Suara.com - Beberapa waktu lalu, kabar kesehatan Kim Jong Un yang memburuk sempat menjadi perbincangan dunia. Namun terpatahkan dengan kehadirannya pada peresmian sebuah pabrik minggu lalu.
Spekulasi kabar kesehatan Kim Jong Un tersebut salah satunya datang dari pembelot Korea Utara yakni Thae Yong-ho dan Ji Seong-ho.
Melansir The Guardian, setelah mengetahui spekulasinya salah, keduanya meminta maaf di hadapan publik Korea Selatan. Kebetulan kedua didapuk menjadi anggota parlemen Korea Selatan.
Thae Yong-ho, mantan wakil duta besar Korea Utara untuk Inggris, pada hari Senin (04/05) menyatakan permintaan maaf untuk atas spekulasi yang dibuatnya mengenai Kim Jong Un.
"Saya sadar bahwa salah satu alasan mengapa saya dipilih sebagai anggota parlemen adalah harapan analisis dan proyeksi yang akurat tentang masalah Korea Utara," katanya dalam sebuah pernyataan dikutip dari The Guardian.
"Saya merasa bersalah dan akan bertanggung jawab."
"Apa pun alasannya, saya meminta maaf kepada semua pihak." ujarnya.
Seorang pembelot lainnya yang terpilih di parlemen untuk oposisi, Ji Seong-ho, mengatakan dalam sebuah wawancara media bahwa ia 99% yakin bahwa Kim telah meninggal setelah operasi kardiovaskular.
"Saya telah merenung selama beberapa hari, dan merasakan beratnya posisi yang saya hadapi saat ini," kata Ji dalam sebuah pernyataan.
Baca Juga: Korsel Sebut Kim Jong Un Menghilang Bukan karena Jalani Operasi, Tapi...
"Sebagai tokoh publik, saya akan bersikap hati-hati untuk melangkah."
Ji Seong-ho mengatakan kepada Reuters bahwa ia telah menerima informasi tentang kematian Kim Jong Un dari sumber yang tidak bisa dia sebutkan.
Partai Demokrat yang berkuasa di Korea Selatan mengkritik kedua pembelot tersebut atas kecerobohannya. Salah satu anggota partai mendesak mereka untuk dikeluarkan dari komite intelijen dan pertahanan, namun ada juga yang beranggapan bahwa mereka sudah berkontribusi.
Partai Ji Seong-ho mengakui bahwa ia telah membuat pernyataan 'gegabah, ceroboh', namun di sisi lain juga mengkritik partai yang berkuasa karena merusak nama baik dan 'memicu kebencian' terhadap kedua pembelot tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
Terkini
-
Eks Ketua BPK Sebut Audit Kerugian Negara Rp1,5 Triliun di Kasus Chromebook Cacat
-
Diduga Ada Jual Beli, KPRP Usul Jalur Kuota Khusus di Rekrutmen Polri Dihapuskan
-
Tanggapi Reformasi Polri, Sahroni Usul Jabatan Polisi di Lembaga Sipil Dibatasi Maksimal 3 Tahun
-
Bobol 7 Gereja di Jateng, Pencuri Ini Keok Usai Jualan Hasil Curian di Medsos
-
Dukung Rekomendasi Reformasi Polri, Abdullah Tegaskan Polri Tetap di Bawah Presiden
-
Program SMK 4 Tahun dan SMK Go Global Mulai Berjalan, Ini Jurusan yang Jadi Prioritas
-
Sowan ke MUI, KSP Dudung Siap Lapor Aspirasi Ulama ke Presiden Prabowo
-
KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus DJKA ke Eks Menhub Budi Karya Sumadi
-
Sebar Propaganda Lewat Medsos, Densus 88 Tangkap 8 Terduga Teroris Jaringan JAD di Sulteng!
-
PRT Bakal Disertifikasi, Wamen PPPA Veronica Tan Siapkan Skema Pelatihan agar Hak Pekerja Terpenuhi