"Dan itu, tentu saja, bertentangan dengan kekuatan hegemonik sampai sekarang, yakni Amerika Serikat."
Konflik antara negara-negara besar
Wang Jisi, Presiden Institut Studi Internasional dan Strategis di Universitas Beijing, menggambarkan konflik antara negara-negara besar dalam jurnal Foreign Affairs edisi Juli/Agustus: "Amerika Serikat dan Cina terlibat dalam persaingan yang mungkin terbukti lebih bertahan lama, lebih luas, dan lebih intens daripada kompetisi internasional lainnya dalam sejarah modern, termasuk Perang Dingin."
Dilema yang dihadapi Berlin: Persaingan ini berkembang di antara sekutunya yang paling kuat, AS, dan mitra dagangnya yang paling penting, Cina. Jerman menghadapi ancaman terjebak di antara pertempuran ini, terutama dalam hal teknologi.
"AS ingin melakukan segala daya upaya untuk mencegah Cina menyalipnya di bidang teknologi utama," kata pakar AS Josef Braml kepada DW.
"Yang mencemaskan, AS sekarang ingin menghalangi modernisasi ekonomi dan militer Cina. Itulah sebabnya mereka mengandalkan strategi pemisahan ekonomi, tanpa mempertimbangkan ongkosnya bagi Eropa."
AS atau Cina?
Dengan kebijakan yang mencoba untuk melayani kedua belah pihak, pakar AS, Braml menilai Berlin tidak akan dapat melepaskan diri dari masalah ini untuk selamanya.
"Dalam pertempuran untuk memperebutkan pengaruh di bidang tekno-politik, AS akan meningkatkan tekanan pada negara-negara ketiga dan membuat mereka memilih, apakah akan melakukan bisnis dengan Amerika atau Cina."
Baca Juga: Taliban Izinkan Evakuasi 200 Warga AS yang Masih Tertinggal di Afghanistan
Saling ketergantungan ekonomi dan pembagian kerja sama di seluruh dunia saat ini, dianggap sebagai risiko dalam pemikiran geo-ekonomi dari kekuatan dunia.
Sebagai kekuatan ekonomi yang sangat bergantung pada ekspor, Jerman harus segera menemukan jawaban atas situasi baru ini.
Berita Terkait
-
Taliban Izinkan Evakuasi 200 Warga AS yang Masih Tertinggal di Afghanistan
-
Pengamat Otomotif: Tidak Semua Pabrikan Mobil Siap Beralih ke Kendaraan Listrik
-
Harga Minyak Menurun Drastis, Produksi AS Masih Terdampak Badai Ida
-
Produksi Minyak Amerika Serikat Merosot, Harga Minyak Naik 1 Persen
-
Dolar AS dan Imbal Hasil Sama-sama Kuat, Harga Emas Ambrol
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan