Dengan penghargaan ini, Reporters Without Borders berharap dapat menarik perhatian publik pada penderitaan Zhang Zhan.
Sejak tahun 1992, penghargaan ini menghormati karya jurnalis dan media yang telah memberikan kontribusi luar biasa dalam membela dan mempromosikan kebebasan pers.
Siapa yang memantau spionase?
The "Pegasus Project" adalah konsorsium internasional, di mana lebih dari 80 jurnalis dari 11 negara tergabung di dalamnya.
Mereka mendapatkan ide nama proyek dari program perangkat lunak spionase "Pegasus" yang dimiliki oleh perusahaan teknologi Israel NSO Group.
DW melaporkan pada tahun 2017 bahwa pemerintah Meksiko pada saat itu menggunakan perangkat lunak ini untuk memantau jurnalis.
Untuk mengungkap seluruh skandal, Proyek Pegasus adalah penerima penghargaan tahun ini dalam kategori "Impact".
Berdasarkan kebocoran lebih dari 50.000 nomor telepon yang ditargetkan oleh perangkat lunak mata-mata, para jurnalis mengungkapkan bahwa hampir 200 profesional media dimata-matai di seluruh dunia.
Nomor ponsel Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Dewan Eropa Charles Michel, dan Presiden Meksiko Andrés Manuel López Obrador diyakini juga telah dimata-matai.
Baca Juga: Kepri Terima Penghargaan Sebagai Provinsi Terbaik Dalam Indeks Kebebasan Pers
Tidak hanya itu, tokoh oposisi dan kritikus pemerintah juga menjadi sasaran pengawasan di banyak negara. Reporters Without Borders dan banyak media di seluruh dunia telah mengajukan tuntutan hukum terhadap praktik spionase ini.
"Kita membutuhkan rezim sanksi global yang secara mendasar melarang dan memberikan sanksi ekspor teknologi semacam itu ke negara-negara otoriter," kata Direktur Pelaksana Reporters Without Borders Germany, Christian Mihr.
"Karena teknologi pengawasan seperti itu memusuhi kebebasan pers, dan dalam kasus terburuk, membahayakan nyawa manusia."
Reporter yang terjebak di tengah
Jurnalis Palestina Majdoleen Hassona tidak asing lagi dengan pengawasan publik. Pekerjaannya dihalangi dan tuduhan diajukan terhadapnya oleh otoritas Israel dan Palestina.
"Saya mengkritik pelanggaran hak asasi manusia Israel dan kejahatan yang dilakukan tentara Israel terhadap jurnalis”, katanya kepada DW, "dan saya mengkritik Otoritas Palestina karena korupsi dan karena membatasi kebebasan berpendapat dan berekspresi — dan ini telah merugikan saya di kedua sisi."
Berita Terkait
Terpopuler
- Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
- Profil dan Biodata Anis Syarifah Istri Bos HS Meninggal Karena Kecelakaan Moge
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Surabaya
- Rekam Jejak Muhammad Suryo: Pebisnis dari Nol hingga Jadi Bos Rokok HS
- Prabowo-Gibran Beri Penghormatan Terakhir di Pemakaman Try Sutrisno: Momen Khidmat di TMP Kalibata
Pilihan
-
Skandal Saham BEBS Dibongkar OJK: Rp14,5 Triliun Dibekukan, Kantor Mirae Asset Digeledah!
-
Detik-detik Remaja di Makassar Tewas Tertembak, Perwira Polisi Jadi Tersangka
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
Terkini
-
Seskab: Surat Duka Cita Gugurnya Ali Khamenei Ditulis Prabowo untuk Presiden Iran
-
Tak Sekadar Silaturahmi: AHY Sebut Pertemuan Prabowo Bareng Mantan Presiden Punya Misi Khusus
-
AS Klaim Tawarkan Damai untuk Iran, Dibantah Menlu Oman
-
Nestle Indonesia Tegaskan Dampak Nyata Program Pendampingan Gizi, Dukung Upaya Pencegahan Stunting
-
Hadapi Ketidakpastian Dunia Akibat Perang, Anies Baswedan Beri Dua Nasihat ke Pemerintah
-
NATO Retak: Trump Ngambek Spanyol Ogah Bantu Perang Lawan Iran
-
Ray Rangkuti Khawatir Kemunculan Sjafrie Sjamsoeddin di Bursa Pilpres Mirip SBY 2004
-
AHY Ungkap Pesan Khusus SBY ke Prabowo saat Pertemuan 3,5 Jam di Istana
-
Operation Epic Fury, AS Kerahkan 50 Ribu Tentara dan 200 Jet Tempur Gempur Iran dari 2 Kapal Induk
-
Kapal Selam AS Tenggelamkan Kapal Perang Iran di Samudera Hindia