Salah satu kelompok yang menentang Pemerintah Suriah adalah Jabhat Al-Nusra, kelompok yang disebut dalam laporan memiliki kaitan dengan saudaranya.
Di tahun 2014, Jabhat Al-Nusra dikenal menentang ISIS dan menyediakan layanan mendasar yang sangat diperlukan sekitar. Namun, dunia menentangnya karena kelompok ini berpihak dengan Al Qaeda.
Menurut Amnesty International, kelompokini pernah dituduh atas tindakan penculikan, penyiksaan sampai eksekusi.
Pada tahun 2013, Australia mencatat Jabhat Al-Nusra sebagai organisasi teroris. Beberapa bulan kemudian, Kepolisian Australia memperingatkan Imranjika ia mengirim uang untuk urusan konflik Suriah, ia terhitung melanggar hukum.
Di bulan September, saudara Imran dilaporkan meninggal karena bom bunuh diri. Pada November, ia mendapat panggilan telepon dari kakaknya, yang berada di Suriah.
"
"Kakak saya mengatakan cuma punya satu dolar, dan meminta bantuan. Jadi saya bilang, 'Tidak apa. Kasih tahu caranya dan saya akan mengirim uang'."
"
Imran sadar tindakan ini akan mengirim sinyal ke pihak berwajib Australia, jadi ia melakukannya menggunakan haperahasia, nama palsu, dan berkomunikasi menggunakan kode dengan saudaranya.
Baca Juga: Kuasa Hukum Tak Terima Sidang Online, Pembacaan Dakwaan Kasus Terorisme Munarman Ditunda
"Saya berpikir, orang pasti memahami hal ini sebagai hal manusiawi dan ... mengerti bahwa dalam hal ini saya cuma ingin mengirim uang ke kakak saya, yang membutuhkannya waktu itu."
Uang tersebut dikirimkan ke kakaknya, namun Imran juga mendukung digulingkannya rezim Assad dan menyuruh kakaknya untuk menggunakan uang tersebut untuk keperluan ini bila dibutuhkan.
Dari waktu ke waktu, uang yang terkirim mencapai angka $US44,000 (lebih dari Rp635 juta) untuk menutup pengeluaran kelompok empat pria tersebut selama setahun.
"Sesederhana itu. Tidak peduli apakah Anda orang Islam, Yahudi, atau Kristen, atau ateis. Keluarga adalah keluarga," ucap Imran.
"
"Kakak saya meminta bantuan. Saya membantunya. Sesederhana itu saya melihatnya."
"
Imran menekankan seandainya kakaknya tidak seputus asa itu, ia tidak akan mengirim uangnya. Sampai ketika kakaknya meninggal di Suriah, Imran tidak lagi mengirim uang ke luar negeri. Ia mengatakan tidak ada maksud apa pun untuk membantu mendanai jihad.
"Konflik Afganistan sudah ada sejak 2001. Konflik Irak sudah ada sejak 2003. Di mana-mana sudah ada konflik yang berkaitan dengan Muslim dan jihad serta perang dan lainnya selama berpuluh-puluh tahun," katanya.
"Mengapa harus menunggu sampai tahun 2014 untuk mulai mulai berkomitmen untuk mendukung jihad?"
Masalahnya, Imran tahu bahwa perbuatannya melanggar hukum dan tidak mengawasi bagaimana uang yang ditransfernya akan digunakan.
"Terlepas benar atau salah, sekarang saya mengerti kalau kakak saya terhitung sebagai pendukung ketika itu. Jadi, seharusnya saya tidak melakukan hal itu."
Masalah Imran terkait hukum ini semakin parah ketika ia menolong seorang pria lain menarik uang untuk membantu perjalanannya ke Suriah. Pria ini ditangkap basah oleh petugas Imigrasi di bandara. Paspornya langsung dinonaktifkan.
Pria ini juga semakin diradikalisasi dan mulai terhubung dengan penjara di Sydney yang ada hubungannya dengan ISIS. Ia ditemukan mengibarkan bendera ISIS dan menyimpan senjata, seperti busur dan anak panah, senapan, pisau, dan bensin 10 liter yang dapat digunakan untuk membuat bom Molotov.
