Tetapi yang lainnya tidak pernah dituntut. Di antara mereka adalah Pangeran Yasuhiko Asaka, paman kaisar yang juga memimpin pasukan Jepang dalam pemerkosaan terkenal di ibu kota China kala itu, Nanjing.
Membebaskan mereka dipandang oleh MacArthur sebagai kejahatan yang diperlukan. Tetapi keputusannya telah memungkinkan, bahkan mendorong, Jepang untuk menghindari perhitungan yang mendalam dengan masa lalunya.
Pria lain yang lolos dari persidangan adalah Nobusuke Kishi. Kishi memainkan peran utama dalam pendudukan Manchuria dan merupakan sekutu dekat pemimpin perang Hideki Tojo.
Orang Amerika memutuskan untuk tidak menuntutnya. Namun, pada tahun 1948 Kishi dibebaskan. Dia dilarang berpolitik selama pendudukan Amerika berlangsung.
Pada 1955, Kishi membantu dalam pembentukan kekuatan politik baru - Partai Demokrat Liberal. Segera dia menjadi pemimpinnya dan menjabat perdana menteri Jepang.
Rehabilitasi selesai, dan partai yang dia bantu ciptakan telah menguasai Jepang selama 65 tahun terakhir.
Putri Nobusuke Kishi menikah dengan putra dari dinasti politik kuat lainnya - seorang pria bernama Shintaro Abe.
Dia kemudian menjadi menteri luar negeri Jepang, dan menjadi ayah dari putranya yang bernama Shinzo, yang kini menjabat sebagai perdana menteri. Dinasti politik Jepang terbukti sangat tangguh.
Shinzo Abe konon dekat dengan kakeknya. Kishi memiliki pengaruh besar terhadap pandangan politik Shinzo muda.
Baca Juga: Pandemi Covid-19 Dinilai Lebih Buruk dari Perang Dunia II
Seperti banyak sekutunya di sayap kanan, Nobusuke Kishi berpikir bahwa lolosnya dirinya dari pengadilan kejahatan perang adalah keadilan pemenang. Tujuan seumur hidupnya tetap menghapuskan konstitusi pasifis pasca perang.
Dalam pidatonya tahun 1965, Kishi menyerukan persenjataan kembali Jepang sebagai "alat untuk memberantas sepenuhnya konsekuensi dari kekalahan Jepang dan pendudukan Amerika".
Ketika para kritikus Jepang di China dan Korea mengatakan bahwa negara tersebut tidak pernah meminta maaf dengan benar atas apa yang dilakukannya selama Perang Dunia Kedua, mereka salah.
Kelompok baru
Jepang telah berulang kali meminta maaf. Masalahnya adalah kata-kata dan tindakan lain yang diambil oleh para politikus terkemuka Jepang. Mereka berpendapat bahwa permintaan maaf tersebut tidak sepenuhnya tulus.
Pada 1997, kelompok baru dibentuk oleh elite politik Jepang. Ini disebut Nippon Kaigi. Ini bukan perkumpulan rahasia, tetapi banyak orang Jepang tetap tidak menyadari keberadaan atau tujuannya.
Tujuan tersebut adalah untuk "menghidupkan kembali kebanggaan dan identitas nasional Jepang, yang berbasis di sekitar keluarga Kekaisaran", untuk menghapus konstitusi pasifis, untuk melembagakan penghormatan terhadap bendera nasional, lagu kebangsaan dan sejarah nasional, dan untuk membangun kekuatan militer Jepang.
Anggota Nippon Kaigi terkemuka adalah Perdana Menteri Shinzo Abe, Wakil Perdana Menteri Taro Aso dan Gubernur Tokyo, Yuriko Koike.
Anggota lain dari Nippon Kaigi, hingga kematiannya, adalah Hiroo Onoda.
Ketika dia kembali ke negaranya pada pertengahan 1970, kondisi Jepang ketika itu tidak sesuai keinginannya. Dia percaya bahwa generasi pasca perang telah menjadi lunak.
Untuk suatu waktu, dia pindah ke Brasil dan tinggal di sebuah peternakan sapi. Kemudian dia kembali ke Jepang dan membuka sekolah untuk melatih anak muda Jepang dalam keterampilan yang membantunya bertahan hidup selama tiga dekade di hutan.
Ketika Hiroo Onoda meninggal pada tahun 2014 pada usia 91, juru bicara Perdana Menteri Abe sangat bersemangat dalam pidatonya. Dia tidak mengungkapkan tentang kesia-siaan atas gerilyanya yang sepi, atau menyebut tentang penduduk desa Filipina yang dia bunuh, lama setelah Jepang menyerah.
Sebaliknya, dia menggambarkan Hiroo Onoda sebagai pahlawan Jepang.
Berita Terkait
-
Pandemi Covid-19 Dinilai Lebih Buruk dari Perang Dunia II
-
Perang Dunia II: 75 Tahun Berlalu, 1 Juta Jenazah Orang Jepang Masih Hilang
-
Jepang Peringati Tragedi Hiroshima yang ke-75 Tahun
-
Pangeran Philip Terlibat dalam Perayaan 75 Tahun Perang Dunia II Berakhir
-
Giuseppe Paterno, Veteran Perang Dunia II Jadi Sarjana di Usia 96 Tahun
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Ulasan Novel Testimony of N: Ketika Kebohongan Menjadi Bentuk Perlindungan
-
Putusan MK soal Anggaran MBG Dinilai Masih Sisakan Celah hingga 2027
-
Bocah SD Diduga Jadi Korban Penganiayaan, Kini Jalani Operasi, Polisi Selidiki Kasusnya
-
Berapa Banyak Warga Sulsel Nikmati Program MBG? Ini Data Kementerian Keuangan
-
Usai Perry Warjiyo Mundur, Prabowo: Kita Harus Jadi Satu Tim yang Mendukung!
-
PN Jaksel Tolak Praperadilan Lodewyk Pusung, Status Tersangka Korupsi MBG Tetap Sah
-
Jatim Media Summit 2026: Ancaman Siber Mengintai Media dan Kreator, Keamanan Digital Jadi Keharusan
-
Mentan Luruskan Klaim Presiden Prabowo soal Penggilingan Padi Untung Rp2 Triliun per Bulan
-
Sudah 26 Tahun Tak Berubah, Mendagri Beri Lampu Hijau Revisi Aturan Gaji Kepala Daerah
-
Bukan Gagal, Penurunan Kepuasan Publik ke Prabowo Disebut Bukti Agenda Bersih-bersih Berjalan