- Komisi II DPR RI memulai penyusunan revisi UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu pada Selasa (10/3/2026).
- Rapat tersebut dihadiri tiga pakar hukum tata negara untuk memastikan kualitas Pemilu 2029 dan pemilu mendatang.
- Tujuan utama RDPU adalah menyerap aspirasi sebelum pembentukan Panja guna mengakomodasi putusan MK.
Suara.com - Komisi II DPR RI mulai tancap gas menyusun revisi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (UU Pemilu). Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) yang digelar di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (10/3/2026), Komisi II menghadirkan tiga pakar hukum tata negara kenamaan: Jimly Asshiddiqie, Mahfud MD, dan Refly Harun.
Ketua Komisi II DPR RI, Rifqinizamy Karsayuda, menegaskan bahwa langkah ini diambil untuk memastikan Pemilu 2029 dan pemilu-pemilu mendatang berjalan lebih berkualitas.
Menurutnya, perbaikan regulasi sangat krusial agar demokrasi konstitusional Indonesia menjadi lebih mapan di masa depan.
"Kita semua berkepentingan menghadirkan Pemilu tahun 2029 dan pemilu-pemilu berikutnya menjadi jauh lebih baik, agar kemudian demokrasi konstitusional kita menjadi lebih mapan ke depan," ujar Rifqinizamy saat membuka rapat.
Menjawab kritik mengenai mengapa para ahli sudah diundang padahal Panitia Kerja (Panja) belum resmi dibentuk, Rifqinizamy menjelaskan bahwa hal ini merupakan bagian dari strategi legislasi Komisi II.
Pihaknya ingin menyerap aspirasi sebanyak mungkin sebelum menyusun Daftar Inventarisasi Masalah (DIM).
"Kami ingin mendengar dulu sebanyak mungkin pikiran, pandangan, dan kritik. Dari sana, DIM akan muncul, lalu kami buat usulan norma. Begitu Panja dibentuk, kami berharap DIM dari para ahli, pakar, hingga NGO sudah disusun dengan baik. Termasuk mengakomodasi 22 putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengabulkan uji materi terhadap UU 7/2017," jelasnya.
Dengan strategi ini, ia berharap kerja Panja nantinya akan lebih efektif dan terarah karena sudah memiliki fondasi kuat dari masukan para pakar.
Di tempat yang sama, Jimly Asshiddiqie mengapresiasi langkah cepat Komisi II yang sudah memulai jadwal pembahasan sejak dua bulan lalu.
Baca Juga: Kesimpulan Rapat Dengar Pendapat Umum Komisi III DPR RI dengan Nabilah O'Brien dan Kuasa Hukum
Ia menekankan pentingnya konsep meaningful participation atau partisipasi masyarakat yang bermakna dalam penyusunan UU Pemilu.
"Saya apresiasi jadwal sudah dimulai sejak dua bulan ya. Nanti sesudah Panja pun tetap terbuka begini, supaya meaningful participation itu betul-betul berjalan, apalagi ini urusan pemilu. Masya Allah, semua orang merasa punya kepentingan," kata Jimly.
Mantan Ketua MK ini juga mendorong agar DPR tidak ragu untuk beradu gagasan besar dalam forum-forum seperti ini. Ia mengingatkan agar proses legislasi tidak terjebak pada hitung-hitungan dukungan politik semata di awal proses.
"Mempertengkarkan ide itu bagus dalam demokrasi. Tidak usah langsung memikirkan berapa jumlah yang mendukung A atau B. Kita harus buka ini dengan bertengkar ide-ide besar. Konsolidasi kebijakan politik ini adalah soal serius," pungkas Jimly.
Berita Terkait
-
Kesimpulan Rapat Dengar Pendapat Umum Komisi III DPR RI dengan Nabilah O'Brien dan Kuasa Hukum
-
Mahfud MD Heran Gus Yaqut Jadi Tersangka: Kuota Haji Itu Bukan Kerugian Negara!
-
Tinggal Lapor ke Prabowo, Komisi Reformasi Polri: Ada 8 Perpol dan 24 Perkap Harus Direvisi
-
DPR Perkuat Sinergi dengan Kementerian Keuangan, Tindaklanjuti Aspirasi ADKASI
-
Jimly Mau Bisik-bisik ke Prabowo, Minta Waktu Lapor Hasil Komisi Percepatan Reformasi Polri
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
Terkini
-
Bahlil: Batas Masa Jabatan Ketum Parpol Tak Perlu Diseragamkan
-
Tanggapi Santai Usulan KPK, Bahlil: Di Golkar Jangankan 2 Periode, Satu Periode Saja Sering Ganti
-
YLBHI Desak Presiden dan Panglima TNI Hentikan Peradilan Militer yang Dinilai Tidak Adil
-
UU PPRT Disahkan, Akademisi UGM Soroti Celah Sanksi dan Kesiapan Jaminan Sosial
-
Tragedi PRT Lompat dari Lantai 4 Kos Benhil, Polisi Endus Dugaan Tindak Pidana
-
BNI Ingatkan Nasabah Waspadai Vishing dan Phishing, Tekankan Pentingnya Jaga Data Pribadi
-
AHY Dorong Model Penataan Kampung Mrican Sleman Jadi Percontohan Nasional
-
Benyamin Netanyahu Menderita Kanker Prostat
-
Nekat Olah Ikan Sapu-Sapu untuk Bahan Siomay, 5 Pria Diciduk Petugas Satpol PP
-
Tak Percaya Peradilan Militer, Pihak Andrie Yunus Tolak Hadiri Persidangan 29 April