Pria tersebut dituduh merencanakan serangan terorisme di Australia dan dipenjara 17 tahun.
Imran mengatakan tidak memiliki hubungan dengan rencana-rencana ini dan tidak membenarkannya. Ia mengatakan kelompok kakaknya di Suriah menentang ISIS.
Ia juga mengatakan tidak memiliki kebencian terhadap Australia dan warganya. Ia mengira pihak berwajib akan melihatnya sebagai seseorang yang terjebak dalam masalah keluarga, bukan politik.
"Apapun kepercayaan kami terhadap situasi di luar negeri, semuanya berdasarkan perasaan," kata Imran. "Semuanya adalah karena perasaan saya bagi mereka yang tertindas pemerintah di sana.
"Dan ya, saya sepenuh hati tentang hal ini, tapi bukan berarti saya berniat jahat ... saya percaya mereka tidak melihat saya sebagai ancaman."
Imran dijatuhi hukuman karena dianggap mendanai organisasi terorisme, pelanggaran yang dapat memenjarakannya selama 25 tahun.
Terisolasi dalam tahanan
Ketika di penjara, Imran tidak memiliki akses ke dunia luar. Ia mengatakan tidak boleh menerima telepon di dua minggu pertama meski sudah memintanya setiap hari, dan hanya mendengar perkembangan kasusnya dari tahanan lain.
"Masa itu sangatlah membingungkan. Saya sangat bingung. Tidak tahu apa yang terjadi."
Imran menghabiskan 90 hari dalam tahanan. Ia diberitahu itu demi keselamatannya sendiri.
"
"Jadi ibarat 24 jam lockdown," katanya. "Mereka menyediakan ruangan terpisah yang terhubung dengan ruangan saya. Itu adalah sel lain, yang dinamai pekarangan. Sangat dingin, terbuat dari bata dan beton."
"
Satu-satunya cara Imran berkomunikasi adalah dengan berteriak melalui celah ventilasi di bawah pintu sel untuk bisa berkomunikasi dengan tahanan lain. Ia mengatakan tidak diberikan kesempatan untuk menghirup udara segar dua hari sekali, sebagaimana tercatat dalam aturan.
Penelitian menemukan bahwa isolasi dalam penahanan bisa menimbulkan masalah psikologis yang dampaknya permanen, bahkan jika penahanan hanya beberapa hari.
ABC telah bertanya pada pihak penjara Queensland mengenai situasi Imran ini, namun mereka menolak untuk menjawab pertanyaan spesifik dan hanya mengatakan"tahanan ditempatkan dan diperlakukan berdasarkan penilaian risiko masing-masing individu".
Alasan untuk berharap
Di hari penjatuhan hukumannya, Imran ditempatkan di bagian belakang mobil van dan dibawa ke Pengadilan Tingkat Tinggi.
"
"Saya banyak shalat, doa, meminta yang terbaik. Saya mulai berpikir ada kemungkinan bisa pulang."
"
Ketika itu, pengacaranya berencana membandingkan kasus Imran dengan Geoffrey Hughes, yang dijatuhkan hukuman karena membantu kudeta militer terhadap Pemerintah Cameroon.
Namun, hakim tidak setuju. Imran dijatuhi hukuman empat setengah tahun di penjara. Penahanannya ditambah delapan bulan karena membuat ancaman atas hutang yang disengketakan yang dia yakini berutang kepada salah satu temannya.
'Saya seperti tidak pernah ada'
Di balik sel penjara, Imran menghabiskan waktunya membaca Alquran dalam Bahasa Arab. Ini membantunya melalui malam-malam yang sulit.
Selain itu, ia juga dikuatkan oleh kunjungan keluarganya.
Ia mengatakan masuk penjara karena berusaha membantu keluarganya, namun pada akhirnya malah kehilangan mereka.
Sebelum aturan anti-terorisme diberlakukan, penghuni tahanan seperti Imran memiliki hak pembebasan bersyarat bila hukumannya di bawah 10 tahun penjara.
