Kekecewaan dan rasa frustasi para teknokrat cukup besar.
Lorong-lorong di gedung kementerian yang dulu ramai dengan karyawan kini sepi.
Sebagian pekerja hanya muncul sekali atau dua kali seminggu, tidak ada yang digaji.
Sebuah departemen yang dulu mengurus hubungan dengan negara dan lembaga donor pernah memiliki 250 pegawai dan menangani hingga 40 negara, sekarang pegawainya hanya tinggal 50 orang.
Tidak ada perempuan. Mulai banyak yang semakin jengkel dengan kepemimpinan Taliban.
"Mereka tidak mengerti masalahnya," kata seorang pejabat kementerian.
"Kami dulu memiliki ekonomi senilai 9 miliar dolar yang beputar, sekarang kami memiliki kurang dari 1 miliar dolar."
Namun, dia cepat memaklumi situasinya.
"Mengapa saya mengharapkan mereka untuk memahami kebijakan moneter internasional? Mereka adalah pejuang gerilya dengan seluruh jiwanya."
Baca Juga: Bagi Qatar, Pengakuan Pemerintah Taliban Bukan Prioritas
Pejabat pemerintah, guru sekolah, dan pegawai negeri hingga kini belum menerima gaji, sejak Taliban mengambil alih dua sampai tiga bulan lalu.
Kebanyakan mereka sekarang menjual barang-barang rumah tangga atau menumpuk utang pada tetangga dan kerabatnya demi memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Banyak yang berharap untuk bisa meninggalkan Afganistan. Seorang pejabat bank sentral mengatakan, dia sedang menunggu surat suaka untuk pergi ke negara Barat.
"Jika surat itu datang, saya pasti akan pergi. Saya tidak akan pernah bekerja untuk Taliban lagi," ujarnya. hp/ha (AP)
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
Terkini
-
Begal Petugas Damkar Ditangkap di Hotel Pluit, Polisi: Masih Ada 4 Pelaku yang Buron!
-
Makar atau Kebebasan Berekspresi? Membedah Kontroversi Pernyataan Saiful Mujani
-
Perintah Tegas Pramono ke Pasukan Kuning: Jangan Tunggu Viral, Jalan Rusak Harus Cepat Ditangani!
-
Dipolisikan Faizal Assegaf ke Polda Metro, Jubir KPK Santai: Itu Hak Konstitusi, Kami Hormati
-
Analis Selamat Ginting: Gibran Mulai Manuver Lawan Prabowo Demi Pilpres 2029
-
Andi Widjajanto: Selat Malaka Adalah Choke Point yang Bisa Seret Indonesia ke Konflik Global
-
Produk Makanan Segera Punya Label Gula, Garam, Lemak Level A-D: Dari Sehat hingga Berisiko
-
Sebut Prabowo-Gibran Beban Bangsa, Dosen UNJ Ubedilah Badrun Resmi Dipolisikan
-
Mahfud MD Bongkar 'Permainan' Pejabat di Balik Pelarian Koruptor Rp189 Triliun
-
Habiburokhman ke Kapolri: Jangan Risau Ada Oknum, yang Penting Institusi Berani Tindak Tegas