Suara.com - Seorang wanita di China berhasil beli dua rumah dengan menyisihkan 90 persen gajinya dalam waktu 9 tahun. Karena gaya hidup super hemat ini, ia kerap dicibir pelit oleh orang lain.
Menyadur Oddity Central Selasa (16/11/2021), gaya hidup minimalis memang sedang tren di China dengan ratusan ribu orang berbagi 'tips menghemat uang' di grup media sosial pribadi.
Salah satu yang sukses adalah Wang Shenai, wanita 32 tahun dari Nanjing dan anggota dari 400.000 kelompok online bernama Frugal Women's Federation.
Dia populer di antara rekan-rekannya karena teknik penghematan uangnya yang ekstrem, tapi juga memicu kontroversi di kalangan masyarakat terutama setelah wawancaranya viral.
Dalam wawancara itu, Wang Shenai duduk di program Tencent "Talking to Strangers" untuk diskusi strategi penghematan uang dan pandangannya tentang konsumerisme.
Wang tumbuh di rumah kecil yang kumuh dan begitu mendapat pekerjaan, dia mulai menabung untuk beli rumah.
Ia mengatakan paling bahagia ketika menabung dan menghabiskan uang membuatnya cemas sementara mnyisihkan uang memberinya rasa aman.
Selama sembilan tahun terakhir, Wang dan suaminya berhasil menghemat sekitar 90 persen dari pendapatan bulanan mereka sambil membesarkan dua anak.
Hasilnya, mereka bisa membeli dua rumah meskipun orang lain mengatakan gaya hidupnya terlalu ekstrem.
Baca Juga: Beli Rumah Harga 28 Juta Rupiah, Warganet: Asri Banget Lihatnya
Wang menggunakan barang bekas dan hanya menghabiskan 100 yuan untuk pakaian dalam setahun. Semua pakaiannya adalah sumbangan dari teman-teman yang tidak mau memakainya lagi.
Pengakuan ini telah menarik banyak kritikan online dengan orang-orang memanggilnya "pelit" dan mengklaim dia menderita penyakit mental.
Namun, dia mengatakan tak pernah mendorong siapa pun untuk mengikuti gaya hidupnya dan setiap orang berbeda juga bebas untuk melakukan apa yang mereka inginkan.
Wang mengatakan setelah bekerja di perusahaan periklanan dan pemasaran, dia jadi tahu bahwa merek menciptakan kebutuhan buatan untuk meningkatkan perilaku belanja sehingga orang-orang akan membayar barang yang sebenarnya tidak mampu mereka beli, hanya untuk merasa puas.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Gibran Sambut Usulan DPR, Ajak Lembaga Negara Mulai Berkantor di IKN
-
Gibran Dorong Hakim Ad Hoc di Kasus Andrie Yunus: Jaga Marwah Hukum, Jawab Keraguan Publik
-
Dorong Transisi Energi, Prabowo Minta Daerah dan TNI Serap Bus-Truk Listrik Buatan Lokal
-
Akses Terputus, Penyintas Banjir di Aceh Tamiang Desak Pembangunan Jembatan Darurat
-
Banjir Rob di Semarang Bikin Tekor Rp848 Miliar: Bagaimana Cara Mengatasinya?
-
BRI Apresiasi Kerja Sama Pegadaian SMBC Corporation, Dorong Inklusi Keuangan dan Ekonomi
-
Permintaan Global Meningkat, Wamentan Sudaryono: RI Siap Ekspor 1,5 Juta Ton Pupuk
-
Eks Dirut Indofarma Divonis 13 Tahun, Koalisi #BebaskanArief Sebut Ada Kriminalisasi Hukum
-
Kasus Mens Rea: Pandji Pragiwaksono Temui Pelapor di Polda Metro Jaya, Ini Hasil Pertemuannya