Namun ketika Imran dihukum, aturannya sudah berubah.
Kepala komunitas bernama Ali Kadri, yang bekerja dengan remaja yang berisiko terkena radikalisasi mengatakan ia percaya bahwa sistem keadilan perlahan terkikis karena dogma dalam agen pengawas hukum.
"Opini ini dimiliki polisi: mereka yang diradikalisasi tidak bisa lagi kembali normal," kata Ali.
"Jadi apa yang harus dilakukan pada mereka? Tidak ada jawaban jelas untuk mengetahui bagaimana seseorang bisa diradikalisasi. Namun mereka bisa dianggap sekelompok orang dengan risiko tinggi radikalisasi. Dengan ini hukuman dan penahanan juga bisa terpengaruh."
Karena ditahan, Imran juga tidak sempat bertemu dengan saudaranya yang sekarat karena terkena kanker.
"Beratnya 60 kilogram. Tinggal tulang dan kulit," kata Imran.
"Dia sudah seperti mau meninggal. Saya cuma bertemu dengannya satu jam persis. Mereka bahkan tidak memberikan ekstra lima detik."
Imran tidak pernah mendapatkan kesempatan bebas bersyarat. Ia menjalankan hukuman penjara itu seluruhnya. Ia dapat pembebasan bersyarat atas penahanan karena pelanggaran lain.
"
"Saya hanya jadi berita kemarin sore ...bagaimana orang-orang tidak memikirkan saya lagi dan ini menunjukkan bagaimana saya sudah seperti hampir tidak ada. Saya bukan siapa-siapa," katanya.
"
*Nama Imran bukanlah yang sebenarnya untuk melindungi identitasnya sehingga bisa menceritakan kisahnya.
**Ilustrasi dalam berita ini hanya untuk melengkapi dan tidak menggambarkan pria yang ABC wawancara.
Diproduksi oleh Natasya Salim dari laporan dalam bahasa Inggris
Berita Terkait
-
Mendagri Dorong Penguatan Penggunaan Soft Approach dalam Mencegah Ekstremisme & Terorisme
-
Inggris Naikkan Level Bahaya Terorisme Usai Penusukan Orang Yahudi di Golders Green
-
Sering Terjadi Penembakan, Australia Godok Aturan Jaga Ketat Perayaan Orang Yahudi
-
Polisi Inggris Nyatakan Penusuk Yahudi Sebagai Teroris, Ini Identitas Pelaku
-
Peneror Konser Taylor Swift Menyesal, di Apartemennya Ditemukan Bahan Pembuatan Bom
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
- Surat Edaran Rahasia Kejagung Bocor, Jaksa Diminta Waspada dan Dilarang Berkomentar soal Perkara
- Bedak Apa yang Bisa Menghilangkan Flek Hitam? Ini 5 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 4 Toko Online Terpercaya untuk Beli Sepatu Lari di Indonesia, Dijamin Original
Pilihan
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
-
Polri Tetapkan Febrie Adriansyah dan DR Tersangka Kasus Dugaan Korupsi serta TPPU
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
Terkini
-
Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Resmi Ditetapkan, Apa Maknanya?
-
BNI Dorong UMKM Batik Bertransaksi Digital melalui Promo di Puspa Nuswantara 2026
-
Cak Imin Tegaskan PBNU Butuh Pemimpin Baru: Yang Lama Nggak Ada Perubahan
-
Rekam Jejak Rudi Margono Plt Jampidsus Baru, Eks Jaksa KPK Pernah Bongkar Kasus Jiwasraya-Asabri
-
Regulasi Cuti dan WFA ASN Pada Hari Pertama Sekolah
-
Lantik Pengurus Aceh, Bahlil Tegaskan Golkar Dukung Prabowo Sampai Selesai
-
Profil Tan Kian, Bos Pacific Place yang Terseret Kasus Korupsi PLN hingga Asabri
-
Norwegia Tersingkir dari Piala Dunia, Cak Imin Pindah Haluan Dukung Argentina
-
Kematian Misterius Kauana Bilhar Influencer Brasil, Jatuh dari Lantai 27 di Dubai
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan