Suara.com - China menembakkan dua rudal, termasuk satu yang dijuluki "pembunuh kapal induk" ke kawasan Laut China Selatan (LCS). Hal itu dilakukan untuk memeringatkan Amerika Serikat.
South China Morning Post (SCMP) melaporkan pada hari ini bahwa Beijing menembakkan satu rudal balistik jarak menengah, DF-26B, dari provinsi Qinghai.
Sementara satu rudal balistik jarak menengah lainnya, DF-21D, ditembakkan dari provinsi Zhejiang pada satu haro sebelumnya sebagai tanggapan atas searngan udara AS di "zona larangan terbang".
Menanggapi hal itu, Mark Esper, kepala pertahanan AS, mengatakan China telah berulang kali gagal memenuhi janji untuk mematuhi hukum internasional.
Dia juga menegaskan China tampaknya paling gencar "melenturkan otot" alias memperlihatkan kekuatannya di kawasan Asia Tenggara.
Kedua rudal tersebut dilaporkan ditembakkan ke arah daerah antara provinsi Hainan dan Kepulauan Paracel yang disengketakan, menurut sumber yang tak disebutkan namanya dikutip SCMP.
Menurut surat kabar tersebut, sebuah pesawat mata-mata AS U-2 dilaporkan memasuki "zona larangan terbang" yang ditunjuk China pada Selasa (25/8/2020), saat angkatan laut Negeri Tiongkok tengah menggelar latihan di Laut Bohai.
Dalam sebuah posting media sosial, Liu Xiaoming, duta besar China untuk Inggris, mengatakan langkah AS sangat mengganggu latihan normal China dan aktivitas pelatihan.
Zhao Lijian, juru bicara kementerian luar negeri China, menggambarkan penerbangan pesawat mata-mata itu sebagai tindakan provokatif dan mendesak AS untuk berhenti.
Baca Juga: Lagi! 4 ABK Indonesia Diduga Disiksa di Kapal China
Rudal DF-26B, yang secara resmi diluncurkan awal bulan ini, mampu mencapai target bergerak di laut, menjadikannya "pembunuh kapal induk", menurut Global Times, media milik pemerintah China.
Juru bicara kementerian pertahanan China, Kolonel Senior Wu Qian, sebelumnya dikutip mengatakan rudal itu dapat membawa hulu ledak konvensional atau nuklir dan mampu meluncurkan serangan presisi ke target darat dan laut.
Dengan jangkauan 4.500 km (2.800 mil), DF-26 dapat mencapai Pasifik Barat dan Samudra Hindia, serta fasilitas Amerika di Guam, Pulau Diego Garcia di Inggris, dan bahkan kota Darwin di Australia.
Esper mengatakan Amerika Serikat memiliki tanggung jawab untuk memimpin di Pasifik dan tidak akan menyerahkan satu inci pun wilayah kepada negara-negara lain yang menganggap sistem politik mereka lebih baik.
"hina tidak memenuhi janji untuk mematuhi hukum, aturan, dan norma internasional, dan Beijing ingin memproyeksikan kekuatannya secara global," kata Esper.
"Untuk memajukan agenda PKT (Parati Komunis Tiongkok), Tentara Pembebasan Rakyat terus mengejar rencana modernisasi agresif untuk mencapai militer kelas dunia pada pertengahan abad ini," kata Esper.
Berita Terkait
-
Asosiasi Medis Minta Pemerintah AS Transparan Soal Vaksin Covid-19
-
Vaksin Covid-19 Tak Bertahan Lama, Dosisnya 2 Kali Suntik per Orang
-
4 Jam Terjebak dalam Mobil Patroli, Istri Polisi Meninggal Dunia
-
Gigafactory China Siap Distribusi Tesla Model Y, Harga Tembus Rp1 M
-
Jelang Dialog dengan Amerika, Korut Luncurkan Rudal Balistik
Terpopuler
- Biar Terlihat Muda Pakai Lipstik Warna Apa? Ini 5 Pilihan Shade yang Cocok
- 7 HP 5G Termurah 2026 Rp1 Jutaan, Tawarkan Chip Kencang dan Memori Lega
- 5 HP dengan Kamera Leica Termurah, Kualitas Flagship Harga Ramah di Kantong
- 16 Februari 2026 Bank Libur atau Tidak? Ini Jadwal Operasional BCA hingga BRI
- Terpopuler: 7 HP Layar Super Amoled, Samsung Galaxy A07 5G Rilis di Indonesia
Pilihan
-
Modus Tugas Kursus Terapis, Oknum Presenter TV Diduga Lecehkan Seorang Pria
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
Terkini
-
Pakai NIK, Cata Mudah Cek Bansos dan Desil DTSEN
-
IHR: Ndarboy Terkejut! IHR Jateng Derby 2026 Diserbu 37.000 Penonton
-
Buron Internasional! Dua Mantan Petinggi PT Pelita Cengkareng Paper Masuk Red Notice Interpol
-
Anggota DPR Dorong 630 Ribu Guru Madrasah Diangkat PPPK Demi Keadilan Pendidikan
-
Geger Data Militer Israel, 1 Tentara IDF Disebut Berstatus WNI di Tengah 50 Ribu Personel Asing
-
Pandu Negeri Soroti Kesejahteraan Guru dari Rumah Masa Kecil Ki Hadjar Dewantara
-
Siapa Aipda Dianita Agustina? Polwan yang Terseret Skandal Koper Narkoba AKBP Didik Putra Kuncoro
-
ICW Sebut Wacana Jokowi Kembalikan UU KPK 2019 sebagai Upaya 'Cuci Tangan'
-
Gus Falah Bongkar Standar Ganda Jokowi Soal UU KPK: Wujud 'Cuci Tangan'
-
BPBD DKI Jakarta Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem, Warga Diminta Siaga 1620 Februari