Meskipun Thailand sudah lama menangani aksi protes, taktik ini sangat baru di Bangkok. Pada tahun-tahun sebelumnya, polisi harus berhadapan dengan pengunjuk rasa yang didukung oleh tokoh politik besar yang menduduki jalan atau lokasi strategis seperti bandara internasional selama berhari-hari atau berminggu-minggu.
Sekarang gerakan tersebut berbasis di dunia maya, dan pihak berwenang sedang berjuang untuk menghentikannya. Pemerintah pada Senin meminta penyedia layanan internet dan telepon untuk memblokir akses aplikasi Telegram, yang digunakan oleh para pengunjuk rasa dalam beberapa hari terakhir untuk mengoordinasikan rencana.
Bulan lalu, seorang menteri mengajukan pengaduan terhadap beberapa platform media sosial karena tidak mematuhi permintaan untuk menghapus konten yang dianggap "tidak pantas" oleh pemerintah.
Prayut juga memerintahkan polisi untuk menyensor media, sehari setelah pihak berwenang mengatakan mereka akan menyelidiki empat kantor berita yang mungkin melanggar keputusan darurat tersebut.
"Tugas kami adalah melindungi negara dan menghilangkan tindakan niat buruk yang bertujuan menciptakan kekacauan dan konflik," kata Prayut kepada wartawan setelah rapat kabinet.
Dampak ekonomi
Kebijakan untuk memblokir dan melarang media sosial seperti Facebook akan berdampak pada ekonomi, terlebih saat pandemi Covid-19.
Pengguna aktif Facebook di Thailand lebih dari 50 juta atau setara dengan lebih dari 70 persen populasi negara tersebut. Mereka menggunakan media sosial untuk mengobrol, berbelanja, dan mengikuti peristiwa terkini.
Ancaman pemerintah untuk mengambil tindakan hukum terhadap raksasa media sosial belum terwujud, meskipun beberapa postingan dan halaman telah dihapus atau diblokir.
Baca Juga: Demo di Thailand Masuk Hari Ke-6, Massa Putar Lagu K-Pop Girls' Generation
"Pemerintah merasa sulit untuk menekan gerakan pengorganisasian dunia maya tanpa pemimpin semacam ini," kata David Streckfuss, seorang sarjana politik Asia Tenggara dan penulis buku tentang hukum lese majeste Thailand.
"Mereka bisa saja menutup media sosial - mereka memiliki kekuatan untuk melakukan itu. Tapi itu harus dibayar mahal. Situasi ekonomi saat ini cukup buruk, dan banyak bisnis bergantung pada media sosial. Mereka akan membuat situasi ekonomi semakin buruk dan mendorong lebih banyak gerakan untuk melawannya." sambungnya.
Protes berdampak pada saham dan mata uang Thailand karena meningkatnya kekhawatiran bahwa kebuntuan yang berkepanjangan dapat mengikis pendapatan perusahaan dan menunda pemulihan ekonomi.
Sementara itu, penyelenggara aksi protes seperti Arthitaya akan terus berjalan. "Kami mendapatkan momentum untuk pergerakan lebih dari sebelumnya sehingga kami harus terus melakukan aksi unjuk rasa," katanya.
"Kemarahan dari pengunjuk rasa akan terus meningkat. Jika pemerintah terus melangkah," tegasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan