News / internasional
Siswanto | BBC
BBC

Suara.com - Pada awal pandemi virus corona, Josephine Muchilwa masih bekerja sebagai juru masak, tetapi seperti banyak orang lain di Kenya dan seluruh dunia, dia kemudian kehilangan pekerjaan.

Bagaimana ibu empat anak itu bertahan hidup selama pandemi yang telah berlangsung lebih dari satu tahun? Josephine menceritakan perjuangannya kepada wartawan BBC Ed Butler.

"Saya tidak punya pekerjaan, saya tidak punya kehidupan, saya tidak punya makanan untuk anak-anak saya."

Itu adalah dampak yang ditanggung Josephine akibat virus corona dan karantina wilayah yang diberlakukan di tempat tinggalnya.

Baca Juga: Mengapa Bisa Positif Covid-19 Usai Suntik Vaksin? Ini Sebabnya

Hanya dalam beberapa hari setelah pemerintah mengumumkan aturan jam malam yang ketat untuk membatasi penyebaran Covid-19, ibu tunggal yang tinggal di Kibera - kawasan kumuh dan padat di Kota Nairobi, langsung menghadapi kesulitan secara beruntun.

Josephine kehilangan pekerjaannya yang bergaji rendah di dapur sekolah setempat ketika murid-murid disuruh belajar di rumah.

Josephine bertanya-tanya bagaimana dia akan memberi makan keempat anaknya.

"Saya hanya memohon kepada Tuhan," kata perempuan berusia 31 tahun itu kepada Business Daily. "Saya tidak tahu harus berbuat apa."

Setelah pengalamannya tersiar, beberapa pendengar yang murah hati turun tangan memberikan sumbangan.

Baca Juga: Update 30 Maret: Warga Indonesia Positif Covid-19 Tembus 1.505.775 Orang

Angka itu bukan jumlah yang besar - sekitar Rp2 juta - tetapi cukup bagi Josephine untuk menopang usaha buah dan sayurannya.

Menggunakan bus menuju pasar grosir di pusat ibu kota Kenya, Josephine membeli 25 kilogram bawang, tomat, dan lainnya untuk kemudian dibawa kembali ke Kibera dan dijual di sebuah kios kayu kecil.

Josephine kemudian mulai mengirimkan rekaman tentang catatan hariannya dari ruangan satu kamar berdinding lumpur kering tentang upayanya untuk membuat bisnis itu berhasil.

Peristiwa ini terjadi tepat ketika Kibera, yang merupakan permukiman informal raksasa di jantung Nairobi, jatuh ke dalam krisis.

Sebagian besar orang di wilayah itu bekerja sebagai pembantu rumah tangga, tukang bersih-bersih, atau pengemudi.

Mereka harus kehilangan pekerjaan karena dipecat oleh tuan mereka karena takut menularkan penyakit jika masih bekerja.

'Anak-anak bisa makan'

Pada awalnya semua berjalan lancar, Josephine terlihat mampu melawan rintangan karena ada 8-10 pelanggan dalam sehari.

"Saya mendapat untung 170 shilling (Rp21 ribu)," katanya dalam satu percakapan Mei lalu. "Anak-anak baik-baik saja, mereka bahagia, setidaknya mereka makan."

Tapi itu hanya sesaat, rintangan terus datang, apalagi Josephine tidak memiliki pengalaman sebagai seorang pengusaha.

Wilayahnya berada dalam jam malam. Polisi secara rutin dan kejam melakukan operasi untuk menangkap para pelanggar yang masuk dan keluar wilayah itu.

Ditambah lagi, dia harus memikirkan keempat anaknya seiring meningkatnya kriminalitas di tempat tinggalnya.

"Kasus pemerkosaan meningkat," katanya. "Jika saya meninggalkan anak-anak sendirian, siapa pun dapat masuk dan melakukan apa saja untuk mereka."

Dan juga, hanya sedikit orang yang sekarang memiliki penghasilan untuk membeli apa yang Josephine jual. Para tetangga Josephine tidak bekerja dan hidup dari tabungan yang mereka miliki.

