Suara.com - Kondisi rumah tahanan (rutan) dan lembaga pemasyarakatan (lapas) yang berada di Provinsi Aceh melebihi kapasitas.
Hingga kini, Kantor Wilayah Kemenkumham Aceh mencatat sejumlah rutan dan lapas yang ada di Tanah Rencong tersebut telah melebihi kuota sampai 3.796 orang.
Kepala Kanwil Kemenkumham Aceh Zulkifli mengatakan, jumlah rutan yang ada di provinsi paling barat Indonesia ini sebanyak 26 Rutan dan Lapas, dengan total penghuni mencapai 7.901 orang.
Padahal, kapasitasnya hanya untuk menampung 4.105 orang.
"Kami sebenarnya kapasitas yang normal 4.105 orang, tapi sekarang dihuni oleh 7.901 orang, hampir overload 192 persen. Itu tidak saja di Aceh, tapi hampir seluruh provinsi," katanya seperti dilansir Antara di Banda Aceh pada Senin (17/8/2020).
Pernyataan itu disampaikan Zulkifli usai mengikuti upacara HUT ke-75 Republik Indonesia di Kantor Gubernur Aceh, bersama Plt Gubernur Aceh dan unsur Forkopimda, secara virtual dengan Presiden RI Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta.
Dia menjelaskan sebanyak 6.212 narapidana tersebar di seluruh Lapas dan Rutan di Aceh, baik Lapas narkotika, Lapas Perempuan, dan lembaga pembinaan khusus anak. Sementara para tahanan mencapai 1.689 orang.
Menurut dia, mayoritas napi dan tahanan tersebut tersandung kasus narkoba, selebihnya kasus korupsi hingga tindak pidana umumya lainnya. Meski Aceh sudah memiliki Lapas khusus narkotika di Kota Langsa, namun kapasitasnya belum juga mencukupi.
"Jadi total semuanya 7.901 orang, ini hampir 50 persen lebih berkaitan dengan kasus narkoba. Jadi di Aceh khusus napi narkoba, meski kita sudah ada Lapas narkoba tapi karena kapasitas terbatas maka setiap Lapas ada (napi narkoba, red)," ujarnya.
Baca Juga: Penjara Over Kapasitas, 8 Tahanan Kabur dari Mapolsek Medan
Lanjut Zulkifli, dalam mengantisipasi kelebihan kapasitas tersebut, Kanwil Kemenkumham Aceh melakukan pemindahan napi, dengan melihat Lapas atau Rutan yang dapat menampungnya.
"Misalnya Lapas di Blangpidie (Aceh Barat Daya), Lapas Meulaboh (Aceh Barat) memungkinkan untuk menampung, maka kita pindahkan kesana," ujarnya.
Pihaknya juga mempertimbangkan kedekatan napi dengan pihak keluarganya, sehingga dapat memberi ketenangan bagi setiap napi. Kecuali para napi yang dikhawatirkan akan melakukan tindakan melawan dari sisi keamanan.
"Apalagi kita di Aceh faktor keluarga juga memberikan suatu ketenangan bagi mereka baik persoalan pakaian, kunjungan keluarga, itu secara psikologisnya," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
ABK WNI Tewas Diserang Kelompok Houthi di Selat Bab Al Mandeb
-
WNA China Diduga Dilecehkan Saat Bikin Video di Lovina Bali
-
Bibit Durian Diturunkan di Pelabuhan Makassar Padahal Punya Izin, Ini Respons Badan Karantina
-
Karhutla Sumsel Mencapai 1.926 Hektare, Ancaman Besarnya Justru Setelah Api Padam
-
Karhutla Sumsel Tembus 664,97 Hektare, 1.077 Kejadian Tercatat hingga Agustus
-
Bank Sumsel Babel dan Kodam II/Sriwijaya Perkuat Akses Layanan Keuangan Prajurit
-
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Beberkan Alasan Geser Konser GBN dari Kota Tua ke Kabupaten Bogor
-
Polrestabes Bandung: Sopir Truk Jadi Tersangka Tabrak Lari yang Tewaskan Polisi
-
Cara Dapat Diskon Tiket Gaia Music Festival 2026 Pakai BRImo
-
Resah, Puluhan Pimpinan Media Lokal dari 4 Provinsi Kumpul di Pekanbaru Bahas Ekosistem Media