Suara.com - Slogan "Tertawalah Sebelum Tertawa Itu Dilarang" kembali viral di media sosial setelah komika Bintang Emon diserang buzzer hingga dilaporkan ke Kominfo.
Intimidasi yang dilontarkan ke Bintang Emon bermula dari video kritik yang dibuatnya terhadap kasus Novel Baswedan.
Warganet yang membela Bintang Emon banyak memakai slogan "Tertawalah Sebelum Tertawa Itu Dilarang" untuk memberi dukungan.
Sebenarnya, slogan ini diciptakan oleh grup lawak legendaris Warkop DKI. Sejarah slogan itu terbentuk diceritakan oleh personil Warkop, Indro dalam acara Mata Najwa tahun 2016 lalu.
"Di pertengahan tahun 70an itu kami (Warkop) terbentuk. Bahkan saya belum ada waktu itu," tutur Indro Warkop.
Pada masa itu, Indro mengatakan semakin lama semakin susah membuat orang tertawa. Lantaran ada berbagai isu sosial politik yang menghantui.
"Dan semakin hari semakin susah bikin ketawa orang. Ketika kita mau bikin ketawa orang kita harus clingak-clinguk. Orang yang mau ketawa juga clingak-clinguk," ujarnya kepada Najwa Shihab.
Indro Warkop melanjutkan, "Dari situ kita pikir, waduh kita tertawa aja bakal dilarang kayaknya ini. Yaudah, tertawalah sekarang sebelum tertawa itu dilarang."
Dalam kesempatan itu, Indro membenarkan bahwa latar belakang personil Warkop sebagai aktivis membuat mereka kerap memasukkan unsur kritik sosial politik.
Baca Juga: Bukan Narkoba, Bintang Emon Pernah Dijebak Cicipi Alkohol
"Warkop itu terjadi justru karena tiga orang yang dulu, ada Rudy Badil, Kasino dan Nanu," kata Indro.
Menurut ceritanya, cikal bakal grup lawak Warkop terbentuk dari acara konsolidasi mahasiswa yang menolak kedatangan Perdana Menteri Jepang Tanaka Kakuei tahun 1974.
"Waktu itu di sebuah perkampungan mahasiswa UI. Sebetulnya itu sebuah acara konsolidasi untuk demo anti Jepang saat itu yang akhirnya menjadi Peristiwa Malari," ucap Indro.
Grup lawak ini kemudian dilirik oleh radio hingga diminta mengisi sebuah program siaran.
Pada minggu-minggu pertama siaran, para personil Warkop hanya membahas tentang alam. Lantaran mereka semua memiliki hobi sebagai pecinta alam.
Namun gara-gara rating menurun, mereka memutuskan membicarakan soal isu sosial politik.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Berlatih 2 Kali Sehari, Shin Tae-yong Pakai Metode Timnas Indonesia di Persija
-
4 Rekomendasi Buku dari Hyunjin Stray Kids, Ada 'Vegetarian' hingga 'Almond'!
-
Mikroplastik dalam Kosmetik: Bagaimana Produk Kecantikan Bisa Mencemari Lingkungan?
-
Isu Gerakan Massa Agustus Ramai di Medsos, Murni Keresahan Ekonomi atau Ada Kepentingan Politik?
-
Sungai Cihaur Diduga Dicemari Limbah, DLH Bandung Barat Kantongi Nama Pelakunya
-
Mau Debut Marathon Internasional? Program Ini Siap Dampingi Pelari Indonesia dari Nol Sampai Finish!
-
Kasus TPPU Eks Jampidsus, Kejagung Periksa Pengacara dan Pihak Swasta Terkait Aset
-
Viral, Fasilitas Perusahaan Sawit PT Bumi Sentosa Abadi Dibakar Massa
-
Bye Kulit Kering! 4 Hydrogel Mask Korea Panthenol Kunci Skin Barrier Kuat
-
Satu Perempuan, Ini Sosok Dua Terduga Pelaku Challenge Baca Alquran Hadiah Miras