Suara.com - Kapal selam KRI Nanggala 402 dari jajaran Armada II Surabaya hilang kontak ketika sedang melakukan latihan penembakan senjata strategis di perairan Selat Bali hari Rabu (21/4), demikian pernyataan pers Kementerian Pertahanan.
Diwawancarai melalui telepon, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan kapal selam buatan HDW (Howaldtswerke Deutsche Werft) Jerman tahun 1977, yang mulai digunakan TNI Angkatan Laut sejak tahun 1981 itu, “membawa 53 personil.” Ia mengatakan “akan menuju ke sasaran besok pagi” untuk memimpin langsung operasi pencarian.
Lebih jauh Hadi Tjahjanto mengatakan beberapa negara sudah menawarkan bantuan untuk mencari kapal selam itu, termasuk “MV SWIFT Rescue dari Singapura yang malam ini sudah bergerak menuju perairan Bali, dengan estimasi tiga hari perjalanan untuk membantu pencarian di bawah air.”
KRI Nanggala yang membawa 53 awak, yang mencakup 49 ABK, satu komandan dan tiga orang Arsenal, sedang melaksanakan penembakan Torpedo SUT ketika meminta ijin menyelam sekitar jam 3 WIB. Keterangan dari Kementerian Pertahanan mengatakan “setelah diberi ijin menyelam sesuai prosedur, kapal hilang kontak dan tidak bisa dihubungi.” Diduga kapal jatuh di kedalaman 700 meter.
Beberapa kapal lain yang sedang mengikuti latihan itu langsung melakukan pencarian dan “pada pukul 7 WIB melalui pengamatan udara dengan helikopter, ditemukan tumpahan minyak di sekitar posisi awal menyelam.”
Kementerian Pertahanan mengatakan operasi pencarian masih terus dilakukan dengan mengerahkan KRI Rigel dari Dishidros Jakarta dan KRI Rengat dari Satuan Ranjau untuk mencari dengan piranti side-scan-sonar.
TNI Angkatan Laut juga telah mengirim sinyal ISMERLO (Internasional Submarine Escape and Rescue Liaison Officer) dan sudah ditanggapi oleh beberapa negara, antara lain Angkatan Laut Singapura, Australia dan India.
Faktor Usia Kapal dan Kelalaian Manusia
Peneliti Pertahanan dan Keamanan LIPI Diandra M Mengko menilai ada beberapa faktor yang dapat menjadi pemicu peristiwa hilangnya kontak KRI Nanggala. Antara lain usia kapal dan kelalaian manusia.
Baca Juga: Kemhan Sebut Ada Tumpahan Minyak di Lokasi Awal KRI Nanggala-402
"Untuk lebih jelasnya memang perlu proses evaluasi dari pihak Kemenhan dan TNI," ujar Diandra M Mengko kepada VOA, Rabu malam.
Ia mengusulkan pemerintah mengevaluasi kondisi alutsista agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Termasuk evaluasi terkait perkembangan Minimum Essential Force (MEF) yang sudah berjalan 11 tahun. MEF merupakan kekuatan pokok minimal yang harus dimiliki untuk pertahanan suatu negara.
"Ini perlu benar-benar dievaluasi, agar dapat meminimalisir timbulnya permasalahan pada mesin atau peralatan pada alutsista yang bisa berakibat fatal terhadap prajurit yang bertugas," komentarnya.
Ia juga menekankan evaluasi perkembangan MEF tersebut tidak hanya untuk kapal selam, namun juga alutsista matra lainnya seperti TNI Angkatan Darat dan TNI Angkatan Udara. (Sumber: VOA Indonesia)
Berita Terkait
-
Kemhan Sebut Ada Tumpahan Minyak di Lokasi Awal KRI Nanggala-402
-
Ikut Cari KRI Nanggala-402, Singapura dan Malaysia Kirim Kapal Penyelamat
-
Negara Lain Mau Bantu Cari Kapal Selam Nanggala, DPR Persilakan Asalkan...
-
TNI Minta Data Sementara Soal Nanggala-402 Tidak Jadi Kesimpulan
-
KRI Nanggala 402 Hilang Kontak, TNI AL Menduga Penyebabnya Karena Ini
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Rupiah Menguat Meski Tertahan di Level Rp18.000, Terkuat Kedua di Asia Tenggara
-
Saat Rumah Petani Luwu Timur Rata dengan Tanah Demi Ambisi PSN
-
Tangis Bocah Berujung Viral, Ayah Terduga Pelaku Penganiayaan di Cimahi Ditangkap
-
Apa Urgensinya? Direksi BPJS TK Didesak Jelaskan Alasan Calon Pegawai Dilatih Jalan di Atas Api
-
Menguak Makna Kehilangan dalam Novel Looking for Alaska Karya John Green
-
3 Moisturizer Azeclair Terbaik yang Ampuh Hempas Jerawat dan Pudarkan Bekasnya
-
Tukin TNI dan Pegawai Kemhan Naik ke 90 Persen, DPR: Prajurit Harus Makin Profesional
-
Sekolah Nyaris Roboh, Siswa di Tasikmalaya Belajar dengan Rasa Waswas
-
Makan Kenyang Cuma Rp30 Ribu! Nikmati Promo Spesial BRI di Nikugo Selama Agustus
-
Pikap KDMP Terlibat Tabrakan Beruntun dengan Bus Peziarah di Ponorogo, Begini Nasib Penumpangnya