Suara.com - Dokter mengatakan Alexei Navalny akan mati jika terus melanjutkan aksi mogok makan. Sementara itu, ribuan pengunjuk rasa di puluhan kota di Rusia turun ke jalan pada Rabu (21/04) menuntut pembebasan Navalny.
Tim medis Alexei Navalny pada Kamis (22/04) mendesaknya untuk segera mengakhiri aksi mogok makan.
Dokter yang merawat Navalny, yang tidak diperbolehkan memeriksa pasien di koloni penjara, menegaskan pihaknya telah meminta pemimpin oposisi itu menghentikan aksi mogok makan untuk menyelamatkan hidupnya.
"Jika mogok makan berlanjut sedikit lebih lama, kami tidak memiliki orang untuk segera menanganinya," kata ahli jantung Yaroslav Ashikhmin dan empat petugas medis lainnya melalui pernyataan yang diterbitkan oleh Mediazona, situs berita independen.
Barat memperingatkan Kremlin bahwa mereka akan menghadapi "konsekuensi" jika Navalny mati.
Ribuan pengunjuk rasa turun ke jalan di puluhan kota di seluruh Rusia pada hari Rabu (21/04) menuntut pembebasan Navalny.
Dukungan untuk Navalny
Lebih dari 1.500 orang ditangkap saat polisi Rusia berusaha menindak mereka yang tidak senang dengan perlakuan terhadap Navalny.
Kepada para pengunjuk rasa, Navalny menggambarkan mereka sebagai "penyelamat Rusia," dalam sebuah postingan di Instagram. Pria berusia 44 tahun itu mengatakan dia tidak selalu menyadari "apa yang sebenarnya terjadi" di luar penjara karena hanya memiliki akses ke satu saluran televisi, tetapi pengacaranya yang datang berkunjung pada Kamis (22/04) menginformasikan perkembangan sepekan terakhir.
Baca Juga: Menteri Pertahanan Rusia Tarik Pasukan dari Perbatasan Ukraina
"Dengan tulus saya akan mengatakan, dua perasaan berkecamuk di dalam diri saya: kesombongan dan harapan," kata Navalny.
"Orang-orang berbaris di jalan. Artinya mereka tahu dan mengerti segalanya," kata Navalny.
"Mereka tidak akan menyerahkan masa depan mereka, masa depan anak-anak mereka, negara mereka. Ya, ini akan sulit dan gelap untuk beberapa waktu."
Aksi mogok makan Navalny yang ditangkap pada Januari lalu sekembalinya dari Jerman, di mana dia menghabiskan lima bulan untuk penyembuhan setelah diracuni oleh agen saraf.
Navalny menganggap Kremlin merupakan dalang upaya pembunuhan tersebut, tetapi Moskow membantah dan menyatakan tidak bersalah atas insiden itu.
Kesehatannya memburuk sejak masuk penjara. Navalny menuntut perawatan medis yang tepat untuk berbagai penyakit, termasuk sakit punggung dan mati rasa di anggota tubuhnya, tetapi permintaan itu tidak didengar, sehingga mendorongnya untuk mogok makan sejak 31 Maret 2021. ha/vlz (AFP, AP)
Berita Terkait
-
Trump 'Ngebet' Caplok 4 Juta Barel Minyak Venezuela, China dan Rusia Geram
-
Sedan Mewah BMW Disulap Jadi Senjata Mematikan di Perang Rusia vs Ukraina, Ini Penampakannya
-
Sinyal Kuat dari Kremlin: Putin Jawab Langsung Undangan Prabowo, Siap Datang ke Indonesia
-
Prabowo Ungkap Alasan Sebenarnya di Balik Kunjungan ke Moskow Bertemu Putin
-
Usai dari Pakistan, Prabowo Lanjut Lawatan ke Moscow, Bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin
Terpopuler
- 5 Mobil Toyota Bekas yang Mesinnya Bandel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Pajak Rp500 Ribuan, Tinggal Segini Harga Wuling Binguo Bekas
- 9 Sepatu Adidas yang Diskon di Foot Locker, Harga Turun Hingga 60 Persen
- 10 Promo Sepatu Nike, Adidas, New Balance, Puma, dan Asics di Foot Locker: Diskon hingga 65 Persen
- 5 Rekomendasi Sepatu Lari Kanky Murah tapi Berkualitas untuk Easy Run dan Aktivitas Harian
Pilihan
-
Petani Tembakau dan Rokok Lintingan: Siasat Bertahan di Tengah Macetnya Serapan Pabrik
-
Bos Bursa Mau Diganti, Purbaya: Tangkap Pelaku Goreng Saham, Nanti Saya Kasih Insentif!
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
Terkini
-
Bareskrim Bongkar Jaringan Judi Online Internasional, Puluhan Tersangka Ditangkap di Berbagai Kota
-
Ajang 'Pajang CV' Cari Jodoh: Fenomena Cindo Match di Mall of Indonesia
-
Hujan Deras Bikin 10 RT dan 3 Ruas Jalan di Jakarta Tergenang
-
Gus Yahya Bantah Tunjuk Kembali Gus Ipul sebagai Sekjen PBNU
-
Longsor Akibat Kecelakaan Kerja di Sumedang: Empat Pekerja Tewas
-
Polisi Tembakkan Gas Air Mata Bubarkan Tawuran di Terowongan Manggarai
-
Hujan Deras Genangi Jakarta Barat, Sejumlah Rute Transjakarta Dialihkan
-
Alasan Kesehatan, 5 Terdakwa Korupsi Pajak BPKD Aceh Barat Dialihkan Jadi Tahanan Kota
-
Mulai Berlaku 2 Januari 2026, Ini 5 Kebiasaan yang Kini Bisa Dipidana oleh KUHP Nasional
-
Misteri Satu Keluarga Tewas di Tanjung Priok, Ini 7 Fakta Terkini