Sang aktor utama komunikasi, dalam hal ini presiden, bukannya tidak bisa melakukan terobosan pribadi, bersikap spontan, dan kerap kali bahkan lepas konteks dengan pernyataan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Konsep bahwa informasi haruslah teruji kebenarannya, komunikasi harus logis dan terintegrasi antar pelaksana negara, atau pesan perlu disampaikan secara jelas tanpa ambigu dengan pendekatan yang santun-berbobot ala negarawan, tampaknya tidak berlaku di sepanjang empat tahun belakangan ini.
Adrenalin melonjak lebih tinggi jika kita melihat gaya kehumasan di era Presiden Donald Trump. Tiap detil kegiatan komunikasi publiknya berkontribusi mengubah wajah Amerika Serikat, menjadi sama sekali berbeda dari yang selama ini dikenal dunia.
Tim komunikasi Gedung Putih berubah menjadi bagian dari sebuah mesin propaganda besar, yang sayangnya kerap lemah dalam argumennya dan kesulitan untuk mendudukkan sebuah isu: apakah untuk kepentingan bangsa, atau untuk kepentingan politik pribadi Presiden.
Pendekatan yang mereka gunakan sebetulnya bukan hal baru, tetapi rupanya tidak pernah usang dan selalu berhasil menyentuh hati untuk membentuk loyalitas buta; yaitu fear communication yang dengan sengaja dirancang untuk menakut-nakuti warga, merendahkan kepercayaan diri atas kemunduran bangsa, menebarkan kekhawatiran bahwa negara akan runtuh, memercikkan kecurigaan akan segala sesuatu dan siapa pun pihak yang akan mengusik status quo para warga (terutama kulit putih), membangun ketidaksukaan atau ketakutan terhadap orang-orang dari negara lain atau yang dianggap asing, yang berarti memvalidasi xenophobia.
Secara internal, kampanye ini telah melukai bangsa secara psikologis dan melemahkan moral mereka. Ini diperburuk kenyataan bahwa tim komunikasi Trump tidak siap berganti fokus dan memitigasi krisis terkait ancaman nyata Pandemi Virus Corona.
Pemakaian masker untuk mencegah penularan Covid-19 di AS bahkan menjelma menjadi sebuah pernyataan politis: kepada kubu mana seorang individu berpihak. Tidak bisa diprediksi teori komunikasi apa yang akan digunakan tim Presiden Trump untuk dapat kembali mengendalikan situasi yang sudah berkembang sejauh ini, dan mencapai tujuan aspirasional masyarakat AS.
Secara eskternal di luar lingkungan kawasannya, Presiden Trump membangun narasi yang semata-mata Amerika-sentris dan justru dikemas antagonistis. Misalnya; kemandirian AS berarti tidak membutuhkan kerjasama dengan negara sekutu, tidak memerlukan dukungan lembaga dunia, menuding ketidakadilan bagi AS, memandang sebelah mata negara-negara lain hingga di titik selalu siap berkonflik, dan sebagainya.
Sungguh sebuah manuver yang sejatinya makin menjauhkan AS dari klaim “Make America Great Again”. Alih-alih, ini menciptakan persepsi dunia terhadap AS sebagai sebuah masyarakat yang sedang mengalami krisis jati diri dan haus pengakuan.
Baca Juga: Mengapa Keamanan di Gedung Capitol Bisa Ditembus?
Sekali lagi, hal ini meninggalkan tanda tanya besar, kemanakah titik akhir yang ingin ia tuju dari agenda settings tersebut?
Pesan dan Saluran Komunikasi di Tangan Trump
Berbagai pernyataan dan ekpresi Presiden Trump untuk audiens internal maupun eksternalnya disampaikan bahkan lebih banyak melalui media sosial (dalam hal ini dominan melalui Twitter), yang bukan pula resmi mewakili entitas negara, melainkan melalui akun pribadinya.
Ini jelas sebuah praktik yang melanggar prinsip-prinsip keamanan dan kredibilitas nasional. Bahkan hubungan dengan pers, sebagai rekan sejawat dalam praktik kehumasan negara, mengalami titik balik di masa ini.
Kerapnya lontaran dari mulut Presiden “you are a fake news” menjadi antitesis bagi mereka yang paham betapa pentingnya kerjasama dengan komunitas media. Tak terhitung aksi walk out presiden di kala ia sudah sangat terpojok dengan pertanyaan kritis pers.
Diksi-diksi yang digunakan oleh Presiden Trump juga menarik untuk ditelaah. Ia misalnya memopulerkan istilah “sosialis”, sebuah mazhab tata kelola negara yang bisa jadi tidak sepenuhnya dimengerti oleh banyak segmen masyarakat AS sebelumnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil Bekas 50 Jutaan Cocok untuk Milenial, Bodi Stylish Tak Repot Perawatan
- 5 Moisturizer dengan Alpha Arbutin untuk Memudarkan Flek Hitam, Cocok Dipakai Usia 40-an
- 5 Rekomendasi Ban Tubeless Motor Matic, Tidak Licin saat Hujan dan Jalan Berpasir
- 7 Mobil Boros Bahan Bakar Punya Tenaga Kuda, Tetapi Banyak Peminatnya
- Kronologi Lengkap Petugas KAI Diduga Dipecat Gara-Gara Tumbler Penumpang Hilang
Pilihan
-
Dirumorkan Latih Indonesia, Giovanni van Bronckhorst Tak Direstui Orang Tua?
-
Jadi Kebijakan Progresif, Sineas Indonesia Ingatkan Dampak Ekonomi LSF Hapus Kebijakan Sensor Film
-
Daftar Maskapai RI yang Pakai Airbus A320
-
5 Tempat Ngopi Tersembunyi di Palembang yang Bikin Ketagihan Sejak Seduhan Pertama
-
6 HP 5G Paling Murah di Bawah Rp 4 Juta, Investasi Terbaik untuk Gaming dan Streaming
Terkini
-
Bantu Korban Banjir Aceh, 94 SPPG Gerak Cepat Salurkan 282 Ribu Paket Makanan!
-
Tinjau Bencana Banjir di Aceh, Mendagri Beri Atensi pada Infrastruktur Publik yang Rusak
-
Presiden Prabowo Didesak Tetapkan Darurat Bencana Nasional di Sumatera
-
Banjir Terjang Sumatera, Pimpinan Komisi X DPR Desak Dispensasi Pembayaran Uang Sekolah Bagi Korban
-
Pakar Dorong Pengetatan IUP: Reboisasi Dinilai Kunci Perbaikan Tambang
-
Direktur Eksekutif CISA: Kapolri Konsisten Jaga Amanat Konstitusi sebagai Kekuatan Supremasi Sipil
-
Cak Imin Sebut Ada Peluang Pemerintah Tetapkan Banjir-Longsor di Sumatera Berstatus Bencana Nasional
-
Rasa Bersalah Bahlil Lahadalia Soal Masa Lalunya di Bisnis Tambang yang Merusak Hutan
-
Viral Banjir Sumatera Bawa Ribuan Kayu Gelondongan, DPR Desak Pemerintah Bentuk Tim Investigasi
-
BPJS Ketenagakerjaan Raih Platinum Rank dalam Asia Sustainability Reporting Rating (ASRRAT) 2025