Suara.com - Strategi Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam mengungkap adanya kudeta Partai Demokrat dinilai tidak matang. Alih-alih mendapat perhatian atas isu yang diangkat, AHY justru mendapat serangan balik.
Serangan balik itu datang atas pernyataannya sendiri. Pernyataan AHY dalam konferensi pers menyoal pengambil alihan Partai Demokrat oleh gerakan tertentu justru menjadi bumerang. Hal lebih buruk, AHY dipandang tidak siap untuk menghadapinya.
Kematangan AHY dalam berpolitik dinilai masih terlalu dini. Bahkan hanya untuk sekadar menahan dan membalas serangan balik yang dilancarkan para senior Partai Demokrat. AHY justru diserang dari sisi kepemimnannya yang dianggap gagal dan merugikan DPC dan DPD.
Dalam konferensi pers Forum Pendiri dan Senior Partai Demokrat di Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa kemarin, para eks kader membeberkan borok kepemimpinan AHY. Mulai dari DPC yang diminta uang iuran hingga sentralisasi penentuan kepala daerah dari sebelumnya ditentukan DPC dan DPD, kini ditentukan DPP.
"Tapi menjadi problem ini menjadi besar dan terlihat ya bahwa kemampuan berpolitiknya AHY, kemampuan berstrategi politiknya AHY itu tampak belum cukup matang. Kalah matang bahkan dibandingkan politikus-politikus yang lebih senior," kata Analis politik dari Exposit Strategic, Arif Susanto, kepada Suara.com, Rabu (3/2/2021)
Kurangnya kematangan politik yang dimiliki AHY terlihat dari hal lain, yakni tentang keberadaan empat faksi Partai Demokrat yang justru berpaling dari AHY dengan memilih Moeldoko. Mulai dari faksi Subur Budi Santoso, faksi Hadi Untung, faksi Anas Urbaningrum, dan faksi Marzuki Alie menyatakan ingin mengantar Moeldoko memimpin Partai Demokrat ke depan.
"Persis karena itu, kematangan strateginya masih ya butuh waktu. Dia kan anak baru dalam dunia politik. Dia mungkin tentara yang hebat bisa jadi, tapi dia belum menjadi politikus yang hebat. Dan salah satu buktinya adalah dia sendiri gagal mengelola faksionalisasi di dalam partainya untuk tidak menjadi sebuah konflik yang terbuka," kata Arif.
Arif kemudian menyoroti juga langkah AHY yang menarik Presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam isu kudeta Partai Demokrat. AHY mengaku telah berkirim surat ke Jokowi untuk meminta klarifikasi atas adanya informasi keterlibatan menteri dan pejabat di lingkas kekuasaan orang nomor satu itu.
Menurur Arif seharusnya hal itu tidak dilakukan. AHY disarankan menyelesaikan persoalan konflik Partai Demokrat dengan diplomasi secara diam-diam atau silent diplomacy.
Baca Juga: Moeldoko: Mau Kudeta? Lah Kudeta Apa
Hal serupa, kata Arif yang pernah dilakukan antara Jokowi dengan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto saat bertemu di Stasiun MRT, hingga diplomasi nasi goreng ala Ketua Umum PDIP Megawati saat menjamu Prabowo dikediamannya di Teuku Umar.
Dengan diplomasi seperti demikian, kata Arif AHY dapat berada atau ditempatkan pada posisi yang selevel dengan lawan politiknya. Selain itu, penyelesaian konflik secara diplomasi membuat AHY tidak terkesan mempermalikam lawan politik.
"Nah tapi kalau sekarang AHY meminta klarifikasi kepada Jokowi itu artinya AHY sedang menemaptkan dirinya lebih rendah dibanding Jokowi. Itu menunjukan belum matangnya AHY sebenarnya," kata Arif.
Tag
Berita Terkait
-
Dituduh Kudeta Partai Demokrat, Moeldoko: Emang Bisa Gua Todong Senjata DPC
-
Moeldoko: Mau Kudeta? Lah Kudeta Apa
-
Disebut Mau Nyapres, Moeldoko: Pernahkah Saya Bicara Tentang Pilpres 2024?
-
Moeldoko Buka Suara Soal Pertemuannya dengan Kader Partai Demokrat
-
Moeldoko Bantah Tudingan Ingin Kudeta Partai Demokrat
Terpopuler
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
- 5 Kipas Angin Sedingin AC Lebih Murah dan Irit Listrik
- Ramalan 12 Shio Bulan di Juli 2026: Peruntungan Karier, Keuangan, Asmara, dan Kesehatan
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Program 'Speling' Jateng di Banyumas, Wagub Taj Yasin Dekatkan Dokter Spesialis ke Tingkat Kecamatan
-
Rencana Kemasan Rokok Polos Tuai Protes, Dinilai Rugikan Petani dan Industri Tembakau
-
Roy Suryo Ajukan Praperadilan Lagi, Padahal Putusan Gugatan Pertama Tinggal Hitungan Hari
-
OTT Diduga Bocor di Kasus Bupati Kuansing dan Langkat, KPK Bakal Evaluasi
-
Agus Jabo Minta Kader PRIMA Kawal Program Kerakyatan Pemerintahan Prabowo
-
Pengembalian Gratifikasi Tak Hapus Pidana, KPK Bakal Dalami Pernyataan Raja Juli
-
Tawuran Remaja di Cengkareng Digagalkan Patroli Gabungan, Celurit hingga Petasan Disita
-
Transportasi dan Wisata Jakarta Bakal Digratiskan 5 Hari Saat HUT Ke-500
-
Sambut HUT ke-80, BNI Hadirkan Program Terus Ada, Ada Terus bagi Pengabdian untuk Negeri
-
Biaya Haji 2027 Berpotensi Naik, DPR Minta Pemerintah Cari Celah Efisiensi