Suara.com - Seberapa besar kerusakan akibat gunung berapi di Tonga masih belum diketahui secara pasti, tapi meletusnya gunung berapi Hunga Tonga-Hunga Ha'apai membuat peringatan tsunami sempat dikeluarkan ke sejumlah negara, termasuk di pesisir timur Australia.
Ini yang kita ketahui soal letusan gunung dan mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Apa itu Hunga Tonga-Hunga Ha'apai?
Secara teknis, gunung berapi yang meletus di Hunga Tonga-Hunga Ha'apai dikategorikan sebagai gunung berapi bawah laut, jelas Profesor Emeritus Richard Arculus dari Australian National University.
Tapi seperti yang ditunjukkan Profesor Arculus, juga yang bisa Anda lihat dari gambar di bawah ini, kawah gunung berapi berada di atas air.
Kawah ini berada di antara dua daratan, yakni Hunga Tonga dan Hunga Ha'apai.
Lembaga antariksa NASA mengatakan dua daratan ini masih "muda" dan terbentuk karena ledakan.
Apakah pernah meletus sebelumnya?
Jawabannya iya dan Profesor Arculus mengatakan gunung berapi ini "cukup aktif dalam 15 tahun terakhir".
Letusan di tahun 2015 pernah juga menjadi pemberitaan, karena awan abu dari ledakan membuat sejumlah maskapai penerbangan membatalkan penerbangan masuk dan keluar dari Tonga.
Pada saat itu, Peter Lechner, ahli meteorologi Otoritas Penerbangan Sipil Selandia Baru mengatakan kepada Radio Selandia Baru jika gunung berapi tersebut menyemprotkan abu vulkanik lebih dari 9.000 meter ke atas udara.
Baca Juga: Masuk Media Asing, 3 Orang Digulung Ombak Bono Jadi Berita Tsunami Tonga
Profesor Arculus juga mengatakan gunung berapi itu pernah meletus pada tahun 2009, 1988, 1937, dan 1912.
Jadi apa yang terjadi kali ini?
Profesor Arculus menggambarkannya sebagai "ledakan besar menyerupai lubang angin."
Rekaman dari satelit menunjukkan ledakan di permukaan laut menyebar dan menjauh.
Profesor Arculus mengatakan awan abu, yang terlihat dari luar angkasa, adalah hasil interaksi air dan materi terfragmentasi panas.
Seberapa kuat letusan ini?
Sebagai perbandingan, Profesor Arculus mengatakan itu kekuatannya berkali-kali lebih kuat daripada ledakan gunung di White Island.
Gunung berapi White Island meletus pada Desember 2019 dan menewaskan 22 turis yang mengunjungi pulau tersebut, termasuk 17 warga Australia.
Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Selandia Baru mengatakan tidak ada laporan resmi tentang kematian atau cedera akibat letusan gunung berapi di Tonga, karena komunikasi yang masih terbatas.
Tapi setelah letusan gunung terjadi, negara kepulauan Tonga dilanda tsunami setinggi satu meter. Para saksi mata mengatakan letusan juga membuat goncangan selama beberapa menit.
Biro Meteorologi Australia telah mengeluarkan peringatan laut di negara bagian New South Wales, Australia, juga Pulau Lord Howe dan Pulau Norfolk.
Di negara Chili, Kantor Darurat Nasional memerintahkan evakuasi di beberapa daerah pesisir karena ada tsunami berskala kecil.
Claudio Aldea, Deputi Direktur Operasi Kantor Darurat Nasional di Chili sudah meminta masyarakat di wilayah Coquimbo dan Los Rios mengungsi ke zona aman, setidaknya 30 meter di atas permukaan laut.
Peringatan tsunami juga dikeluarkan untuk Selandia Baru, Jepang, Hawaii, Alaska, dan pantai Pasifik di Amerika Serikat.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Grace Legge, Ahli Meteorologi Senior untuk Biro Meteorologi Australia memperingatkan situasinya akan tetap berbahaya dan berubah.
Letusan bawah laut jauh lebih sulit diprediksi daripada pola cuaca atmosfer atau gempa bumi, katanya.
Profesor Arculus mengatakan aktivitas gunung berapi dapat berlanjut selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, tapi sulit untuk memprediksi kapan ledakan kuat lainnya akan terjadi lagi.
"
"Ini mungkin belum berakhir," katanya.
"
Profesor Arculus mengatakan 'pumice' atau batu apung, yang merupakan batuan vulkanik ringan, akan mencapai pantai timur Australia dalam beberapa bulan ke depan.
Batu itu bisa mengapung, mudah hancur, dengan warna abu-abu dan penuh lubang.
Diproduksi oleh Erwin Renaldi dari laporan dalam bahasa Inggris
ABC / Wires
Tag
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
Pilihan
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
Terkini
-
Jabat Sekjen Kementan, Harta Mertua Dwi Sasetyaningtyas Tembus Rp3 Miliar Lebih
-
Tolak Hukuman Mati ABK Fandi Ramadan di Kasus 2 Ton Sabu, Legislator DPR: Bukan Aktor Dominan
-
Polisi Ungkap Kendala di Balik Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Konten Kreator Cinta Ruhama
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Propam PMJ Datangi SPBU Cipinang, Usut Oknum Aparat Diduga Aniaya Pegawai Hingga Gigi Copot
-
Balas Pledoi Kerry Riza, Jaksa Minta Hakim Tolak Seluruh Pembelaan Anak Riza Chalid
-
Lasarus Klarifikasi Soal Penutupan Gerai Alfamart-Indomaret: Bukan Ditutup, Tapi Dibatasi
-
Penampakan Before-After TNI Bersihkan Lumpur di Rumah Warga Terdampak Bencana di Aceh
-
Update RUU PPRT dan Revisi UU Ketenagakerjaan di DPR, Partisipasi Publik Digelar Mulai 15 Maret
-
Tragis! Ibu di Sumbawa Tega Bakar Anak Gegara Tolak Cari Pakan Ternak