- Ancaman penutupan Selat Hormuz menimbulkan kekhawatiran karena cadangan BBM Indonesia hanya bertahan sekitar 21 hari operasional.
- Pakar energi Arcandra Tahar mengklarifikasi bahwa stok 21 hari adalah cadangan operasional Pertamina, bukan Cadangan Strategis Nasional.
- Indonesia tidak memiliki Cadangan Minyak Strategis 90 hari seperti negara maju karena keterbatasan kapasitas finansial negara.
Suara.com - Memanasnya konflik di Timur Tengah yang berujung pada ancaman penutupan jalur perdagangan minyak vital di Selat Hormuz memicu kekhawatiran terhadap ketahanan energi nasional. Apalagi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya menyebutkan bahwa cadangan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia saat ini hanya mampu bertahan selama 21 hari.
Terkait kondisi yang dinilai mengkhawatirkan tersebut, pakar energi sekaligus mantan Menteri ESDM, Arcandra Tahar, buka suara. Ia meluruskan bahwa stok 21 hari yang disebut oleh pemerintah sebenarnya bukanlah Cadangan Strategis Nasional atau Strategic Petroleum Reserve (SPR).
“Kita tidak punya SPR, kita tidak punya Strategic Petroleum Reserve. Kenapa? yang kita punya 21 hari yang disampaikan Pak Bahlil itu adalah cadangan operasional Pertamina, bukan cadangan strategis nasional,” tegas Arcandra dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, Selasa (10/3/2026).
Arcandra juga membandingkan kondisi ketahanan energi Indonesia dengan negara-negara maju yang tergabung dalam Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).
Ia menjelaskan, berkaca dari krisis energi tahun 1973 di Amerika Serikat, negara-negara OECD diwajibkan memiliki cadangan strategis nasional yang mampu bertahan selama 90 hari tanpa impor. Waktu tiga bulan tersebut dinilai ideal karena diasumsikan krisis atau konflik global dapat mereda dalam rentang waktu tersebut.
Lantas, mengapa Indonesia sangat "optimistis" dan tidak meniru negara maju untuk membangun cadangan minyak 90 hari tersebut?
Menurut Arcandra, alasannya murni karena keterbatasan kapasitas finansial negara. Membangun tangki penyimpanan raksasa dan menimbun minyak mati (dead storage) untuk 90 hari membutuhkan dana dan cadangan devisa yang fantastis.
“Kalau bicara tentang Strategic Petroleum Reserve bagi negara maju mau ada dan tidak ada krisis dia akan simpan itu 90 hari. Tapi bagi negara yang berkembang yang tidak punya banyak kemewahan dari sisi fiskal, tidak punya banyak devisa, maka Strategic Petroleum Reserve-nya bukan berbasis kepada mungkin ya 90 hari storage mati di situ, bukan,” paparnya.
Sebagai jalan tengah untuk negara berkembang seperti Indonesia, Arcandra mengusulkan penerapan skema Cadangan Minyak Strategis Berbasis Risiko.
Baca Juga: Ingatkan Pemerintah Jangan Terburu-buru Naikkan Harga BBM, DPR: Harus Jadi Opsi Paling Akhir
Melalui pendekatan ini, negara tidak harus mengunci anggaran besar hanya untuk menyimpan minyak mati secara fisik dalam waktu lama. Sistem ini lebih menekankan pada manajemen risiko terukur, sehingga negara bisa mengamankan pasokan justru pada saat krisis benar-benar terjadi, bukan menimbunnya pada masa damai.
"Mungkin kita punya cara lain, misalnya risk-based strategic petroleum reserve. Sebesar apa risiko yang akan kita terima? Karena cadangan ini kita butuhkan pada saat krisis. Saat krisis kita punya pasokan, itulah intinya," pungkas Arcandra.
Pernyataan ini menjadi pengingat di tengah memanasnya perang koalisi AS-Israel melawan Iran. Jika jalur distribusi global melalui Teluk Persia benar-benar lumpuh dalam waktu yang lama, Indonesia dituntut segera merumuskan strategi jitu untuk mengamankan kebutuhan energi domestiknya.
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
-
Ingatkan Pemerintah Jangan Terburu-buru Naikkan Harga BBM, DPR: Harus Jadi Opsi Paling Akhir
-
Pemerintah: Harga BBM Tidak Akan Naik hingga Lebaran
-
Kementerian ESDM Pastikan Stok BBM 21 Hari Cukup: Seperti Tandon, Sebelum Habis Sudah Diisi Lagi
-
Pakar UGM Soroti Ketahanan Nasional, Konflik Global Tak Boleh Bebani Rakyat
-
Dampak Hebat Perang AS-Iran: Minyak Meroket hingga Harga BBM RI Terseret!
Terpopuler
- 43 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 7 Maret 2026: Klaim 10 Ribu Gems dan Kartu Legenda
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- 8 Rekomendasi Moisturizer Terbaik untuk Mencerahkan Wajah Jelang Lebaran
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Siapa Istri Zendhy Kusuma? Ini Profil Evi Santi Rahayu yang Polisikan Owner Bibi Kelinci
Pilihan
-
Selain Bupati, KPK Juga Gelandang Wabup Rejang Lebong ke Jakarta Usai OTT
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
-
BREAKING NEWS: Mantan Pj Gubernur Sulsel Tersangka Korupsi Bibit Nanas
-
Trump Cetak Sejarah di AS: Presiden Pertama yang Berperang Tanpa Didukung Warganya
Terkini
-
Pemerintah Revitalisasi 72 Sekolah Terdampak Bencana di Pidie Jaya: Habis Anggaran Rp 86,7 Miliar
-
Update Korban Perang: 1.332 Rakyat Iran Tewas Dibom Rudal AS-Israel
-
Ingatkan Pemerintah Jangan Terburu-buru Naikkan Harga BBM, DPR: Harus Jadi Opsi Paling Akhir
-
KPK Telusuri Aliran Gratifikasi Rita Widyasari, Periksa Japto Soerjosoemarno
-
Israel Ancam Incar Nyawa Pimpinan Baru Iran, 18 Aset Militer AS di Timur Tengah Terpetakan
-
Pesawat Jatuh di Maros, BPJS Ketenagakerjaan Serahkan Santunan Rp1,7 Miliar Kepada Ahli Waris
-
Hasil Cek Kesehatan Gratis, Kemenkes Ungkap 10 Persen Anak Indonesia Alami Masalah Kesehatan Mental
-
Viral Simulator Kuda Polri, Kadiv Humas: Pengadaan 2016, Harganya Rp1 Miliar
-
Jelang Putusan Praperadilan Gus Yaqut, KPK Optimis: Seluruh Proses Dilakukan Sesuai Perundangan
-
Importir Bawang Bombay Mini Ditangkap Polisi di Malang, Ratusan Karung Diamankan!