Suara.com - Setelah memberikan petunjuk menggoda beberapa hari lalu tentang "temuan baru yang menarik tentang Bulan", badan antariksa AS mengungkap bukti konklusif tentang temuan air di satu-satunya satelit alami kita.
"Deteksi molekul air yang tidak ambigu" ini akan meningkatkan harapan NASA untuk membangun pangkalan di bulan untuk eksplorasi ruang angkasa di masa mendatang.
Tujuannya adalah untuk memastikan keberlangsungan pangkalan tersebut dengan memanfaatkan sumber daya alam Bulan.
Temuan itu telah dipublikasikan di dua laporan yang diterbitkan di jurnal Natrue Astronomy.
- Air berbentuk es 'terdeteksi' di permukaan Bulan
- Apollo 11: Foto-foto terindah dari misi pendaratan di Bulan
- Gerhana Bulan sebagian tampak pada HUT ke-50 pendaratan di Bulan
Tidak seperti pendeteksian keberadaan air sebelumnya yang berada di bagian kawah bulan, para ilmuwan kini telah mendeteksi molekul tersebut di daerah permukaan Bulan yang diterangi matahari.
Berbicara dalam telekonferensi virtual, penulis Casey Honniball yang juga rekan pascadoktoral di Nasa's Goddard Space Flight Center di Maryland, mengatakan: "Jumlah air kira-kira setara dengan sebotol air ukuran 12 ons dalam satu meter kubik tanah bulan."
Rekannya di NASA, Jacob Bleacher, dari direktorat eksplorasi manusia, mengatakan para peneliti masih harus memahami sifat endapan berair.
Ini akan membantu mereka menentukan seberapa mudah materi itu dapat diakses dan digunakan oleh penjelajah bulan di masa mendatang.
Dan meski sebelumnya sudah ada tanda-tanda air di permukaan bulan, penemuan baru ini menunjukkan jumlahnya lebih banyak daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Baca Juga: NASA Yakin Ada Kandungan Air di Bulan, Tanda Kehidupan?
"Ini memberi kita lebih banyak pilihan untuk sumber air potensial di Bulan," kata Hannah Sargeant, seorang ilmuwan planetologi dari Open University di Milton Keynes, kepada BBC News.
"Lokasi pangkalan Bulan sebagian besar difokuskan di mana air berada."
Badan antariksa AS mengatakan akan mengirim perempuan pertama dan astronot pria berikutnya ke permukaan bulan pada tahun 2024 untuk mempersiapkan "lompatan raksasa berikutnya" - eksplorasi manusia di Mars pada awal tahun 2030-an.
Dr Sargeant menjelaskan bahwa itu berarti mengembangkan "cara yang lebih berkelanjutan dalam melakukan eksplorasi ruang angkasa".
"Sebagian dari itu menggunakan sumber daya lokal ini - terutama air," katanya kepada BBC News.
Bagaimana para ilmuwan menemukan air di permukaan bulan?
Temuan pertama keberadaan air di bulan berasal dari teleskop infra merah yang dikenal sebagai Sofia.
Observatorium ini, yang berada di pesawat Boeing 747 yang dimodifikasi, terbang di atas sebagian besar atmosfer Bumi, memberikan pemandangan Tata Surya yang sebagian besar tidak terhalang.
Menggunakan teleskop infra merah, para peneliti mengambil warna "tanda kunci" dari molekul air.
Para peneliti memperkirakan molekul air itu tersimpan dalam gelembung kaca atau di antara butiran di permukaan bulan yang melindunginya dari lingkungan yang keras.
Dalam studi lain, para ilmuwan mencari area yang berada di bayangan matahari secara permanen - yang dikenal sebagai perangkap dingin - di mana air dapat ditangkap dan disimpan secara permanen.
Mereka menemukan perangkap dingin ini di kedua kutub dan menyimpulkan bahwa "sekitar 40.000 kilometer persegi permukaan bulan memiliki kemampuan untuk memerangkap air".
