Suara.com - Tim Koalisi Warga LaporCovid-19 mempertanyakan angka positivity rate atau laju penularan Covid-19 di Indonesia yang diklaim pemerintah sudah berada di bawah standar aman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Relawan Data LaporCovid-19 Natasha Devanand Dhanwani mengatakan data positivity rate di Indonesia turut memasukkan data tes antigen sebagai indikator, padahal WHO hanya memperhitungkan tes PCR dan TCM saja.
"Hal ini perlu dipertanyakan karena positivity rate Indonesia mengikutsertakan hasil antigen di dalamnya, yang mana jika dalam akumulasi dan persentase hal ini terkesan lebih rendah dari pada yang sebenarnya," kata Natasha dalam diskusi virtual, Minggu (3/10/2021).
Menurut pedoman WHO, tes antigen tidak bisa dijadikan acuan untuk mengukur positivity rate karena tes antigen hanya digunakan sebagai skrining bukan diagnosis Covid-19.
"Di tanggal 30 Agustus, positivity rate dengan memasukkan hasil antigen sebesar 6,96 persen, itu juga belum di bawah 5 persen, tapi jika murni menggunakan PCR dan TCM menunjukkan angka 16,96 persen," contohnya.
Selain itu, transparansi data di daerah juga masih belum sinkron dengan data yang diumumkan pemerintah pusat, sehingga pengukurannya menjadi tidak valid.
"Testing yang tidak dibuka di level kota/kabupaten yang menjadi masalah, sehingga kita tidak tahu angka yang dites seberapa, padahal jumlah orang yang dites mempengaruhi angka positivity rate," ucapnya.
Natasha menambahkan, data angka kematian juga tidak sesuai dengan standar WHO sebab pemerintah Indonesia hanya menghitung kematian jika sudah terkonfirmasi positif Covid-19.
Sementara WHO meminta setiap orang yang meninggal dunia dengan gejala klinis Covid-19 atau hasil tesnya belum keluar tetap dihitung sebagai kematian pasien Covid-19.
Baca Juga: Indonesia Kedatangan Vaksin Tahap Ke-81, Langsung Disebar ke 7 Provinsi
"Per 18 September kami melihat masih ada sekitar 28.796 data kematian yang seharusnya dicantumkan oleh pemerintah tetapi tidak masuk," ujarnya.
"Masyarakat seakan-akan dinina-bobokan dengan data-data manis yang menyelimuti mereka," tutup Natasha.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Mendagri Tito: Mayoritas Wilayah Terdampak Banjir di Sumatera Berangsur Normal
-
Maimon Herawati Ungkap 'Silent Hero' di Balik Bebasnya 428 Relawan Global Sumud Flotilla
-
Janji Humanis Cuma Slogan? Aksi Kasar Satpol PP Usir Tukang Es Krim di CFD Jakarta Panen Kecaman
-
Sinyal Hijau Membawa Petaka? Menelusuri Penyebab Tabrakan Argo Bromo vs KRL di Bekasi Timur
-
Mangkir Dua Kali, Polisi Bakal Jemput Paksa Terduga Pelaku Pemerkosa Siswi SLB Kalideres
-
'Kami Diperlakukan Seperti Hewan!' Kesaksian Relawan Indonesia yang Ditawan Militer Israel
-
Duduk Perkara Kakek Mujiran Dipenjara Gegara Laporan PTPN I, BP BUMN Bereaksi
-
Soroti Rentetan Kasus Kekerasan, Lukman Hakim Saifuddin: Kondisi Saat Ini Sangat Mencemaskan
-
Listrik Sumatra Utara Sudah Pulih 100 Persen, PLN Minta Warga Waspada Hoaks
-
Penuh Haru! 9 WNI Korban Penyekapan Israel Akhirnya Tiba di Indonesia