Suara.com - Para pemimpin dari seluruh dunia bersama-sama mengecam serangan teror mematikan yang terjadi di sebuah katedral di Nice, Prancis. Kanselir Jerman Angela Merkel mengaku dirinya “sangat terguncang.”
Para pemimpin dari seluruh dunia mengutuk keras serangan penikaman mematikan pada Kamis (29/10) yang menewaskan tiga orang di Nice. Para penyidik Prancis menyebut serangan itu sebagai aksi terorisme.
Serangan penikaman itu terjadi pada peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad. Ini merupakan serangan teror ketiga yang terjadi dalam dua bulan di Prancis menyusul kritik keras umat Muslim atas karikatur Nabi Muhammad yang dicetak ulang oleh majalah satir Prancis Charlie Hebdo pada bulan September lalu.
Macron selama ini menegaskan akan tetap berpegang teguh pada tradisi dan hukum sekuler Prancis, yang menjamin kebebasan berbicara yang memungkinkan publikasi seperti Charlie Hebdo dapat dilakukan. Macron juga mengatakan agama Islam tengah mengalami krisis di seluruh dunia dan meminta warga muslim Prancis agar bersikap loyal kepada konstitusi republik.
Di bawah prinsip-prinsip sekularisme Prancis atau laïcité, institusi keagamaan tidak memiliki pengaruh atas kebijakan publik yang diemban pemerintah. Idenya adalah untuk menjamin kesetaraan semua kelompok agama dan keyakinan di mata hukum.
Macron menuduh minoritas muslim Prancis sedang mengalami “separatisme Islam,” di mana warga lebih menaati hukum Syariah ketimbang konstitusi negara. Namun, para pemimpin negara mayoritas Muslim, seperti Turki dan Pakistan, menuduh Macron “Islamophobia”.
Solidaritas Eropa Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan dia “sangat terguncang” oleh “pembunuhan mengerikan” di gereja di Nice, dan menyatakan rasa berdukanya bagi kerabat korban yang terbunuh.
“Bangsa Prancis memiliki solidaritas Jerman di saat-saat sulit ini,” kata Merkel melalui juru bicaranya Steffan Seibart di Twitter.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mencuit: “hati kami bersama rakyat Prancis”. “Amerika berdiri bersama sekutu tertua kami dalam perang ini. Serangan teroris Islam radikal ini harus segera dihentikan,” tambahnya.
Baca Juga: Serangan Mematikan di Prancis: Aksi Teroris di Jantung Basilika Notre-Dame
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan “seluruh Eropa” berada dalam solidaritas dengan Prancis menyusul “serangan keji dan brutal” yang terjadi.
“Pikiran saya bersama para korban tindakan kebencian ini. Kami akan tetap bersatu dan bertekad dalam menghadapi kebiadaban dan fanatisme,” cuitnya.
Uni Eropa kemudian mengeluarkan pernyataan bersama yang menyebut pembunuhan itu sebagai serangan terhadap “nilai-nilai bersama” blok itu. “Kami meminta para pemimpin di seluruh dunia untuk bekerja mengutamakan dialog dan pemahaman di antara komunitas dan agama dibanding perpecahan,” kata pernyataan itu.
Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte mengatakan “serangan keji” tidak akan “mengguncang perjuangan bersama dalam mempertahankan nilai-nilai kebebasan dan perdamaian.” “Keyakinan kami lebih kuat dari fanatisme, kebencian dan terror,” tambahnya.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengatakan bahwa Eropa “bersatu melawan kebencian” dan akan “terus mempertahankan kebebasan, nilai-nilai demokrasi, perdamaian dan keamanan warga negara.”
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan di Twitter bahwa dia “terkejut” mendengar berita tentang “serangan barbar di Basilika Notre-Dame.” “Pikiran kami bersama para korban dan keluarga mereka, dan Inggris berdiri teguh bersama Prancis melawan terror dan intoleransi,” ujarnya.
Berita Terkait
-
Deschamps Akui Prancis dan Inggris Sama-sama Ogah Main, tapi Tetap Serius Bidik Tempat Ketiga
-
Dicap Penakut karena Inggris Parkir Bus Lawan Argentina, Thomas Tuchel: Saya Tak Menyesal
-
Misi Terakhir Deschamps di Piala Dunia 2026: Kawal Kylian Mbappe Rebut Sepatu Emas dari Lionel Messi
-
Head to Head Prancis vs Inggris Jelang Perebutan Tempat Ketiga Piala Dunia 2026
-
Inggris vs Prancis: Konsistensi Penyerangan Prancis Berjumpa dengan Permainan Pragmatis Inggris
Terpopuler
- Parfum Paling Wangi Rasa Apa? Ini 5 Rekomendasi Aroma yang Populer
- 5 Rekomendasi Lipstik Wardah untuk Usia 40-an yang Elegan, Nyaman di Bibir dan Awet
- 5 HP Samsung Galaxy A Series Termurah: Layar Super AMOLED, 5G hingga NFC
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Pesaing Vario 125 dari Yamaha, Tampang Bernuansa R1M
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Indonesia Gabung WAICO, Pemerintah Tegaskan AI Bukan Ajang Pilih Kubu China-AS
-
3 Sunscreen Jepang agar Kulit Tampak Awet Muda, Lengkap Review Pembeli
-
Perjalanan Irwansyah Damanik, dari Pedagang Pasar Malam ke Bintang Warintil
-
Kemendag Menang Sengketa WTO, Akses Ekspor Rp7,34 Triliun ke Eropa Berhasil Diselamatkan
-
Tumpuk Sampah Sembarangan di Jakarta Bisa Berujung Denda Rp 500 Ribu
-
Meski Amplop Dikembalikan, KPK Bisa Jerat Raja Juli dengan Pasal Suap dan Gratifikasi
-
Anak Kecanduan Gawai Picu Gagal Ginjal dan Diabetes, Dedi Mulyadi Beri Peringatan Keras
-
Sopir Truk Wing Box Jadi Tersangka Kecelakaan Maut Pantura yang Tewaskan 12 Pengantar Pengantin
-
Lebak Darurat Air Bersih, Kemarau Panjang Landa 90 Desa di 23 Kecamatan
-
Disebut Medali 'Cokelat', Konate: Prancis Serius Bidik Tempat Ketiga di Piala Dunia 2026