katanya Kakayaan Menetes ke Bawah, Kalian Percaya?
-
Ketua Umum FKDT Apresiasi Langkah Presiden Redakan Polemik Kasus Febrie Adriansyah
-
Kebakaran Maut di Pulogadung, 3 Orang Tewas Saat Tidur Lelap
-
Prabowo Kecam Pemimpin Provokator Ajak Bakar-bakar: Saya Percaya Hukum Karma
-
Amnesty Kritik Pemekaran Papua: Negara Hanya Dengar Mereka yang Setuju Saja
-
Bukan Cuma Peluru, Pengungsi Papua Terancam Putus Sekolah dan Minim Medis
-
Sebut Tanggung Jawab Wapres, Bambang Pacul Dinilai 'Main-main' dengan Isu Papua
-
Polri Serahkan Berkas Kasus Korupsi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah ke Kejagung, Ini Detailnya