Suara.com - Kepala Divisi Hukum Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andi Muhammad Rezaldy menilai pembangunan komando teritorial TNI khususnya di Papua Barat sudah tidak relevan dengan situasi sekarang ini.
Selain dikhawatirkan akan mengganggu profesionalisme dari prajurit, keberadaan komando teritorial juga ditakutkan menjadi ladang bagi politik praktis bagi TNI.
Andy menerangkan kalau saat ini setidaknya pemerintah membangun Komando Distrik Militer (Kodim) 1810 dan juga 6 markas Koramil di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Kalau dilihat dari tujuannya, pembangunan itu dilakukan untuk mendukung perang gerilya di awal-awal masa kemerdekaan.
"Menurut kami sudah tidak relevan untuk dipertahankan karena untuk mendukung profesionalisme TNI itu sendiri," terang Andy dalam acara diskusi bertajuk Cerita Tanah Papua: Otonomi Khusus dan Resolusi Konflik secara daring, Jumat (27/8/2021).
Andy mengatakan pihaknya mengkhawatirkan pengaruh yang timbul dari adanya komando teritorial tersebut. Salah satu pengaruh yang ditakuti ialah dapat mengganggu profesionalisme para prajurit TNI itu sendiri serta terlibat para politik praktis.
"Dikhawatirkan dapat mendorong prajurit TNI untuk terlibat dalam ranah politik praktis dan mengurusi hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan tugas TNI," ujarnya.
Selain itu, Andy juga menyebut kalau keberadaan Komando Teritorial tidak kompatibel dengan sistem demokrasi saat ini. Sehingga bukan hanya menjalankan tugas pokoknya sebagai penjaga pertahanan, tetapi prajurit TNI juga bisa mengurusi hal yang tidak masuk ke dalam tupoksinya.
"Bahkan tidak hanya soal pertahanan tapi juga soal keamanan, soal intelijen yang sebetulnya itu dilakukan oleh institusi lain bahkan menyentuh ke aspek sosial kemasyarakatan."
Baca Juga: Keluarga Sudah Minta Maaf karena Langgar Prokes, Pelajar di NTT Tetap Ditinju Babinsa
Berita Terkait
-
Heboh Obrolan Pejabat Negara Ngaku Dapat Vaksin Booster, Kontras: Tak Peka Kondisi
-
Somasi ke ICW Dianggap Pembungkaman, Moeldoko: Ikuti Saja!
-
Keluarga Sudah Minta Maaf karena Langgar Prokes, Pelajar di NTT Tetap Ditinju Babinsa
-
Jurnalis Juga Pembela HAM, Kerap Mendapat Kekerasan meski Dilindungi Hukum
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
Terkini
-
Buntut Napi Korupsi Ngopi di Kendari: Supriadi Dipindah ke Nusakambangan, Karutan Resmi Dicopot
-
Perang AS vs Iran Bikin Harga Kondom Melejit: Permintaan Naik, Stok Menipis
-
Viral Kue Ulang Tahun Bongkar Skandal Toko Hantu di Pemesanan Lewat Ojek Online
-
Ritual Pengusiran Setan Berujung Maut, 2 Nyawa Melayang, Pelaku Bebas dari Hukuman
-
Bukan Sekadar Aturan, Hal Ini Jadi Tantangan Terberat UU PPRT di Lapangan
-
Tunggu Pramono Anung Pulang, Paripurna Ganti Ketua DPRD DKI Digelar 30 April
-
Mengapa Tawuran di Jakarta Tak Pernah Usai? Sosiolog: Mereka Butuh Didengarkan, Bukan Dikhotbahi
-
Mensos Gus Ipul Dorong Percepatan Pembangunan Sekolah Rakyat di Gorontalo dan Pagar Alam
-
Jalur Perdagangan Selat Hormuz Ditutup Donald Trump Membuat Posisi Diplomasi Iran Semakin Terjepit
-
Peduli Kesehatan Perempuan Indonesia, Pertamina Perluas Akses Deteksi Dini Kanker Payudara