Suara.com - Koordinator Juru Bicara PSI, Kokok Dirgantoro mengusulkan agar Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyiapkan aturan yang jelas dalam perhelatan Pilkada di tengah pandemi Covid-19.
Salah satunya, usulan PSI yakni agar warga membawa paku sendiri dari rumah saat pencoblosan guna mencegah menyebaran Covid-19.
Menanggapi hal itu, Pakar Epidemiologi dari Universitas Griffith, Dicky Budiman, menilai jika ingin pelaksanaan Pilkada 2020 ingin tetap berjalan maka strategi pengendalian Covid-19 utama harus lebih dulu dilaksanakan.
Menurutnya, soal usulan PSI membawa paku masing-masing dari rumah itu hanya upaya tambahan pencegahan penyebaran virus Corona yang akan efektif bila pengendalian utamanya berhasil.
"Karena yang namanya protokol mau bawa paku mau bawa apapun yaitu sifatnya upaya tanbahan pencegahan, tapi akan sangat efektif ketika strategi pengendalian utama itu sudah dilakukan," kata Dicky saat dihubungi Suara.com, Kamis (24/9/2020).
Dicky sendiri sebagai epidemiolog menyarankan agar pelaksanaan Pilkada 2020 ini ditunda. Hal itu dilakukan sampai penyebaran Covid-19 terkendali.
"Menunda ini tidak harus sampai pandemi ini berakhir karena masih lama. Tapi setidaknya pada daerah wilayah-wilayah yang memang akan dilakukan pilkada itu pengendalian pendemi sudah terkendali sudah dalam situasi yang test positivity rate-nya di bawah lima persen tidak ada angka kematian," ungkapnya.
Dicky mengatakan, jika penyebaran bisa terkendali, bukan hanya penyelenggaraan Pilkada 2020 saja yang bisa digelar dengan aman. Akan tetapi juga akan berdampak kepada yang lainnya.
Ia menilai walau pun sudah ada protokol kesehatan, tidak serta merta begitu saja bisa menekan laju penyebaran Covid-19. Pasalnya protokol bisa berhasil kalau syaratnya bisa dilaksanakan.
Baca Juga: Ogah Demo Minta Pilkada 2020 Ditunda, FPI Ajak Masyarkat Tak Pergi ke TPS
"Ini yang harus dipahami. Protokol itu bukan lah satu protokol sakti. Protokol punya juga kondisi kepersyaratan menjadi efektif," tandasnya.
Usul Bawa Paku
Kokok mengatakan, terkait keputusan Pilkada, seharusnya pemerintah dapat mendengarkan pandangan dan masukan dari masyarakat termasuk dua organisasi Islam terbeesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama yang menyuarakan penundaan Pilkada.
"Meminta pemerintah mendengarkan sungguh-sungguh pernyataan dari beberapa pihak, terutama suara NU dan Muhammadiyah. Bisa segera membangun komunikasi politik presiden, DPR dan KPU terkait hubungan pilkada dan wabah," kata Kokok kepada Suara.com, Rabu (23/9/2020)
Kendati begitu, kata Kokok, apabila memang Pilkada tetap dilanjutkan tanpa ditunda maka keselamatan dan kesehatan rakyat harus diprioritaskan. Kokok menganggap pemerintah, DPR dan penyelenggara pemilihan umum dapat menerbitkan aturan baru yang lebih ketat terkait penerapan protokol kesehatan serta sanksi terhadap pelanggarnya.
Kokok berujar, tahapan Pilkada nantinya harus benar-benar disiplin protokol mulai dari pembatasan jumlah masyarakat saat tatap muka, memaksimalkan pertemuan via daring, hingga melarang pengumpulan massa dalam jumlah besar semisal dalam bentuk konser musik.
Berita Terkait
-
PSI Incar Jawa Tengah Jadi Kandang Gajah, Hasto PDIP Kasih Respons Santai, Begini Katanya
-
Kasus Isu Ijazah Palsu Jokowi, PSI Desak Polisi Segera Tahan Roy Suryo Cs
-
Taruhannya Nyawa! Anggota DPRD DKI Desak Gubernur Pramono Tertibkan Pasar Tanpa Izin SLF
-
PSI Tapsel Salurkan Bantuan ke Sangkunur, Sejumlah Desa Masih Terisolasi
-
Akses Tertutup, Drone Jadi Andalan Salurkan Bantuan Korban Banjir di Aceh
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
Pilihan
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
Terkini
-
Kerry Riza Ajak Masyarakat Lihat Perkaranya Berdasarkan Fakta Bukan Fitnah
-
Dugaan Korupsi Minyak Mentah: Saksi Bantah Ada Kontrak Sebut Tangki BBM OTM Jadi Milik Pertamina
-
Menuju JFSS 2026, Pemerintah dan Kadin Sepakat Ketahanan Pangan Jadi Prioritas Nasional
-
Aceh Tamiang Dapat 18 Rumah Rehabilitasi, Warga Bisa Tinggal Tenang
-
Usai di Komdigi, Massa Demo Datangi Polda Metro Jaya Minta Usut Kasus Mens Rea
-
Profil Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa: dari Pilot ke Pemimpin Provinsi Baru
-
Catatan Kritis Gerakan Nurani Bangsa: Demokrasi Terancam, Negara Abai Lingkungan
-
Satgas Pemulihan Bencana Sumatra Gelar Rapat Perdana, Siapkan Rencana Aksi
-
Roy Suryo Kirim Pesan Menohok ke Eggi Sudjana, Pejuang atau Sudah Pecundang?
-
Saksi Ungkap Rekam Rapat Chromebook Diam-diam Karena Curiga Diarahkan ke Satu Merek