- Ketua Komisi XI DPR RI, M. Misbakhun, meminta pemerintah menunda kenaikan BBM subsidi akibat konflik Timur Tengah.
- Kenaikan harga BBM harus menjadi opsi terakhir guna menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi domestik.
- Pemerintah didesak membedah komponen harga BBM serta mencari solusi teknis fiskal sebelum mengambil kebijakan kenaikan.
Suara.com - Ketua Komisi XI DPR RI M. Misbakhun mewanti-wanti pemerintah agar tidak terburu-buru mengambil kebijakan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di tengah memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.
Menurutnya, menaikkan harga BBM harus menjadi opsi "paling akhir" guna menjaga daya beli masyarakat dan menekan angka inflasi.
Ia mengakui bahwa ketidakpastian global saat ini memberikan tekanan besar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Ia mencontohkan fluktuasi harga minyak yang sempat menyentuh angka 100 dolar AS per barel pada Senin lalu, namun kembali turun ke level 80 dolar AS pada hari berikutnya.
"Pemerintah harus menyiapkan banyak skenario yang sifatnya memberikan bantalan terhadap APBN kita. Mengingat asumsi ICP (Indonesian Crude Price) kita dipatok di angka 70 dolar, tentu ada risiko fiskal ketika harga melewati itu. Namun, yang disiapkan tidak semuanya harus menaikkan harga BBM," ujar Misbakhun di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Politisi Partai Golkar ini meminta pemerintah untuk melakukan pembedahan mendalam terhadap komponen-komponen pembentuk harga BBM sebelum mengambil kebijakan ekstrem.
Ia menekankan bahwa kenaikan harga BBM akan langsung memicu administered price inflation atau inflasi yang dipicu oleh kebijakan pemerintah.
"Kalau BBM dinaikkan harganya, nanti harga pokok transportasi pasti akan naik, pangan juga naik karena biaya produksi meningkat. Ini yang ingin dijaga pemerintah, kenapa subsidi diberikan? Supaya tidak memberikan tekanan terhadap inflasi dan mempengaruhi daya beli. Jika daya beli terganggu, pertumbuhan ekonomi kita akan terdampak," jelasnya.
Lebih lanjut, Misbakhun menjelaskan bahwa sebagai negara net importer, Indonesia memiliki celah untuk mengelola selisih harga.
Baca Juga: Beda Syarat DPR di Iran dan Indonesia, Viral Jadi Perbincangan Netizen
Indonesia mengekspor minyak mentah produksi dalam negeri dengan harga tinggi, dan mengimpor minyak untuk konsumsi dalam negeri dengan harga yang lebih rendah.
"Sebenarnya banyak yang bisa kita exercise untuk menghindari kenaikan harga minyak secara langsung. Ada selisih kurs dan selisih harga dari minyak kita yang lebih mahal. Jika kita mendetailkan unsur-unsur pembentuk harga di dalam minyak, opsi kenaikan itu seharusnya ditaruh paling akhir," tegasnya.
Pernyataan ini muncul merespons analisis mengenai potensi kenaikan harga BBM jika konflik di Timur Tengah terus menghimpit ruang fiskal APBN 2026.
Misbakhun berharap pemerintah lebih kreatif dalam mencari solusi teknis dibandingkan harus membebankan kenaikan harga langsung kepada konsumen.
Berita Terkait
-
Beda Syarat DPR di Iran dan Indonesia, Viral Jadi Perbincangan Netizen
-
Gebrakan Sahroni Usai Aktif Lagi di DPR, Tak Akan Terima Gaji dan Akan Didonasikan ke...
-
Pemerintah: Harga BBM Tidak Akan Naik hingga Lebaran
-
Kementerian ESDM Pastikan Stok BBM 21 Hari Cukup: Seperti Tandon, Sebelum Habis Sudah Diisi Lagi
-
Dampak Hebat Perang AS-Iran: Minyak Meroket hingga Harga BBM RI Terseret!
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap
-
Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta
-
Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal
-
Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda
-
Presiden Prabowo Subianto Sindir Wartawan Saat Bahas Tentang Kampanye Besar di Pidatonya
-
Hari Anak Nasional, Saatnya Perluas Ruang Belajar dan Kolaborasi untuk Dukung Tumbuh Kembang Anak
-
Honda ADV160 Ternyata Sanggup Tenggak Etanol 85 Persen, Harga Jauh Lebih Murah
-
Kulit Bersih Tanpa Rasa Kering dan Tertarik, Ini Pentingnya Memilih Cleansing Balm yang Gentle
-
Baru IPO, Emiten RANS Sudah Gonjang-ganjing! Satu Direktur Pilih Mundur
-
Bukan Supra Lagi Jadi Raja, Ini Motor Bebek Honda Paling Irit yang Kerap Diremehkan