Suara.com - Empat bulan sejak kejadian pemenggalan di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, belum ada tanda-tanda kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora dapat diringkus. Alih-alih dibekuk, kelompok itu justru terlibat kontak tembak dengan satgas Madago Raya hingga menewaskan satu anggota TNI pada Senin (01/03).
Kepolisian mengklaim kelompok MIT sudah melemah dengan senjata yang mereka miliki saat ini. Sementara pengamat terorisme menengarai wilayah persembunyian kelompok MIT mengecil.
Bagaimanapun, pegiat perdamaian wilayah Poso mengatakan operasi keamanan telah berlarut-larut dan tidak memberikan rasa aman kepada masyarakat.
- Kisah Desa Lemban Tongoa yang terusik aksi MIT pimpinan Ali Kalora
- Pasukan khusus TNI buru Ali Kalora pimpinan MIT, pengamat sarankan pakai strategi baru
- Polisi duga teroris MIT tewaskan satu keluarga di Sigi- Operasi Tinombala kembali dipertanyakan
Baku tembak yang melibatkan aparat keamanan dan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso pimpinan Ali Kalora terjadi di wilayah Pegunungan Andole, Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, pada Senin (01/03).
Insiden itu menyebabkan satu personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Poso gugur atas nama Praka Dedi Irawan. Dari pihak MIT, terdapat dua anggota mereka yang tewas atas nama Alvin alias Adam serta Khairul alias Irul. Saat ini dua jenazah sudah dimakamkan di wilayah Kota Palu.
Wakil Penanggung Jawab Operasi Madago Raya, Brigjen TNI Farid Makruf, mengatakan prajurit terbaiknya sudah mengenakan rompi antipeluru dan sudah sesuai prosedur dalam bertindak.
"Kontak tembak itu mengenai perut bagian bawah anggota kita dan tidak mengenai rompi anti peluru yang dipakainya," sebut Farid Makruf melalui pesan tertulis.
Kapolda Sulteng Irjen Abdul Rakhman Baso mengatakan kepada BBC Indonesia bahwa pengejaran masih terus dilakukan Satgas Madago Raya (dulu bernama Satgas Tinombala) di wilayah Pegunungan Andole.
Dari hasil olah tempat kejadian perkara, Satgas Madago Raya menemukan 11 butir amunisi senjata api laras panjang, ransel, golok, senter, GPS, dan baterai.
Baca Juga: 2 Teroris MIT Tewas Baku Tembak di Poso, Polri: Bukan Anak Ali Kalora
"Saat pengejaran dua orang lolos," ujar Kapolda Abdul Rakhman.
Menurutnya, jumlah personel kelompok MIT saat ini sembilan orang yang terbagi menjadi dua kelompok kecil. Kelompok tersebut sebelumnya beranggotakan 11 orang.
Kapolda Abdul Rakhman Baso mengklaim kelompok MIT pimpinan Ali Kalora mulai melemah.
"Mereka kekurangan logistik bahan makanan. Senjata yang dimiliki kelompok MIT ini tinggal tiga pucuk: dua pucuk senjata pendek dan satu pucuk senjata api panjang," tuturnya.
Kontak tembak tersebut berlangsung empat bulan setelah sebanyak empat orang yang terdiri dari pasangan suami istri, anak, dan menantunya tewas di Dusun Tokelemo, Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.
Selain itu ada enam rumah yang dibakar. Salah satu rumah biasa dipakai sebagai tempat ibadah umat Nasrani.
'Semakin terdesak'
Pascakontak tembak kelompok MIT dan Satgas Madago Raya, pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Ridwan Habib, menengarai kelompok MIT pimpinan Ali Kalora saat ini semakin terdesak.
Penilaiannya didasarkan pada alasan bahwa jumlah personel kelompok itu semakin sedikit dan persenjataan yang mereka miliki tinggal tiga pucuk. Selain itu, wilayah persembuyian mereka sudah terdeteksi.
"MIT semakin terdesak. Dan tampaknya susah bagi mereka mendapatkan bantuan dari luar karena posisinya tidak memungkinkan dari sisi itu. Sekat-sekat dari Satgas Madago Raya begitu ketat sehingga bantuan dari luar susah masuk ke mereka. Ini membuat mereka terdesak dan bertahan dengan cara apa yang mereka bisa," kata Ridwan.
Menurutnya, jalan terbaik buat kelompok MIT adalah menyerahkan diri.
"Kalau mereka ini memaksakan diri melawan, maka bisa dipastikan mereka akan habis dalam kontak tembak. Tetapi bisa saja mereka menyerahkan diri menuju ke pos terdekat atau desa terdekat di pegunungan."
"Kemudian menyatakan menyerahkan diri barangkali mereka masih bisa diproses hukum. Tentu harus mempertanggungjawabkan tindakan mereka yang meneror masyarakat," paparnya.
'Yang aman siapa sebenarnya?'
Merlian Gogali, pendiri Sekolah Perempuan dan Institut Mosintuwu untuk perempuan lintas agama di Kabupaten Poso, berpendapat operasi kemanan di Poso berlarut-larut mengingat operasi ini berlangsung sejak 2012 silam. Menurutnya nama sandi operasi sudah diganti, namun metode yang digunakan tetap sama.
Lian mengatakan metode yang sama ini terbukti tidak memberikan rasa aman.
"Bahkan sebaliknya menimbulkan teror dan ketakutan masyarakat dan berdampak signifikan sebenarnya sama masyarakat khususnya terkait dengan ekonomi dan juga sosial."
"Wilayah-wilayah operasi keamanan ini kan berada di ratusan hektare kebun warga. Dan itu mata pencarian utama warga. Karena operasi ini ada banyak warga yang dalam tujuh tahun terakhir meninggalkan puluhan hektare lahan kebunnya di daerah operasi militer dan tidak bisa diolah lagi, sehingga mereka beralih lapangan pekerjaan," kata Lian.
Dia mengatakan warga takut dianggap membantu aparat keamanan oleh kelompok bersenjata, dan sebaliknya warga khawatir dianggap membantu kelompok MIT oleh aparat keamanan.
"Jadi sebenarnya metode ini harus dievaluasi, dari pandangan masyarakat. Supaya operasi ini bisa memberikan rasa aman kepada masyarakat. Jadi kalau sebutannya operasi keamanan, yang aman ini siapa sebenarnya?" ujar Lian.
Berita Terkait
-
Kriminolog Soroti Penangkapan 8 Teroris Poso: Sel Radikal Masih Aktif Beregenerasi
-
Sebar Propaganda Lewat Medsos, Densus 88 Tangkap 8 Terduga Teroris Jaringan JAD di Sulteng!
-
Gelar Aksi di BPK RI, Massa Desak Audit Investigatif Dugaan Kredit Macet Kalla Group
-
JK Pertimbangkan Lapor Balik Pelapor Kasus Dugaan Penistaan Agama: Mereka Memfitnah Saya!
-
JK Klarifikasi Pernyataan Soal Poso-Ambon: Saya Bicara Realita Sosiologis, Bukan Dogma Agama
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Era Baru Dimulai, Robot Rp234 Juta Disumpah Jadi Biksu Buddha
-
Hantavirus Tewaskan 3 Orang, Bakal Jadi Pandemi? Ini Penjelasan Resmi WHO
-
Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional
-
33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi
-
Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia
-
Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF
-
Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan
-
Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China
-
Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah
-
Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP