Agung Sandy Lesmana | Bagaskara Isdiansyah
Kamis, 28 Mei 2020 | 17:59 WIB
Jenazah Covid-19 di TPU Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, hanya dibatasi dengan garis polisi dengan makam umum. (Suara.com/ Bagaskara)

Suara.com - Bukan hanya tenaga medis di Rumah Sakit saja yang harus rela mengorbankan hidupnya untuk melawan virus Covid-19. Petugas pengubur jenazah juga rela mengkorban segala-galanya di masa pandemi ini.

Cerita keluh kesah datang dari petugas yang melakukan proses pemakaman jenazah COVID-19 di TPU Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat. Tak banyak yang tahu bahwa petugas pengubur jenazah COVID-19 ini juga mempunyai cerita yang cukup menyentuh.

Jimi (30), salah satu petugas pemakaman Dinas Pemakaman DKI Jakarta ini tak bisa secara langsung bercengkrama dengan keluarga. Dalam tiga bulan terakhir ini dirinya terpaksa harus jaga jarak dengan anak dan istrinya.

"Paling sama keluarga doang kita terbatas jadinya. Agak jaga jarak juga kan. Sampai sekarang aja nih saya misah kamar sama anak-bini," kata Jimi saat berbincang dengan Suara.com di TPU Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, Kamis (28/5/2020).

Jimi, petugas Sudin Pemakaman Jakarta Barat di TPU Tegal Alur. (Suara.com/Bagaskara).

Menurutnya, selama adanya pandemi Covid-19 ia menjadi jarang menghabiskan waktu dengan keluarga. Ia mengaku bisa bekerja sampai larut malam.

"Bisa kalau lagi banyak-banyaknya (mengubur jenazah) sih bisa 3, 4 kali ya," kata dia.

Selain itu, Jimi juga mengatakan, harus pintar-pintar dalam menerapkan protokol kesehatan usai bekerja seharian mengubur jenazah korban Covid-19.

"Kita pulang mandi dulu pak di kantor. Mandi kan saya bawa salinan tiap hari. Jadi gak langsung pegang anak," ungkapnya.

Lebih lanjut, Jimi menuturkan, keluarganya pun selalu mendukung agar tetap semangat dalam menjalankan kewajiban mengubur jenazah Covid-19.

"Ya keluarga sih ikhlas-ikhlas aja pak, namanya tugas kita ikut aturan aja lah hehe," kata dia