Alumni Ilmu Biomedik dari Australian National University (ANU) ini mengatakan apapun perannya di dalam laboratorium, ia merasa termotivasi bisa ikut serta dalam proses pengetesan dan sekaligus menambah pengetahuan.
Begitu pula yang dialami Yora Permata Dewi, seorang peneliti yang bertugas menguji reaksi rantai polimerase, atau yang dikenal sebagai PCR, di laboratorium yang sama.
Awalnya, Yora sempat khawatir terinfeksi Covid-19. Apalagi ia juga baru pertama kali masuk level keselamatan laboratorium tiga (BSL-3), yakni satu tingkat di bawah level teratas dari segi bahaya.
"Sejak ada pandemi ini, jadi baru ikut BSL-3. Kan ini patogennya Covid, jadi kita di BSL-3. Biasanya nggak semua orang Eijkman bisa masuk situ, karena emang ada trainingnya segala macam itu. Jadi belajar hal baru juga pas pandemi ini," ujar Yora.
Asisten peneliti yang juga berusia 28 tahun itu, mengungkap sampel yang diterima laboratorium lembaganya terus bertambah seiring waktu.
Saat awal wabah merebak, lembaga itu menerima sekitar 30 hingga 250 sampel per hari. Angka itu terus meningkat, hingga pada bulan Juli, jumlah tertinggi yang diterima dalam sehari mencapai sekitar 800 sampel per hari.
Jelas ia harus menghabiskan waktu lebih lama meneliti sampel-sampel tersebut, tetapi faktor itu tidak menurunkan semangatnya.
"Pikirannya sih membantu orang. Juga kepikiran, misalnya seorang individu menunggu hasil apakah dia positif atau negatif, itu kan kadang-kadang mereka kayak anxious, cemas, kira-kira positif atau negatif.
"Terus juga pasien yang udah di-ventilator (alat bantu napas) atau yang juga gawat, mesti dapat hasil yang cepat. Jadi kita juga berpikir, kasihan juga pasiennya nunggu lama, misalnya, dia kan butuh pengobatan yang tepat dan cepat," kata Yora.
Baca Juga: Disnaker DKI: Biaya Tes Massal COVID-19 Dibebankan ke Perusahaan Swasta
Lulusan Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu mengaku tidak menyangka bakal berhadapan dengan penanganan wabah begitu cepat di jenjang kariernya, dimana ia baru dua tahun bertugas sebagai peneliti.
Namun, ia merasa beruntung bisa bekerja sama dengan para senior yang sudah memiliki pengalaman sebelumnya, termasuk diantaranya dalam penanganan flu burung.
"Yang pastinya kita harus belajar dari sekarang ini untuk prepare untuk yah pasti ada pandemi lagi yang akan datang. Jadi kita harus punya suatu prosedur atau regulasi yang benar-benar bisa menangani pandemi, termasuk mencegah juga," ujar Yora.
'Tolong dong patuhi protokol'
Kepala bagian Hubungan Masyarakat, Kolaborasi dan Protokol Eijkman, Wuryantari Setiadi, mengatakan seluruh peneliti dari berbagai laboratorium lembaga itu sejak awal memang sudah disatukan untuk bekerja dalam penanganan pandemi sebagai prioritas.
Wuryantari kini mengkoordinasi sekitar 90 orang lebih yang terlibat dalam ruang lingkup yang berbeda-beda, mulai dari pengetesan sampel hingga riset vaksin Covid-19.
Tag
Berita Terkait
-
Mengenal COVID-19 'Stratus' (XFG) yang Sudah Masuk Indonesia: Gejala dan Penularan
-
Kenali Virus Corona Varian Nimbus: Penularan, Gejala, hingga Pengobatan Covid-19 Terbaru
-
Mengenal Virus Corona Varian Nimbus, Penularan Kasus Melonjak di 13 Negara
-
7 Fakta Kenaikan Kasus COVID-19 Dunia, Thailand Kembali Berlakukan Sekolah Daring
-
Pasien COVID-19 di Taiwan Capai 41.000 Orang, Varian Baru Corona Kebal Imunitas?
Terpopuler
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- 6 HP Snapdragon Paling Murah RAM 8 GB untuk Investasi Gadget Jangka Panjang
- Sabun Cuci Muka Apa yang Bagus untuk Atasi Kulit Kusam? Ini 5 Pilihan agar Wajah Cerah
- 5 HP Infinix Termurah dengan Fitur NFC yang Canggih, Mulai Rp1 Jutaan
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Pesan Menohok Foke soal Beasiswa LPDP: Anak Betawi Nilainya Harus 11 untuk Bisa Jadi Tuan di Jakarta
-
Ratusan Dapur MBG Di-Suspend! BGN Temukan Masalah Serius dari Menu hingga Higiene
-
Lebaran Betawi 2026 Meriah di Lapangan Banteng, Pramono: Ini Identitas Asli Jakarta
-
Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus, Komnas HAM Tunggu Izin Panglima TNI Periksa 4 Prajurit
-
Fakta Baru OTT di Tulungagung: Adik Bupati Juga Ikut Diamankan KPK
-
Proyek Dikebut! Stasiun JIS Siap Beroperasi Juni 2026, Warga Bisa Naik KRL Langsung ke Stadion
-
Terungkap! OTT KPK di Tulungagung Diduga Terkait Skema Pemerasan
-
OTT KPK Tulungagung: 13 Orang Dibawa ke Jakarta, Bupati Ikut Diperiksa
-
Bupati Tulungagung Kena OTT KPK, Uang Ratusan Juta Ikut Disita
-
Kasus Pegawai KPK Gadungan Peras Sahroni, Ketua KPK Minta Tunggu Hasil Pemeriksaan Polisi