Kemudian bencana benar-benar terjadi. Josephine terjangkit malaria dan dia harus meminjam uang dari pemberi pinjaman lokal untuk pengobatan.

Meningkatnya jumlah utang seperti ini tampaknya marak terjadi di permukiman informal. Seorang pegadaian lokal, bernama Rodgers, mengatakan kepada BBC bahwa dia telah kehabisan uang untuk dipinjamkan akibat tingginya permintaan.

Banyak yang tidak bisa mengembalikan pinjaman, katanya, jadi dia menjual barang-barang rumah tangga yang mereka sediakan sebagai jaminan.

Sementara itu, Josephine tidak memiliki apa-apa untuk diperdagangkan.

Kios hancur

Sampai hari ini, Josephine khawatir bahwa pinjamannya yang belum dibayar, sejumlah Rp400 ribu, bisa membuatnya terperangkap dalam masalah serius.

Peluang untuk membayar kembali pinjamannya semakin sulit ketika pada Juni tahun lalu, buldoser milik pemerintah menerobos wilayah Kibera tempat kiosnya berdiri.

Pemerintah membuka jalan untuk pengembangan perkeretaapian baru, kata mereka.

Pemerintah mengklaim pemilik telah diberi beberapa kali peringatan. Tetapi sebagai penyewa, Josephine mengatakan dia tidak tahu.

Yang menambah semakin berat ternyata Josephine baru saja menaruh sejumlah besar stok di kios itu, yang hancur bersama dengan struktur kayunya. Sekali lagi, dia bangkrut dan mimpinya untuk menjadi pengusaha berakhir.

"Hari itu saya benar-benar menangis - hampir tiga hari. Saya merasa sangat sakit. Saya bahkan tidak bisa makan. Dan ketika saya melihat situasi hidup saya sekarang, itu menjadi sangat sulit."

Pandemi itu sendiri telah menyerang jutaan orang di Kenya dan sekitarnya dengan cara ini, tampaknya.


Secara resmi ada sekitar 2.100 kematian akibat Covid-19 di Kenya meskipun beberapa ahli percaya angka sebenarnya bisa jauh lebih tinggi dari itu.

Tetapi bagi orang-orang di Kibera, ada perasaan bahwa komunitas mereka telah diserang secara tidak proporsional oleh pembatasan anti-Covid pemerintah, dan tindakan polisi untuk menegakkan aturan tersebut sering kali berupa kekerasan dengan kesewenangan.

"Orang-orang yang hidup [dengan penghasilan] di bawah Rp30 ribu sehari, mereka tahu jika sakit maka akan mati," kata Kennedy Odede, seorang aktivis kelahiran Kibera, dan pendiri yayasan lokal Shining Hope.

"Kami ingin pemerintah memastikan bahwa permukiman kumuh adalah prioritas mereka, untuk memastikan kami memiliki jalan, perawatan kesehatan yang baik, air bersih."

Tetapi pemerintah tidak akan mencabut pembatasan. Bulan lalu, jam malam nasional diperpanjang akibat peningkatan yang mengkhawatirkan dari gelombang ketiga infeksi Covid-19.


Setahun telah terlewati dan Josephine masih terus berjuang. Dia belum memiliki penghasilan tetap, dan anak-anaknya harus hidup dari semangkuk bubur sehari.

"Suatu hari saya bermimpi menjadi seorang dokter," kata putri tertuanya, Shamim yang berusia 11 tahun. "Hari ini aku memimpikan makanan."

Josephine sesekali mendapatkan pekerjaan sebagai pembersih, tetapi ada seseorang yang belum membayarnya untuk pekerjaan tiga hari.

Namun berkat amal Shining Hope, babak baru dalam hidup Josephine bisa segera dimulai.

Dia menjalani pelatihan ulang sebagai penjahit, untuk mendapatkan pekerjaan yang diklaim oleh rekan kerja berpengalaman dapat menghasilkan beberapa dolar sehari.

Josephine berharap perjalanan satu tahun yang sangat berat dapat membuat ia dan anak-anaknya menjadi lebih kuat dalam menjalani hidup.