Apa makna temuan ini?
Dr Sargeant mengatakan temuan ini bisa "memperluas daftar lokasi di mana kita bisa membangun pangkalan [di bulan]".
Akan ada beberapa misi ke daerah kutub Bulan dalam beberapa tahun mendatang. Namun dalam jangka panjang, ada rencana untuk membangun tempat tinggal permanen di permukaan bulan,
"Ini bisa berpengaruh. Ini memberi kami waktu untuk melakukan penyelidikan," kata peneliti Open University itu.
"Ini tidak memberi kami banyak waktu karena kami sudah mengerjakan ide-ide tentang pangkalan Bulan dan ke mana kita akan pergi, tapi itu lebih menjanjikan.
"Kami toh akan pergi ke Bulan. Tapi ini memberi kami lebih banyak pilihan dan menjadikannya tempat yang lebih menarik untuk dikunjungi."
Para ahli mengatakan bahwa air berbentuk es bisa menjadi dasar ekonomi bulan di masa depan, setelah kita menemukan cara mengekstraknya.
Akan jauh lebih murah untuk membuat bahan bakar roket di Bulan daripada mengirimkannya dari Bumi.
Jadi, ketika penjelajah bulan di masa depan ingin kembali ke Bumi, atau melakukan perjalanan ke tujuan lain, mereka dapat mengubah air menjadi hidrogen dan oksigen yang biasa digunakan untuk menggerakkan kendaraan luar angkasa.
Oleh karena itu, pengisian bahan bakar di Bulan dapat menurunkan biaya perjalanan ruang angkasa dan membuat pangkalan bulan lebih terjangkau.
Ikuti Victoria di Twitter.
Berita Terkait
-
CERPEN: Clarabella dan Anak-Anak Perindu Bulan
-
Momen Adem di Syukuran Kehamilan Alyssa Daguise, Mulan Jameela dan Maia Estianty Duduk Bareng
-
Teks Niat Puasa Rajab Sekaligus Qadha Ramadhan yang Benar, Apa Hukumnya?
-
Doa Buka Puasa Rajab Lengkap dengan Artinya, Jangan Sampai Terlewat!
-
Apa Saja Amalan Selama Bulan Rajab? Ini Kata Buya Yahya
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
Kutukan Pelatih Italia di Chelsea: Enzo Maresca Jadi Korban Ketujuh
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Ramalan Menkeu Purbaya soal IHSG Tembus 9.000 di Akhir Tahun Gagal Total
-
Tor Monitor! Ini Daftar Saham IPO Paling Gacor di 2025
Terkini
-
Pintu Air Pasar Ikan Siaga 1, Warga Pesisir Jakarta Diminta Waspada Banjir Rob
-
Jakarta Diprediksi Hujan Sepanjang Hari Ini, Terutama Bagian Selatan dan Timur
-
Revisi UU Sisdiknas Digodok, DPR Tekankan Integrasi Nilai Budaya dalam Pendidikan
-
Pendidikan Tak Boleh Terputus Bencana, Rektor IPB Pastikan Mahasiswa Korban Banjir Bisa Bebas UKT
-
42 Ribu Rumah Hilang, Bupati Aceh Tamiang Minta BLT hingga Bantuan Pangan ke Presiden Prabowo
-
Tanggul Belum Diperbaiki, Kampung Raja Aceh Tamiang Kembali Terendam Banjir
-
Prabowo Setujui Satgas Kuala! Anggarkan Rp60 Triliun untuk Keruk Sungai dari Laut
-
Tawuran Awali Tahun Baru di Jakarta, Pengamat Sebut Solusi Pemprov DKI Hanya Sentuh Permukaan
-
Tiket Museum Nasional Naik Drastis, Pengamat: Edukasi Jangan Dijadikan Bisnis!
-
Timbunan Sampah Malam Tahun Baru Jogja Capai 30 Ton, Didominasi Alas Plastik dan Gelas Minuman